bank bjb
  
Yamaha

Alun-alun Kejaksan Cirebon Diharap Ramah bagi Kelompok Marjinal

  Kamis, 11 Maret 2021   Erika Lia
Alun-alun Kejaksan Cirebon Diharap Ramah bagi Kelompok Marjinal
Proyek revitalisasi Alun-alun Kejaksan, Kota Cirebon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

KEJAKSAN, AYOCIREBON.COM -- Alun-alun Kejaksan, Kota Cirebon, yang baru diharapkan lebih ramah bagi kelompok masyarakat yang termarjinalkan.

Sebagaimana diketahui, Alun-alun Kejaksan direvitalisasi sejak sekitar 2019. Sumber dana penataan alun-alun ini dari APBD Provinsi Jawa Barat, masing-masing Rp27,8 miliar untuk tahap pertama pada 2019 dan Rp14,1 miliar untuk tahap 2 berupa finishing.

Ketua Komunitas Sinau Kota, Zainal Abidin mengharapkan nilai fungsi alun-alun sebagai tempat sosial warga berlaku menyeluruh. Selain dijadikan benchmarking (tolok ukur), alun-alun juga saya harus dapat dinikmati semua kalangan.

"Saya harap Alun-alun baru ramah terhadap semua warga kota, termasuk warga miskin, difabel, minoritas, dan kelompok terpinggirkan lainnya," katanya kepada Ayocirebon.com, Kamis (11/3/2021).

Dia menilai, kebanyakan ruang publik di Kota Cirebon belum ramah bagi warga yang termarjinalkan. Taman kota maupun trotoar menjadi salah satu contoh ruang publik yang kebanyakan belum ramah bagi semua kelompok masyarakat di Kota Cirebon.

"Trotoar yang sesuai ketentuannya untuk pejalan kaki, termasuk teman-teman difabel, nyatanya masih banyak pedagang, tiang listrik, pohon, ojol, dan lainnya yang mengganggu hak mereka untuk mengakses fasilitas publik ini. Begitu juga taman kota," paparnya.

Keberadaan Alun-alun Kejaksan yang tengah menanti peresmian sendiri, lanjutnya, tak boleh dimonopoli pihak-pihak tertentu. Dia mengingatkan, sejak masa feodal, alun-alun menjadi tempat sosial warga dari semua kalangan.

"Nanti pasti ada food court atau galeri seni di sana, itu harus objektif dan betul-betul mewakili produk-produk kreatif Kota Cirebon. Jangan sampai ada yang memonopoli tempat," kemukanya.


Dia pun berharap, sebagai salah satu ruang publik, Alun-alun Kejaksan bebas dari benda-benda yang berpotensi merusak keindahan. Zainal di antaranya menunjuk reklame, bendera partai, spanduk iklan, dan lainnya, mengancam estetika ruang kota.

Pihaknya meminta Pemkot Cirebon kembali menata penempatan benda-benda semacam itu. Bukan hanya Alun-alun Kejaksan, ruang publik lain pun membutuhkan pengutamaan estetika. 

"Sampai sekarang masih ada benda-benda yang penempatannya malah merusak keindahan kota, entah itu menutupi tugu, menghalangi pandangan, dan sebagainya," cetus Zainal.

Ruang publik, imbuhnya, merupakan gambaran visi Kota Cirebon. Karenanya, Pemkot Cirebon harus memiliki konsep city branding yang tegas.

Sementara itu, DPRD Kota Cirebon diketahui telah meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Cirebon mengkaji ulang hasil revitalisasi Alun-alun Kejaksan.

Ketua DPRD Kota Cirebon, Affiati mengungkapkan telah menemukan beberapa kekurangan. Dia pun meminta perbaikan, antara lain pada saluran irigasi dan konstruksi beton pada rubanah (basement) alun-alun.

"Perlu ada kontrol kembali sebelum difungsikan, tes konstruksi beton dan saluran air," ucapnya.

Ketua Komisi II DPRD, Watid Sahriar menyebut tahapan yang berlangsung kini berupa pemeliharaan. Karenanya, kontraktor masih punya waktu memperbaiki ketidaksesuaian.

"Masih ada waktu untuk mengerjakan masukan kami," cetusnya.

Manajer proyek dari PT Dinamis Sarana Utama yang memenangkan tender finishing Alun-alun Kejaksan, Yoyok menerangkan, masa pemeliharaan berlaku sekitar 6 bulan, yang meliputi pembersihan, pengecatan, dan lainnya.

"Sesuai adendum, kami selesai pada 12 Februari 2021 dan sekarang dalam masa pemeliharaan," jelasnya.

Pihaknya berjanji akan mengerjakan masukan DPRD. Dari nilai proyek Rp14,1 miliar pada tahap finishing, dia mengungkapkan, 70% di antaranya telah dibayarkan.

"Masih ada sekitar 30% yang belum dibayarkan," pungkasnya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar