bank bjb
  
Yamaha

Menanti Senjakala di Tepi Tol Cisumdawu

  Rabu, 03 Maret 2021   Erika Lia
Menanti Senjakala di Tepi Tol Cisumdawu
Warga menyaksikan sejumlah alat berat di lokasi bakal pembangunan Tol Cisumdawu di Desa Palasah, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

MAJALENGKA, AYOCIREBON.COM -- "Mending jual padi jeung anak incu (lebih baik menjual padi untuk anak cucu)," ungkap Fatulloh (72), warga Blok/Dusun Benggala, Desa Palasah, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka.

Kalimat itu meluncur ketika Ayocirebon.com menyinggung perubahan yang dialami Fatulloh setelah kehilangan sebagian lahan pertanian demi pembangunan Tol Cisumdawu. Pria beranak 3 ini kehilangan hampir 1 ha tanah yang ditanami padi maupun pohon buah.

"Ada 600 bata (luas 1 bata sama dengan sekitar 14 meter persegi)," katanya menyebut luas lahan miliknya yang dibeli untuk pembangunan Tol Cisumdawu.

Seraya bercakap-cakap dengan Ayocirebon.com di teras rumah, Selasa (2/3/2021) sore, Fatulloh sesekali membuat simpul tali plastik pada salah satu lengannya. Tangan yang lain menjalin tali beraneka warna itu, sebelum kemudian dia tumpuk di sampingnya.

Tak jauh dari tempat dia duduk, 2 gadis kecil tengah bermain ayunan yang diletakkan di salah satu sisi teras rumah. Fatulloh menyebut mereka sebagai cucu.

Di antara seru dan tawa cucu-cucunya, kakek bercucu 6 orang ini menceritakan, lahan miliknya yang dibeli untuk Tol Cisumdawu terletak di Blok Encet, tak jauh dari dusun tempat dia tinggal. Sebagai kompensasi, Fatulloh menerima sekitar Rp5 juta/bata.

tol-Cisumdawu-Fatulloh-Palasah-mjk2
Fatulloh, salah satu warga Desa Palasah, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka, yang aset pribadinya terdampak Tol Cisumdawu. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Menurutnya, uang kompensasi sudah diterima sejak sekitar 2 tahun terakhir. Saat ini, sebagian uang itu sudah berwujud rumah, mobil, serta tabungan bagi kelangsungan hidup keluarganya kelak.

Meski begitu, dia tak menampik terdapat perubahan dalam hidupnya sejak sebagian lahan pertaniannya hilang. Dia tak lagi dapat menjumpai sebagian padi dan pepohonan yang biasa dipeliharanya.

"Ya ada padi, pohon mangga, pohon pisang. Sekarang mah padinya udah enggak ada, pohon-pohonnya juga dipindahin," tuturnya seraya menambahkan, sekitar 25 pohon buah yang sudah dirawatnya terpaksa dipindahkan ke lahan yang tersisa miliknya.

Ini bukanlah kali pertama Fatulloh harus melepaskan aset tanah miliknya. Beberapa tahun lalu, dia pula pernah merelakan lahan pertaniannya diubah sebagai jalan bebas hambatan.

Saat itu, lebih dari 1 ha (750 bata) lahan miliknya menjadi sasaran proyek Tol Cipali. Harga yang ditetapkan sekitar Rp250.000/bata dirasanya telah merugikan.

Meski pada proyek Tol Cisumdawu dia beroleh harga kompensasi cukup besar, sejatinya Fatulloh tetap merasa berat kehilangan aset yang telah dia pelihara bertahun-tahun. Kini, hanya sekitar 7 ha lahan miliknya yang tersisa.

Jika boleh memilih, Fatulloh lebih mengambil opsi menjual padi dari lahan pertaniannya sendiri ketimbang menjual aset tanah. Menurutnya, aset tanah akan lebih berharga bagi anak cucunya kelak, bukan dirinya kini.

"(Buat saya sendiri) enggak ada yang berubah, nyawa masih nyawa. Kalaupun mau dibeli lagi (aset tanahnya), biar saja, asal harganya tinggi supaya bisa beli lagi buat anak cucu," tandasnya.

tol-cisumdawu-Palasah-progres3
Sejumlah alat berat dioperasikan di lokasi bakal pembangunan Tol Cisumdawu di Desa Palasah, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Tol Cisumdawu menghubungkan Cileunyi di Kabupaten Bandung, sejumlah daerah di Kabupaten Sumedang, serta Dawuan di Kabupaten Majalengka. Meski begitu, nyatanya proyek tol sepanjang 62,60 km ini memakan aset warga di Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka. 

"Tol Cisumdawu itu berakhir hanya di Kertajati," kata Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka Eman Suherman saat dikonfirmasi Ayocirebon.com, Rabu (3/3/2021).

Camat Kertajati Andik Sujarwo menyebutkan, 2 desa di kecamatan itu terdampak pembangunan Tol Cisumdawu, yakni Palasah dan Mekarjaya.

"Desa Mekarjaya sama Desa Palasah," tuturnya.

Pembangunan tol pun tak ditampiknya telah membawa dampak sosial dan ekonomi, terutama bagi warga yang kehilangan aset miliknya.

Berkaca pada dampak pembangunan BIJB, kebanyakan warga memanfaatkan uang ganti rugi untuk membeli barang atau membangun rumah. Fenomena seperti itu lumrah dilakukan, salah satunya dialami Fatulloh.

Andik mendorong warga membelanjakan uang untuk hal-hal produktif, alih-alih konsumtif. Hal itu untuk mencegah timbulnya kemiskinan baru.

"Kami akan mengedukasi masyarakat, jangan sampai timbul kemiskinan baru karena membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang cenderung konsumtif," paparnya.

Kuwu Palasah, Cucu Sutarna bersama Sekretaris Desa Palasah, Wawan Gunawan menyebutkan, setidaknya 130 KK di desa tersebut terdampak Tol Cisumdawu. Seluruh aset warga yang terdampak berupa lahan pertanian.

"Di Palasah mah sawah semua, enggak ada rumah (yang terdampak)," bebernya.

Untuk aset warga berupa lahan dengan tanaman padi, nilai ganti rugi sekitar Rp4 juta-Rp4,5 juta per bata. Sementara, nilai ganti rugi untuk lahan dengan tanaman perkebunan sekitar Rp5 juta/bata.

Saat ini, Cucu meyakinkan, seluruh warga yang terdampak telah menerima ganti rugi. Wawan menambahkan, ganti rugi diberikan sejak sekitar 2019.

"Tidak ada masalah, semua sudah dapat ganti rugi," ujar Cucu.

tol-Cisumdawu-Palasah-progres2
Warga menyaksikan sejumlah alat berat di lokasi bakal pembangunan Tol Cisumdawu di Desa Palasah, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Selain aset pribadi warga, Tol Cisumdawu juga diketahui memanfaatkan tanah kas desa (TKD) yang menjadi aset Desa Mekarjaya, Kecamatan Kertajati. 

Kuwu Mekarjaya, Carsono mengungkapkan, untuk ganti rugi aset pribadi warga, yang seluruhnya berupa tanah, telah diterima oleh setidaknya 24 KK yang terdampak. Lain halnya dengan TKD.

"(Warga) semuanya sudah sih untuk pembayaran (ganti rugi). Cuma ada 1 tanah yang belum dibayar, tanah TKD," ungkapnya.

Luas TKD yang dibebaskan untuk Tol Cisumdawu sekitar 1.000 m2 dengan nilai Rp350 juta. Sementara, tanah warga Desa Mekarjaya yang dibebaskan disebutnya sekitar 3 ha.

Sebelumnya, TKD hanya berupa tanah kosong. Dari 1.000 m2 yang dibebaskan, saat ini TKD Mekarjaya hanya menyisakan sekitar 300-400 m2.

Carsono tidak dapat memastikan ihwal pembayaran ganti rugi TKD. Menurutnya, sejauh ini, proses ganti rugi masih berlangsung.

"TKD yang ngurus pihak tol, kita di desa hanya melengkapi saja berkas-berkas yang dibutuhkan," terangnya.

Rencananya, ganti kerugian TKD dalam bentuk tanah pengganti. Pihaknya berharap, pemerintah pusat mau membebaskan seluruh TKD Mekarjaya.

"Harapannya sih tanah aset desa itu dibeli semua karena (yang tersisa) nanggung," cetusnya.

Di sisi lain, dia mengakui, pembangunan Tol Cisumdawu berdampak pada pengurangan lahan warga, terutama area tanam. Sebagian warga lain juga harus merasakan gangguan berupa kebisingan yang ditimbulkan.

Namun, dia menaruh asa kelak Tol Cisumdawu dapat membawa dampak positif pula bagi warga sekitar.

Sementara itu, pembangunan Tol Cisumdawu di Kabupaten Majalengka telah mulai digarap. Di Desa Palasah yang berbatasan dengan Kabupaten Sumedang, sejumlah alat berat berada di lokasi.

Mereka sudah meratakan sebagian tanaman di lahan warga yang dibebaskan. Aktivitas di sekitar lokasi pembangunan rupanya menjadi salah satu tontonan menarik bagi warga sekitar.

Tak sedikit warga yang mengajak anak-anak mereka menyaksikan 'aksi' alat berat, seperti ekskavator yang mengeruk tanah hingga stum dan roller yang memadatkan permukaan tanah.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar