Yamaha

Mbok Diana Sastra, Metamorfosis Bidadari Pantura Nyentrik yang Sempat Curi-curi Kosmetik

  Rabu, 03 Februari 2021   Erika Lia
Diana Sastra, penyanyi tarling Cirebon yang nyentrik. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

WERU, AYOCIREBON.COM -- Nama Diana Sastra bukanlah nama asing bagi penikmat musik tarling Cirebon. Proses metamorfosisnya sempat diwarnai kisah curi-curi kosmetik, sebelum akhirnya berwujud Bidadari Pantura (Goddess of Pantura).

Selama hampir 24 tahun, Diana terbang dari panggung ke panggung, mulai performa langsung pada kontes menyanyi, hajatan, maupun konser musik, hingga melalui layar platform digital. Perempuan yang diakrabi panggilan Mbok (Ibu, Jawa) ini konsisten dengan penampilan nyentriknya.

Proses

Sebelum rekat dengan status penyanyi tarling kelas 1 di Cirebon, Diana harus tertatih menapaki liku hidupnya. Lahir di Jakarta pada 14 Maret 1978, anak bungsu dari 10 bersaudara ini harus tumbuh hanya di bawah asuhan sang ibu sepeninggal wafat sang ayah.

"Sebetulnya di Jakarta 'numpang' lahir saja karena orang tua dari Desa Megu sini (Desa Megu Gede, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon). Cuma kebetulan pernah usaha di Jakarta," ungkapnya kepada Ayocirebon.com.

Diana mengaku datang dari keluarga tak mampu. Untuk menghidupi keluarga, sang ibu berjualan nasi tak jauh dari sebuah pabrik roti.

Dia terkadang harus tidur di warung. Ketika hujan, atap warung yang bocor membuat dia harus menumpang tidur di pabrik dengan beralaskan kardus.

Situasi ekonomi keluarganya membuat dia pernah harus menunggak uang sekolah (sumbangan pembinaan pendidikan/SPP). Uang sakunya pun tak seberapa sehingga dia kerap kali membekali diri dengan roti agar dapat menahan lapar sepanjang jam sekolah.

"Saya dulu bawa roti bantal karena bentuknya mirip bantal mini. Seharusnya di pabrik, roti itu dipotong-potong persegi panjang sebelum dioles selai," ucap Diana yang pernah menempuh pendidikan di SD Megi Gede 2 dan SMPN 3 Kabupaten Cirebon ini.

AYO BACA: Chord dan Lirik Tarling Pemuda Impian versi Diana Sastra 

Untuk membuat rotinya lebih mengenyangkan, Diana hanya membagi 2 roti itu, sebelum kemudian dilapisi margarin dan gula. Roti ala Diana tersebut biasanya disantap saat jam istirahat pertama, dari 2 kali waktu istirahat sepanjang jam sekolah.

Keterlibatan Diana dalam musik tarling sendiri tak lepas dari hobinya mendengarkan musik tarling dan dangdut. Diana kecil bahkan dinilai memiliki suara merdu oleh orang-orang di sekitarnya hingga ia kerap mengikuti lomba-lomba menyanyi tingkat RT, yang biasanya digelar saat perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus.

Bahkan, tak sedikit di antara mereka yang memandang suara Diana cocok dengan musik tarling Cirebon. Mendengarkan saran itu, dia pun mendalami tarling, salah satunya rajin mengamati vokal penyanyi dari kaset lagu tarling berjudul Sepayung Loroan (Sepayung Berdua) seharga Rp7.500 yang dibelinya.

Ketika itu 1997, Diana duduk di bangku SMA pada SMEA Budi Tresna di Desa Watubelah, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon. Bermodalkan nekat, dia mengikuti sebuah kontes menyanyi di Radio Sturada, Jalan Tuparev, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon.

"Modal nekat saja, ditemani sepupu-sepupu saya, walaupun saat saya menyanyi mereka pergi menjauh karena malu," tuturnya seraya terkekeh kala mengenang masa itu.

AYO BACA: Konser Tarling Daring Diana Sastra Undang Antusiasme Tinggi Penggemar

Alih-alih menang, Diana bahkan tak lolos sebagai finalis. Namun, salah satu juri lomba, Teti Tiara, membukakan pintu lain baginya.

Diana diajak bergabung bersama rombongan pertunjukan untuk menyanyi di atas panggung hajatan yang dikelola Teti. Sempat sangsi dengan ajakan itu, Diana akhirnya menerima setelah didorong para sepupunya.

tarling-Diana-Sastra2
Dianas Sastra di antara artikel-artikel ihwal tarling dan dirinya yang dimunat beragam media massa cetak. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Penyanyi yang pernah menelurkan lagu tarling ciptaannya sendiri berjudul "Pengen Dadi Siji" ini lantas mulai memperhatikan hal lain, di luar suaranya. Beraksi di atas panggung bersama penyanyi lain yang sudah lebih dulu eksis di depan penonton yang lebih banyak, tentunya berbeda dengan lomba menyanyi solo tingkat RT, bahkan di dalam studio radio.

Diana merasa harus lebih menaruh atensi pada tampilan fisiknya kali ini, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia pun mulai mencari pakaian dan sepatu yang hendak dikenakannya.

Terkendala ekonomi keluarga, Diana remaja terpaksa meminjam seluruh kebutuhan manggungnya. Beruntung, para sepupu membantunya menyiapkan semua itu.

"Sampai make up (kosmetik) punya emaknya dicolong (dicuri, dalam konteks ini pinjam pakai tanpa pemberitahuan) sama dia. Ketika saya tanya nanti bagaimana akibatnya, dia jawab, 'soro temen, kaderan jarang paes, moso'o kelangano (biar saja, toh ibuku jarang berhias, tak mungkin merasa kehilangan)'," bebernya menirukan dialog antara dirinya dengan sang sepupu dalam bahasa Jawa Cirebon ketika itu.

AYO BACA: Bantu Penanganan Covid-19, Artis Tarling Cirebon Diana Sastra #ngamendirumahaja 

Itu adalah momen berkesan bagi Diana. Dukungan sepupunya dianggap berarti, sekalipun kemudian kosmetik yang telah dipinjam pakainya itu harus dihapus sebab pimpinan rombongan pertunjukan kemudian mendandaninya dengan kosmetik lain.

Kegelisahan mendera Diana sebelum tampil perdana di depan audiens. Di pertunjukan pertamanya kala itu, dia mendapat giliran akhir untuk bernyanyi.

Sembari menanti, dia mempelajari cara penyanyi senior menyapa pemilik hajat dan penonton. Dia mendapati, di atas panggung, sapaan penting dilontarkan sebagai bentuk interaksi.

Tak hanya itu, dia pun mengamati musik dan vokal pada lagu-lagu yang ditampilkan. Seluruh aksi pada penampilannya kini murni dipelajarinya sendiri di atas panggung sejak kala itu.

"Saya ketika itu menyanyikan lagu tarling Pemuda Idaman," ujar Diana yang kelak dikenal pula sebagai penyanyi lagu "Bandeng Mencelat" (Ikan Bandeng Terpental) ini.

Selama beberapa bulan berikutnya, dia turut bersama rombongan pertunjukan Teti. Sayang, semangatnya terpatahkan ketika keluarga mengetahui aktivitasnya hingga kemudian berbuah larangan.

Menurutnya, keluarga mencemaskan Diana kelak akan menghadapi ketidakstabilan dalam hidupnya. Belum lagi, dunia keartisan panggung dinilai mengandung dampak-dampak negatif.

Namun, minat Diana pada tarling tak surut. Menjawab hasratnya, dia pun mencuri-curi momen untuk tetap bernyanyi, sampai puncaknya aksi itu kembali diketahui keluarga.

Pendekatan jujur Diana pada keluarga atas cita-citanya tak disangka melahirkan restu. Kendati demikian, sebuah syarat berlaku baginya.

"Saya dibolehkan menyanyi lagi, tapi manggungnya harus jauh dari rumah. Enggak boleh manggung di hajatan-hajatan sekitar sini," katanya.

Karakter

tarling-Diana-Sastra-suami-Fajar-Andianto
Diana Sastra dan sang suami, Fajar Andianto, saat bercengkerama di salah satu sudut halaman rumahnya di Desa Megu Gede, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Bernyanyi di atas panggung kembali dia lakoni hingga lantas suatu hari tawaran rekaman menghampirinya. Salah satu produser tarling di Jakarta, Uci Sanusi, membuat aktivitas Diana beralih dari pertunjukan langsung ke studio rekaman di bawah label Dian Record Jakarta.

Diana pun terbang makin tinggi dan bertransformasi sebagai bidadari pantura. Pada 2001, Diana mendirikan perusahaan rekamannya sendiri, Dian Prima Management, yang dikelolanya sendiri.

AYO BACA: Sang Maetsro, Mama Jana Resah Tarling Klasik Punah Ditelan Zaman 

Sampai kini, dia telah melahirkan 35 album dengan total setidaknya 370 lagu. Di antara lagu-lagu hasil ciptaan orang lain yang dinyanyikannya, Diana bahkan pernah menelurkan lagu tarling ciptaannya sendiri berjudul "Pengen Dadi Siji" (Ingin Jadi Satu). 

Dia mengaku, seringkali membawakan lagu-lagu tarling lawas/klasik milik beberapa penyanyi dan pencipta lagu tarling Cirebon, seperti Dariah, Udin Zen, Abdul Ajib, Askadi, dan lainnya.

"Saya suka mendaur ulang lagu-lagu tarling lama karena merasa enggak ada bosennya, jadi terasa abadi,"ungkap perempuan bersuamikan Fajar Andianto yang kini telah dikaruniai 3 anak ini.

Selama mengakrabi tarling, Diana mengaku beroleh mukjizat. Proses mempelajari lagu-lagu tarling membuatnya mampu melafalkan huruf R.

"Dulu saya cadel, tapi setelah belajar nyanyi lagu-lagu tarling, sudah enggak (cadel). Itu berkah dari Allah SWT," cetusnya.

Ketika keluarga memberi berkat atas cita-citanya sebagai penyanyi tarling, sang kakak sempat menitipkan pesan agar Diana menjaga diri dari perbuatan negatif.

Petuah itu menjadi catatan bagi Diana untuk berlaku profesional dan mengedepankan moralitas. Sampai kini, dia berupaya menghormati para klien, baik pencipta lagu yang menghendakinya menyanyikan lagu mereka, para penyelenggara hajat, hingga penggemarnya.

"Bagi saya, kepuasan pelanggan nomor 1. Rugi tidak mengapa," terangnya.

Satu hal yang pula dijaga Diana adalah penampilan panggungnya. Alih-alih seronok, dia dikenal sebagai penyanyi tarling berpenampilan nyentrik.

Dari sekedar gaya rambut kuncir sederhana, gimbal, hingga diwarnai biru. Dari setelan celana jeans pendek dan kaos oblong, hingga setelan bergambar kartun warna warni, jauh dari rok mini.

AYO BACA: Maestro Tarling Klasik, Mama Jana Terus Konsisten Berkarya 

Diana menyampaikan ketidaksukaannya pada penampilan girly. Secara pribadi, dia lebih menyenangi penampilan yang unik sebab menurutnya bisa lebih mudah diingat.

Memori menjadi bagian krusial agar nafas bisnis yang digelutinya lebih panjang. Menurutnya, karakter yang berbeda akan memberi nilai tambah bagi profil dirinya sebagai penyanyi tarling maupun merk usahanya.

"Seorang penyanyi punya suara bagus, itu modal. Tapi seorang penyanyi punya karakter yang berbeda dan fokus pada kerjaan, selalu memuaskan bagi klien, dan punya etos kerja baik, itu nilai tambah yang ingin selalu saya terapkan," tegasnya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar