bank bjb
  

Jam Kerja Pegawai Tak Manusiawi, Bank BRI Bisa Rugikan Nasabah!

  Kamis, 11 Februari 2021   Rizma Riyandi
Jam Kerja Pegawai Tak Manusiawi, Bank BRI Bisa Rugikan Nasabah!
Logo Bank BRI

BANDUNG, AYOCIREBON.COM--Pemberlakuan jam kerja karyawan Bank BRI yang tidak manusiawi bisa merugikan nasabah.

Ekonom Universitas Pasundan (Unpas) Acuviarta Kartabi mengatakan, persoalan jam kerja termasuk hari libur bagi karyawan harus disediakan. Sebab, hal seperti itu bisa berdampak pada aktivitas pekerjaan dan bersifat kurang baik bagi perusahaan

"Misalnya, karena pekerja diberi intensitas tinggi, bisa saja para tenaga kerja di lapangan melakukan hal-hal yang berindikasi fraud. Kemudian berdampak pada layanan nasabah," ujar Acu kepada Ayobandung.com (Ayo Media Network), Kamis (11/2/2021).

Acu menuturkan, sebaiknya Bank BRI memperhatikan kemampuan pasar saat menetapkan target. Pada kondisi ekonomi stagnan seperti sekarang, maka target pun harus disesuaikan.

Jika dipaksakan, maka dampaknya akan kurang bagus. Dia juga menyarankan agar aspek penilaian terhadap kinerja bagi karyawan Bank BRI diperbaiki, termasuk masalah mutasi karyawan.

Di sisi lain, pengaturan jam kerja tidak rasional bisa berdampak pada nasabah. Di mana nasabah juga akan ikut tertekan, sehingga kualitas layanan BRI menurun.

"Dalam kondisi sekarang, semua nasabah pasti terdampak pandemi Covid-19. Sementara dari sisi perbankan adaptasinya terbatas. Mungkin bisa dikatakan, tidak terlalu banyak insentif yang diberikan perbankan. Kita memahami bahwa kualitas pelayanan pasti akan berkurang. Ini akan menyusahkan nasabah," ujar Acu.

Meski begitu, Bank BRI masih bisa menjaga citra baik perusahaan dengan memperbaiki pola kerja dan insentif karyawan. Selain itu, hal yang paling penting adalah memperbaiki kuliatas layanan dan efisiensi, misal dengan memberikan bunga yang lebih kompetitif dan pelayanan yang lebih humanis.

"Karena kalau karyawan ditekan, mereka akan melakukan hal yang sama pada nasabah. Nanti komunikasinya jadi kurang baik. Padahal kan kita berpikir tidak jangka pendek. Kalau nasabah memiliki kemampuan, pasti dia akan memperbaiki cashflow pembayarannya," kata Acu.

Ia sendiri menyayangkan sikap Bank BRI selama pandemi ini. Karena berdasarkan informasi yang diterima, tekanan terhadap nasabah oleh marketing Bank BRI juga cukup intensif dalam iklim pandemi sekarang daripada sebelumnya.
 
"Seperti penagihan oleh kolektor, sekarang makin digencarkan. Karena mereka mengejar target tadi. Ini kan menyuliskan nasabah, apalagi sedang pandemi. Kalau kondisi normal mah oke-oke saja," ungkap Acu.

Sebelumnya, ratusan pegawai Bank BRI Kanwil Bandung melakukan aksi di depan Gedung BRI di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu (10/2/2021). Menurut salah satu pegawai BRI lainnya yang tidak ingin disebutkan namanya, mereka menuntut agar pemimpin wilayah segera diganti. 

"Kita kerja mulai dari jam 07.00 WIB, pulangnya enggak tentu, bahkan sampai jam 22.00 WIB baru pulang," katanya kepada Ayobandung.com.

Para pegawai merasa pihak pimpinan bersikap seenaknya dan seakan tidak menghargai pegawai yang bekerja di lapangan. 

"Mereka yang di atas enak-enakan ngasih target. Kita yang di lapangan kelimpungan. Pernah waktu itu zoom meeting dari jam 17.00 WIB dan baru beres sampai jam 22.00 WIB. Itu rutin zoom meeting dari Senin sampai Kamis," katanya. 

Menurutnya, sistem kerja di Bank BRI sangatlah tidak wajar. Pegawai bekerja setiap hari mulai Senin hingga Minggu dan tidak mendapatkan jatah libur. 

"Kan seharusnya itu dari pimwil (pimpinan wilayah) ke wapimwil (wakil pimpinan wilayah) terus ke pimca (pimpinan cabang), terus ke AMBM (asisten manajer bisnis mikro) lalu ke kaunit (kepala unit) nah baru lah ke kita mantri. Tapi kalau sekarang mah dari pimwil langsung ke kita. Kita kelimpungan sama target yang dikasih dari atas," ucapnya. 

Direktur Bisnis Mikro Bank BRI Supari, yang ditemui Ayobandung.com di lokasi aksi, tak mengucapkan banyak hal. Menurutnya, tak ada aksi tuntutan seperti yang dikabarkan sebelumnya.

"Bukan tuntutan ini, enggak ada tuntutan. Nanti aja ya, nanti. Enggak ada mediasi tadi, wong kita makan-makan kok, enggak ada mediasi, memang apa yang dimediasi. Saya itu bapaknya mantri (marketing dan analisis mikro), panglima mantri jadi sudah biasa kayak gini," ujar Supari.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar