bank bjb
  

Produsen Tahu-Tempe: Subsidi Kedelai, Solusi Tekan Kenaikan Harga

  Selasa, 05 Januari 2021   Nur Khansa Ranawati
Produsen Tahu-Tempe: Subsidi Kedelai, Solusi Tekan Kenaikan Harga
Pekerja menyelesaikan produksi tempe di rumah Produksi Tempe, Jalan Mekarsari, Baleendah, Kabupaten Bandung, Senin (4/1/2021). (Ayobandung.com/Kavin Faza)
BANDUNG, AYOCIREBON.COM -- Produsen tahu-tempe di Jawa Barat berharap pemerintah dapat memberikan subsidi pembelian kedelai impor dari Amerika Serikat. Hal tersebut guna menekan kenaikan harga tahu-tempe di pasaran Jabar yang mau tidak mau harus terjadi.
 
Ketua Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) Jabar Asep Nurdin mengatakan, saat ini para produsen tahu-tempe di Jabar terpaksa menaikkan harga produk mereka di pasaran sebanyak 10%-30%. Hal tersebut adalah konsekuensi dari meningkatnya harga kedelai di pasaran.
 
Oleh karenanya, Asep mengatakan, untuk jangka pendek pihaknya berharap pemerintah dapat memberikan subsidi hingga Rp3.000 rupiah per kilogram sehingga harga tahu-tempe tak perlu naik. Adapun selisih kenaikan kedelai per kilogramnya saat ini ada di kisaran Rp2.000-Rp3.000.
 
"Kalau jangka pendek ini kita ingin berbagi dengan masyarakat yang kena pandemi, maka pemerintah kasih subsidi lah Rp1.000-Rp3.000, subsidi harga sehingga kita tidak perlu menaikkan harga (tahu-tempe)," ungkapnya dikutip dari Ayobandung.com, Senin (4/1/2020).
 
Namun, dia menyebutkan, pihaknya lebih menginginkan agar pemerintah betul-betul menggalakan program swasembada kedelai dengan lebih serius. Sehingga, para produsen makanan dengan bahan baku kedelai seperti tahu dan tempe tidak lagi tergantung dengan kedelai impor yang harganya fluktuatif. Selama ini, pasokan kedelai di Jabar banyak berasal dari Amerika Serikat.
 
"Harga kan ditetapkan oleh eksportir dari Amerika, maka dari itu kita ingin pemerintah lebih serius melakukan program swasembada kedelai. Kan sudah ada programnya, tapi tidak jalan. Kalau swasembada berhasil, kita lebih merdeka," ungkapnya.
 
Dia menyebutkan, sebelum menaikkan harga tahu-tempe di pasaran, pihaknya sempat menggelar mogok produksi pada 1-3 Januari 2020. Tujuan utamanya adalah untuk memberitahu masyarakat bahwa setelah tanggal tersebut harga tahu-tempe akan meningkat.
 
Sebelum mogok di awal tahun ini, dia mengatakan para produsen tahu-tempe juga sempat menggelar aksi serupa setidaknya sebanyak dua kali sejak 2008. Meskipun subsidi pemerintah bukan tujuan utama dari aksi mogok tersebut, dia menyebutkan, hal itu dapat meringankan beban masyarakat.
 
"Tahu-tempe itu kan makanan masyarakat menengah ke bawah sebenarnya. Kalau pemerintah mau lihat, konsumen di beberapa negara naik. Maka kasihlah subsidi, maka kita juga akan turunkan lagi harga tahu-tempenya," ungkapnya.
 
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung Elly Wasliah mengatakan kenaikan harga kedelai di Jabar termasuk di Kota Bandung disebabkan oleh harga kedelai dunia yang mengalami kenaikan. Selain itu, pasokan kacang kedelai impor asal Amerika Serikat mengalami hambatan.
 
Selama ini, kacang kedelai impor yang digunakan Indonesia berasal dari negara tersebut. Dia mengatakan, hambatan tersebut adalah adanya tambahan permintaan dari Tiongkok.
 
Menurut informasi dari Kementerian Perdagangan, Elly menyebutkan, Tiongkok menambah kapasitas impor kacang kedelai dari Amerika Serikat menjadi dua kali lipat. Dari  semula 15 juta ton menjadi 30 ton.
 
"Seharusnya bulan ini masuk. Kemarin diborong. Kemungkinan bulan depan, untuk mengisi kekosongan makanya mendatangkan dari Kanada," ungkap Elly saat menyambangi pengrajin tahu Cibuntu, Senin (4/12/2020).

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar