bank bjb
  
Yamaha

Rasa Karantina: Antara Matahari Pagi dan Motivasi Diri dari Ruang Isolasi

  Rabu, 10 Maret 2021   Erika Lia
Rasa Karantina: Antara Matahari Pagi dan Motivasi Diri dari Ruang Isolasi
Della Vigna R (27), membaca buku sebagai upaya menghilangkan kejenuhan selama menjalani karantina diri di hotel. (Ist)

BEBER, AYOCIREBON.COM -- Sinar matahari pagi belakangan merupakan hal favorit Della Vigna R (27), warga Desa Setu Kulon, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon. Ada sebuah sensasi menenangkan ketika panas matahari pagi bersentuhan dengan kulit tubuhnya.

Berjemur menjadi rutinitas Della sejak dirinya terkonfirmasi Covid-19 pada 25 Februari 2021. Selama sepekan berikutnya, ia direkomendasikan Puskesmas Karangsari, Kabupaten Cirebon, mengarantina diri di rumah sebab nyaris tiada gejala (asimtomatik).

"Karena saya tanpa gejala, tenaga kesehatan mengirim vitamin ke rumah, ada sekitar 3 vitamin yang diminum 1 butir/hari," cetusnya.

Kemudian, pekan berikutnya Della memutuskan mengarantina diri di hotel yang disiapkan Pemkab Cirebon, The Radiant Hotel. Terletak di Jalan Raya Cirebon-Kuningan, Desa Kondangsari, Kecamatan Beber, Kabupaten Cirebon, hotel ini disediakan bagi pasien Covid-19 asimtomatik.

"Seminggu sebelum saya dinyatakan positif, ayah dan ibu saya sudah lebih dulu terkonfirmasi Covid-19 dan harus dirawat di rumah sakit karena bergejala. Saya pindah lokasi isolasi diri karena ayah saya kemudian dinyatakan negatif, setelah seminggu dirawat," beber Della kepada Ayocirebon.com, Selasa (9/3/2021) malam.

Mempertimbangkan upaya pencegahan paparan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 terhadap sang ayah, Della pun lantas menghuni salah satu kamar di The Radiant Hotel pada 5 Maret 2021.

Rasa Karantina

Tak pernah terbayangkan bagi Della menempati ruang isolasi di hotel tersebut. Bersama pasien lain yang menempati masing-masing kamar, Della pun menjalani kesehariannya yang berbeda saat karantina diri di rumah.

Di hotel, ia dijadwalkan makan pagi setiap pukul 07.30 WIB, makan siang pukul 12.00, dan makan malam pukul 18.00. Selain makanan yang terjadwal itu, dia pun beroleh panganan ringan.

karantina-diri-hotel-della2

Della Vigna R (27), membaca buku sebagai upaya menghilangkan kejenuhan selama menjalani karantina diri di hotel. (Ist)

Makanan dan minuman bagi para pasien disiapkan petugasĀ  Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Cirebon pada rak dorong yang diletakkan di lorong luar kamar. Petugas lantas akan mengumumkan ketersediaan makanan yang dapat diambil langsung para pasien.

"Kita (pasien) ngambil sendiri makanannya ke meja dorong yang di tengah (lorong), (makanan dan minuman) bukan ditaruh di depan kamar masing-masing (pasien)," ungkapnya.

Meski terdapat pertemuan fisik yang memungkinkan terjadi interaksi antar pasien saat pengambilan makanan dan minuman, menurut Della, rerata pasien menyadari situasi masing-masing. Setiap orang berusaha meminimalisir kontak antar mereka dengan bergegas masuk ke dalam kamar, setiap makanan sudah di tangan.

Terlebih, aktivitas mereka dimonitor petugas satgas. Dalam tata tertib yang berlaku selama karantina diri, setiap pasien dilarang berkerumun. Bila pun terjadi kondisi darurat, berlaku pembatasan jarak antar pasien minimal 1 meter.

Kondisi itu berlaku pula saat aktivitas fisik dan berjemur di bawah sinar matahari setiap pagi. Para pasien diberi waktu 15-20 menit untuk beraktivitas di luar kamar.

Sebagian di antara mereka hanya berjemur, sebagian lainnya berolahraga. Selama aktivitas fisik ini pula, setiap pasien harus menerapkan jaga jarak.

"Kalau interaksi (saat aktivitas pagi) sih biasanya cuman kayak basi-basi gitu doang. Paling cuma menyapa atau nanya 'udah berapa lama di sini' atau 'kena covid di mana' gitu doang, dan itu pun jarak kita lebih dari 1 meter sih ada," tuturnya.

karantina-diri-hotel-della3

Sejumlah pasien beraktivitas di luar kamar selama karantina diri di The Radiant Hotel, Kabupaten Cirebon. (Ist)

Sekalipun aktivitas mereka dibawah pengawasan petugas, Della meyakinkan hal itu tak sampai mengurangi kenyamanan dalam kesehariannya. Ia sendiri tak menangkap kesan berlebihan pada pengawasan petugas, mengingat para pasien sendiri rupanya punya kesadaran tinggi atas kondisinya.

"Diawasin (petugas) sih pasti, apalagi kan ada pos jaga tuh di luar hotel. Cuma pasien di sini sendiri sudah cukup teredukasi diri bahwa kita tuh ya pasien covid, jadi wajib pake masker, jaga jarak, cuci tangan, jadi udah pada ngerti sendiri gitu," kemukanya.

Tata tertib

Selain rutinitas harian seperti makan dan aktivitas fisik di luar kamar, tata tertib lain yang mengutamakan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 bagi pasien berupa kewajiban mencuci pakaian.

Setiap pasien diharuskan merendam setiap pakaian habis pakai dengan detergen. Setelahnya, pakaian dicuci dan hanya dapat dijemur di kamar mandi.

Ini di luar keleluasaan mencuci yang biasa ia jalani saat karantina diri di rumah. Della yang biasanya mengandalkan mesin cuci kini harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang tersedia.

"Tapi Alhamdulillah, ukuran kamar mandi nggak terlalu kecil, cukup bisa untuk mencuci dan menjemur pakaian lah. Beberapa orang sih saya lihat jemur baju di jendela, memanfaatkan sinar matahari langsung," ujarnya.

Tata tertib lainnya sendiri antara lain kewajiban membawa peralatan pribadi seperti alat komunikasi, baju ganti, selimut, handuk, kantong plastik, detergen, alat mandi, dan peralatan pribadi lain yang dibutuhkan.

Selama masa karantina diri, pasien wajib menjaga kebersihan kamar masing-masing. Setiap sampah yang dihasilkan disimpan dalam kantong plastik, diikat, dan disimpan di luar kamar yang selanjutnya akan dipungut petugas jaga.

Setiap pasien juga wajib mengenakan masker medis/bedah selama masa karantina. Masker bekas pakai harus disobek serta dibuang pada wadah plastik warna kuning khusus.

Sekalipun kunjungan keluarga atau tamu lain tak dibolehkan, pasien tetap dapat menerima barang yang dibutuhkan dari luar yang akan dikirimkan perawat jaga pukul 07.00-12.00. Barang tertentu diketahui dilarang dibawa masuk, terutama yang membahayakan dan berisiko pada kesehatan, salah satunya rokok.

Salah satu kesan yang diingat Della berupa makanan yang disajikan. Selain bersih, rasa dan variasi panganan ringan menjadi hal yang akan dikenangnya kala pulih.

Kelezatan rasa makanan belakangan melahirkan rasa syukur bagi Della. Sebelum dinyatakan positif, Della menjalani tes usap pertama pada 19 Januari 2021 bersama orang tuanya.

Tinggal dalam satu rumah, ketiganya menderita sakit dengan gejala klinis tubuh lemas, tanpa nafsu makan, kepala pusing, dan batuk. Della sendiri kemudian bahkan kehilangan indera perasa maupun penciumannya.

Namun, pada tes usap kali pertama, hanya orang tuanya yang dinyatakan positif dan kemudian beroleh penanganan medis di rumah sakit. Sebaliknya, Della justru negatif.

Selama masa perawatan orang tuanya, Della beberapa kali harus membantu memenuhi kebutuhan mereka di rumah sakit. Dia memastikan tak ada interaksi fisik langsung dengan orang tuanya, karena barang-barang kebutuhan yang diantarkannya bagi mereka dititipkan kepada petugas keamanan rumah sakit sesuai prosedur.

"Nanti dari petugas keamanan diserahkan kepada perawat sesuai waktu yang ditentukan rumah sakit," tambahnya.

Dengan status kontak erat, selang 7 hari dari tes usap pertama, Della pun menjalani tes usap kali ke-2. Sayangnya, kali ini ia dinyatakan positif.

Namun, pihak puskesmas memastikan secara umum kondisi kesehatan Della baik. Karenanya, karantina diri di rumah pun memungkinkan untuk dilakukannya.

"Nah, makanya sekarang saya bersyukur sekali bisa merasakan dan mencium aroma semua makanan karena ingat nggak enaknya saat tidak bisa merasakan itu semua," ujarnya.

Lenyapkan Jenuh

Secara umum, Della menilai masa karantina diri yang dijalaninya selama sekitar sepekan terakhir di hotel tidaklah terlalu buruk. Atensi dari petugas hingga tingginya kesadaran orang-orang lain di sekitarnya dirasa telah membantu ia melupakan perasaan tak nyaman akibat virus SARS-CoV-2 bersemayam di tubuhnya.

"Isolasi rasanya nggak terlalu buruk ya, meski ada aturan-aturan gitu karena lingkungannya sendiri mendukung. Kesannya semua orang di sini tuh suportif untuk sembuh, petugas juga kadang mengetuk pintu kamar buat ngingetin kita olahraga atau berjemur di luar," tuturnya.

Karena itu, meski berlaku pembatasan, ia mengaku tak merasakan kebosanan total selama karantina diri di hotel. Baginya, asalkan memotivasi diri untuk pulih, akan selalu ada kegiatan yang dapat dilakukan di dalam kamar.

karantina-diri-hotel-della4

Lorong The Radiant Hotel yang setiap kamar di sisi-sisinya ditempati pasien Covid-19 asimtomatik. Hotel ini disiapkan Pemkab Cirebon. (Ist)

Della sendiri memotivasi diri untuk pulih agar dapat kembali bertemu orang tuanya, yang selama beberapa hari dirinya mengarantina di hotel, telah pulang ke rumah seusai dipastikan negatif Covid-19 oleh pihak rumah sakit.

"Motivasi saya pulih orang tua, gimana caranya saya sehat lagi dan nggak nularin penyakit menular ini ke mereka. Saya sendiri pernah merasakan sakit (gejala klinis selama statusnya pasien positif), jadi saya nggak mau orang tua saya ngalamin sakit itu, makanya saya harus sehat," tegasnya.

Della pun menjadikan sejumlah kegiatan sebagai pengusir kejenuhan, mulai membaca buku, menuliskan pemikirannya, berinteraksi melalui media sosial salah satunya memainkan TikTok, menonton film yang disediakan layanan media streaming digital, dan pastinya berolahraga.

Karantina diri bahkan tak jarang menjadi masa bagi dirinya beroleh inspirasi. Dia pun mencoba produktif dengan menuangkan ide-idenya ke dalam tulisan, salah satunya bahkan ia kirimkan kepada Ayocirebon.com.

"Setelah kena (Covid-19), rasanya nggak enak kalau nggak berjemur atau olahraga. Ada perasaan senang kalau kena sinar matahari, rasanya sehat aja gitu karena yakin virusnya bakal mati," ungkap lulusan Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta ini.

Masa karantina diri di hotel menjadi pengalaman berharga yang akan terus diingatnya. Ia pun meyakini kejadian ini mengandung hikmah, salah satunya penerapan pola hidup bersih.

Della menyadari, kebersihan harus menjadi kebiasaan dalam keseharian. Tak hanya ketika sakit mendera, bahkan secara kontinyuitas setelah kakinya lantas diizinkan melangkah pulang hari ini, Rabu (10/3/2021).


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar