Yamaha

Pelanggan Keluhkan Gangguan Air, PDAM Kota Cirebon Beri Penjelasan

  Kamis, 14 Januari 2021   Erika Lia
ilustrasi gangguan air. (www.klikbontang.com)

KESAMBI, AYOCIREBON.COM -- Sejumlah pelanggan Perusahaan Daerah/Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Giri Nata, Kota Cirebon, mengeluhkan aliran air yang tak lancar dan tanpa didahului pemberitahuan. Kelabakan, tak sedikit di antara mereka yang akhirnya membuat sumur bor.

Salah seorang pelanggan, Diah Anggraeni (33) mengaku, sepanjang 4 hari terakhir keluarganya kesulitan beroleh air bersih. Aliran air dari PDAM yang selama ini diandalkannya mengalir tak lancar.

"Dari sekitar Senin (11/1/2021) air enggak lancar ngalirnya. Senin pagi masih oke (mengalir), eh siang hari malah mati (tidak mengalir)," ungkap Diah yang tinggal di Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon ini kepada Ayocirebon.com, Kamis (14/1/2021).

Keluarganya pun terpaksa memanfaatkan air sumur yang dimiliki, meski kualitas air sumur tak sebaik PDAM yang jernih dan tak berbau. Air sumur sangat jarang mereka gunakan, kecuali saat darurat seperti ketika aliran air PDAM tak lancar seperti sekarang.

Selama 4 hari belakangan, imbuhnya, air PDAM sempat mengalir pada Rabu (13/1/2021) siang. Itu pun alirannya tak sederas lazimnya.

Masa itu pun dimanfaatkannya untuk menampung air sebagai persediaan. Langkah itu dirasa tepat ketika Rabu sore air kembali tak mengalir hingga Kamis pagi ini.

"Dari senin sampai hari ini (Kamis) air ngocor cuma kemarin aja. Cuma enggak deras, lumayan bisa nampung air," ujarnya.

Dia mengaku, tak menerima pemberitahuan ihwal situasi itu sebelumnya dari pihak PDAM. Karena itu, Diah tak dapat menyembunyikan kekecewaannya.

Bila saja PDAM lebih dulu menginformasikan situasi yang akan dihadapi, dia meyakini, para pelanggan akan memahami. Sayangnya, selama ini mereka tak pernah menerima pemberitahuan, baik melalui surat edaran langsung maupun melalui media sosial resmi PDAM sendiri.

"Kalau PDAM sebelumnya mengumumkan, para pelanggan pasti antisipasi," katanya.

Bila pun kelak kejadian serupa harus dialami para pelanggan, dia berharap waktu air mengalir tak terjadi pada malam hari atau dini hari. Mereka selalu kesulitan menampung air bila aliran macet saat waktu istirahat.

AYO BACA : Ada Temuan Baru dalam Kasus Dugaan Rekayasa Buku Nikah Ketua KPAID Cirebon

Asa lain pun disampaikannya berkaitan dengan intensitas aliran air. Biasanya, pada masa macet, air hanya mengalir selama 2 jam saja dan itu dinilainya tak cukup.

"Tolong, jangan malam-malam atau subuh. Itu pun waktunya cuma 2 saja mengalirnya, masak kita mau bergadang nungguin air?" bebernya setengah berkelakar.

Diah mengaku, pada suatu waktu pernah menghubungi layanan pelanggan PDAM. Namun, solusi yang diberikan dianggap tak strategis, justru terkesan memberatkan.

Dirinya ketika itu disarankan memasang pompa air yang berpotensi menaikkan tagihan listrik rumahnya. Di samping itu pula, pula langkah tersebut sebenarnya tak diizinkan.

"Waktu itu saya malah tambah bingung. Harapan kami kan perbaikan situasi dari pihak PDAM," tandasnya.

Pengalaman Diah pernah pula dialami sejumlah pelanggan PDAM lainnya. Ani, seorang warga Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, beberapa kali mengalami macet aliran air PDAM.

"Di komplek perumahan tempat tinggal beberapa kali air enggak ngalir tanpa pemberitahuan. Terakhir kejadian seperti itu 2 minggu lalu selama 8 hari air enggak ngocor, baru mengalir malam hari saja," ujarnya.

Berbeda dengan Diah yang memiliki sumur sendiri, Ani dan para tetangganya terpaksa mengandalkan air dari sumur musala yang ada di kawasan tempat dia tinggal. Beruntung, air sumur musala jernih.

Saat ini, aliran air telah berjalan normal. Ani yang sudah menjadi pelanggan PDAM Tirta Giri Nata sejak 2006 itu mengatakan, gangguan air di lingkungan tempatnya tinggal terjadi sekitar 2019.

"Sebelumnya sih enggak pernah (gangguan) sama sekali," cetusnya.

Mengantisipasi gangguan serupa di masa depan, sebutnya, tak sedikit tetangga yang kini membuat sumur bor. Ketika terjadi gangguan air PDAM, mereka dapat memanfaatkan air dari sumur bor sehingga kebutuhan mereka tetap terpenuhi.

AYO BACA : Jangan Kasih Tahu Orang Gendut soal Ukuran Tubuhnya, Ini Alasannya

Pembuatan sumur bor salah satunya dilakukan pelanggan PDAM lain di Kelurahan Kecapi, Kecamatan Harjamukti, Nunung. Menurutnya, di kawasan pemukimannya aliran air selalu mati sejak subuh hingga malam hari.

"Nanti nyala (mengalir) lagi pukul 21.00 WIB. Makanya saya bikin sumur bor karena pas siang dan butuh air kan repot kalau airnya enggak ada," tuturnya.

Terpisah, Direktur Utama PDAM Tirta Giri Nata, Sofyan Satari menjelaskan, gangguan air terjadi akibat ada pipa distribusi yang pecah.

"Ada pipa distribusi berdiameter 300 mm di Majasem (Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi) yang pecah," terangnya.

Sejauh ini, dia mengklaim upaya perbaikan tengah dilakukan, salah satunya mengganti pipa PVC berdiameter 300 mm. Diakuinya, akibat kejadian itu, para pelanggan di beberapa kawasan se-Kota Cirebon mengalami gangguan aliran air.

Pecahnya pipa itu sendiri terjadi di tengah masa uji coba penampungan air (reservoar) berkapasitas 9.000 m3 dan jaringan distribusi utama (JDU) yang baru rampung dibangun beberapa waktu lalu. Sejauh ini, pihaknya masih memetakan dan mengawasi uji coba, sebelum kelak reservoar dan pipa JDU berdiameter 600 mm itu akan memberi tekanan air yang lebih besar pada pipa distribusi.

"Penyesuaian tekanan pada pipa distribusi perkotaan terus kami lakukan, sebelum dan selama masa uji coba reservoar dan JDU baru. Kami alirkan airnya dengan sangat hati-hati," janjinya.

Dia tak menampik masih ada permasalahan penyaluran air PDAM di Kota Cirebon. Setidaknya terdapat 3 isu utama, masing-masing masalah penampungan, JDU, dan jaringan distribusi perkotaan.

Persoalan penampungan dan JDU sejauh ini telah ditangani melalui pembangunan yang telah dirampungkan. Masalah lain yang tersisa berupa jaringan distribusi perkotaan.

"Setelah penampungan dan JDU dibangun, nanti tinggal mengganti jaringan distribusi kepada konsumen," cetusnya.

Langkah itu diperlukan mengingat tingginya tekanan air dari reservoar yang mengalir melalui JDU baru. Usia jaringan pipa distribusi perkotaan yang mengalir ke konsumen kini 47 tahun.

Usia itu telah jauh melewati masa ideal usia teknis sebuah pipa dengan batas maksimal 20 tahun. Penggantian seluruh jaringan pipa distribusi perkotaan sendiri memerlukan dana investasi bernilai besar.

Karenanya, lanjut pria yang akrab disapa Opang ini, PDAM Kota Cirebon akan melakukan penggantian secara bertahap sesuai dana yang tersedia. Sedianya, penggantian sistem saluran distribusi air dilakukan sejak 2000, namun barundapat terlaksana 2021.

Lebih jauh, pihaknya berharap keberadaan reservoar dan JDU baru tersebut akan meningkatkan pelayanan air bersih di Kota Cirebon.

AYO BACA : Mahfud MD Janji tak Tutupi Fakta Penyelidikan Komnas HAM di Pengadilan


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar