Yamaha

Dari Darah Hingga Mata, Cara Warga Ahmadiyah Manislor Berkemanusiaan

  Sabtu, 27 Februari 2021   Erika Lia
Warga JAI Manislor, Kabupaten Kuningan, mendonorkan sebagian darahnya dalam kegiatan kemanusiaan yang digelar rutin. (Ayocirebon.com/Erika Lia)
KUNINGAN, AYOCIREBON.COM -- Komunitas Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Desa Manislor, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, punya cara menjalin silaturahmi di tengah pandemi Covid-19, yang berkelindan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
 
Hari itu, Jumat (26/2/2021), Rusdi Sriwiyata mendatangi Gedung SMP Amal Bakti di salah satu tepi jalan desa yang ditinggalinya. Kakinya berbelok ke salah satu ruangan kelas yang selama pandemi tak banyak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
 
Di sana, terdapat sejumlah tempat tidur lipat portabel (velbed) yang berjajar sedemikian rupa. Rusdi sempat menanti, sampai kemudian namanya dipanggil oleh seseorang yang berada di dalam kelas.
 
Di salah satu meja, dia beroleh pemeriksaan kesehatan, salah satunya pengecekan tekanan darah. Di sekitarnya, sejumlah petugas Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kuningan, mempersiapkan diri untuk mengambil darah para pendonor.
 
Ketika Rusdi dinyatakan sehat, sejurus kemudian dirinya sudah berada di atas salah satu velbed. Pada satu titik ketika ujung jarum menyentuh lapisan kulitnya, dia memikirkan sesuatu.
 
"Ini yang ke-89 kali saya mendonorkan darah," ungkap Rusdi saat ditemui Ayocirebon.com seusai pengambilan darahnya.
 
Rusdi menjadi salah satu dari 98 warga Ahmadiyah Manislor yang mendaftar donor darah hari itu. Kegiatan tersebut rutin digelar komunitas JAI Manislor, di tengah pandemi sekalipun.
 
Rusdi, selaku Koordinator JAI Wilayah Jabar X yang meliputi Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka sekaligus ketua pelaksana gerakan donor darah nasional JAI ini, menyebut, kegiatan semacam itu telah dilaksanakan sejak lebih dari 6 tahun terakhir ini.
 
"Sejak itu sampai sekarang rutin digelar 3 bulan sekali," tuturnya.
 
Di Manislor, sebutnya, terdapat sekitar 3.100 orang warga Ahmadiyah. Hari itu, dari 98 pendaftar, 70 orang dinyatakan memenuhi syarat untuk mendermakan darahnya.
 
Namun, menurut Rusdi, jumlah itu lebih sedikit dibanding kegiatan serupa di masa sebelum pandemi. Hal itu maklum, sebab di masa pandemi, tak semua orang dalam kondisi yang prima untuk donor darah.
 
"Biasanya (sebelum pandemi) melebihi 70 labu," ujarnya.
 
Meski begitu, mereka tetap berharap apa yang mereka sumbangkan hari itu tetap bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan. Karena itu, pihaknya tetap berupaya memaksimalkan perolehan darah hari itu melalui sosialisasi kepada seluruh warga.
 
Maka, kegiatan donor darah hari itu pun menguarkan antusiasme warga Ahmadiyah. Baik pria maupun wanita berkumpul hari itu, termasuk anak-anak yang menyertai orang tuanya.
 
Seraya menanti pemeriksaan kesehatan sebagai syarat mendonorkan darah, mereka bercengkerama di depan kelas. Masker yang menutupi sebagian wajah tak menghalangi minat mereka saling bercerita membahas keseharian masing-masing.
 
Kesempatan itu rupanya pula menjadi ajang silaturahmi antar warga Ahmadiyah. Rusdi memastikan, derma darah warga Ahmadiyah Manislor demi kemanusiaan.
 
"Banyak masyarakat butuh darah, kami melakukannya untuk kemanusiaan," tuturnya seraya meyakinkan, protokol kesehatan sesuai arahan pemerintah diterapkan selama donor darah berlangsung.
 
Di antara pendonor darah, tak sedikit di antaranya kalangan muda Ahmadiyah. Salah satu di antaranya, Ketua Pemuda Ahmadiyah Manislor, Fivo Nugraha, yang sejak 2015 aktif menyumbangkan sebagian darahnya.
 
"Saya donor darah inisiatif sendiri. Selain untuk kesehatan diri, saya senang bisa jadi perantara untuk keberlangsungan hidup seseorang yang membutuhkan," jelasnya mengutarakan alasan sebagai pendonor darah.
 
Tak hanya darah, warga Ahmadiyah Manislor pun rupanya tercatat sebagai penderma kornea mata. Rusdi yang juga merupakan Ketua Komunitas Donor Mata Indonesia Kabupaten Kuningan ini menyebutkan, terdapat 1.320 warga Kabupaten Kuningan yang tercatat sebagai pendonor kornea mata.
 
"Sejak 2014, kami bekerjasama dengan Bank Mata Indonesia (BMI) di RS Mata Cicendo dan pusat," katanya.
 
Dari 1.320 pendonor kornea mata di Kabupaten Kuningan, 1.300 orang di antaranya merupakan warga Ahmadiyah Manislor. Sisanya berasal dari daerah lain di Kabupaten Kuningan.
 
Selain di Kabupaten Kuningan, sebutnya, ada pula 68 pendonor kornea mata Asal Kabupaten Majalengka. Dari total pendonor di Kuningan dan Majalengka, 66 orang di antara mereka telah diambil kornea matanya.
 
"Kornea mata akan diambil dari pendonor setelah yang bersangkutan meninggal dunia. Itu pun asalkan kondisi pendonor sehat dan disetujui ahli warisnya," terang Rusdi.
 
Derma kornea mata bagi warga Ahmadiyah Manislor dipandang sebagai amal jariyah yang dapat mereka lakukan bagi sesama. Sekalipun berupa jasad, imbuhnya, selama masih dapat bermanfaat bagi manusia lain, mereka akan melakukannya.
 
"MUI sendiri telah mengeluarkan fatwa yang membolehkan seseorang menjadi pendonor kornea mata," kemukanya.
 
Fatwa tersebut diketahui dikeluarkan MUI pada 13 Juni 1979 di Jakarta, ditandatangani KH. Syukri Gozali. Bunyinya, seseorang yang semasa hidupnya berwasiat akan menghibahkan kornea mata setelah wafat dan diketahui, disetujui, dan disaksikan oleh ahli warisnya, wasiat itu dapat dilaksanakan dan harus dilakukan oleh ahli bedah.
 
Tingginya peran serta warga Ahmadiyah dalam derma kornea mata diketahui bahkan telah diakui Perkumpulan Penyantun Mata Tuna Netra Indonesia (PPMTI).
 
"Pengambilan kornea mata sempat terhenti 3 bulan akibat pandemi pada Maret-Juni 2020. Tapi, saat ini sudah kembali berjalan," tandasnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar