bank bjb
  
Yamaha

Corona N429K Jangkiti 30 Negara, IDI Sebut Mutasi Virus Lebih Pintar

  Jumat, 12 Maret 2021   Republika.co.id
Corona N429K Jangkiti 30 Negara, IDI Sebut Mutasi Virus Lebih Pintar
ilustrasi rapid test antigen. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

JAKARTA, AYOCIREBON.COM -- Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengingatkan varian baru Covid-19 selain B117, yakni N439K karena "lebih pintar" ketimbang pendahulunya. Mutasi virus N439K juga terjadi lebih dari 30 negara.

"Kita menghadapi virus baru, dengan sifat yang berbeda dengan virus yang pernah ada, dengan kecepatan mutasi yang cepat. Belum lama ini pemerintah mengumumkan varian B117, sementara di dunia telah terdapat varian baru lagi yang ditemukan di Ingris yakni N439K," ujar Ketua Umum PB IDI, Daeng M Faqih, saat media briefing PB IDI Bertema Setahun Pandemi Covid-19, di kantor IDI, Jakarta, Rabu (10/3).

Ia menambahkan, varian N439K ini sudah berkembang dan terdapat di lebih dari 30 negara. Ternyata N439K lebih pintar dari varian sebelumnya.

Berdasarkan data Thomson yang dihimpun IDI, ikatan terhadap reseptor ACE2 di sel manusia lebih kuat, dan tidak dikenali oleh polyclonal antibody yang terbentuk dari imunitas orang yang pernah terinfeksi. Dari data yang didapati, dia melanjutkan, penularan virus dapat melalui aerosol, sehingga yang paling sulit adalah mengendalikan orang-orang yang asimtomatis.  

Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO) telah mengingatkan dunia bahwa penyebaran SARS-CoV-2 adalah transmisi airborne melalui droplet udara, microdroplets. Sementara itu, transmisi aerosol tidak mesti batuk atau bersin, bernapas normal dapat menularkan, namun ketika bernapas dan berbicara pun dapat mengeluarkan virus.

Penyebaran dalam bentuk droplets yaitu batuk, bersin, nafas dan berbicara berukuran >5 μm akan mengendap di lantai, sedangkan ukuran <0>

"Penularan dapat terjadi tanpa disadari karena data global satu dari tiga orang bisa bersifat asimptomatik atau pre-symptomatik atau tidak bergejala, tetapi mempunyai kemampuan menyebarkan virus sama dengan orang terinfeksi yang bergejala," ujarnya.

Apabila ada seseorang yang terinfeksi, baik bergejala maupun tidak bergejala, secara tidak disadari menghembuskan napas pun dapat menyebarkan virus. Ia mengutip data dari Kumar and Morawska (2019) bahwa keadaan ruangan yang tertutup, di mana udara berputar-putar, atau transmisi pada ruang konferensi dengan udara AC yang berputar-putar maka berpotensi menjadi masalah.

Oleh karena itu, ia mengutip data Van Doremalen (2020) bahwa sistem ventilasi pada umumnya saat ini adalah dengan menggunakan pendingin udara (AC) central, dengan sirkulasi udara yang buruk dan kurang cahaya ultraviolet, maka virus SARS-CoV-2 dapat bertahan hidup hingga tiga jam dalam ruangan.

Kemudian faktor lain seperti iklim, cuaca, suhu, kelembaban dan sinar matahari juga mempengaruhi penyebarannya. Lebih lanjut ia mengatakan, pemakaian masker yang sesuai yaitu masker bedah, N95, KN 94, KF 94 dapat melindungi hingga 90 persen penularan dan tertular.

Penggunaan masker yang baik dan benar sangat penting. Meskipun ada risiko hingga 10 persen keluarnya droplet dan microdroplet dengan pemakaian masker dalam jangka waktu yang lama, walau kadang benar, namun ini sangat bermakna dalam menurunkan transmisi.

"Oleh karena itu, PB IDI memberikan beberapa imbauan kepada masyarakat. Pertama, pastikan kondisi tubuh kita dalam keadaan sehat dan bugar, yang memiliki penyakit penyerta (komorbid) harus teratur berobat dan terkontrol, dan bagi masyarakat yang belum mengetahui status kesehatannya upayakan semaksimal mungkin skrining komorbid," katanya.

Ia menambahkan, semua pihak membutuhkan percaya diri dan keyakinan bahwa tubuh mampu mengatasi dengan baik jika terinfeksi, hal ini menjadikan aktivitas menjadi prima dan terhindar dari stres. Kemudian, ia meminta masyarakat memastikan bahwa masker yang dipakai adalah masker yang melindungi dan memiliki lapisan anti virus yang benar. Pastikan pula yang dibeli memiliki izin edar yang benar.

Tidak cukup hanya protokol kesehatan 3M, ia menegaskan upaya lain berupa semua ruangan atau tempat umum baik tempat usaha, perkantoran, sekolah, tempat ibadah dll agar membuka jendela, ventilasi terbuka sangat penting untuk menghilangkan viral load di udara yang keluar dari orang-orang yang asimtomatik.

"WHO menganjurkan untuk membuka jendela dalam ruangan yang tertutup," katanya. Jika ruangan yang tidak bisa membuka jendela harus mengunakan pembersih udara (air purifier) yang dapat menyaring dan membunuh virus 99,9 persen.

Terkait masuknya B117 ke Indonesia, pakar epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, mengatakan pemerintah perlu memiliki kewaspadaan yang tinggi untuk menghadapinya. Apalagi B117 diketahui lebih menular.

Ia menekankan, penanganan mendasar pandemi Covid-19 adalah dengan menjalankan 3T dan 5M secara ketat. "Mutasi virus corona B117 ini diketahui lebih cepat menular hingga 70 persen dibandingkan dengan varian awal SARS-CoV-2 yang ditemukan di Wuhan, China. Makanya kalau ada strain baru, penularannya lebih tinggi 20 persen itu sudah hal yang sangat mengkhawatirkan," katanya kepada Republika, Rabu (10/3).

Kemudian, ia melanjutkan jika terjadi lonjakan kasus akibat varian B117 maka akan memengaruhi sistem pelayanan kesehatan seperti banyak kasus di rumah sakit termasuk banyak pasien yang masuk ICU. Artinya ini meningkatkan angka kematian atau jumlah orang yang meninggal.

"Sangat disayangkan jika otoritas berwenang dalam hal ini pemerintah, hanya menyampaikan fakta kalau B117 tidak mematikan. Pak Presiden Jokowi jangan hanya membuat laporan-laporan yang senang saja, ini berbahaya untuk masyarakat. Dan itu tidak sesuai pemahaman mendasar epidemiologi," kata dia.

Ia menyarankan sebaiknya Presiden Jokowi dan Menteri Kesehatan (Menkes) fokus pada 3T, 5M dan vaksinasi. "Kalau 3T dikendalikan secara benar dan 5M juga. Saya yakin kami dapat mengantisipasi virus ini. Tapi kalau 3T-nya saja sampai sekarang tidak memadai bagaimana menghadapi virus-virus yang baru," kata dia.

Program vaksinasi yang sedang bergulir juga diyakini masih bisa digunakan menangkal varian baru yang berasal dari Inggris. Pakar Biomolekuler Universitas Sriwijaya, Prof Yuwono, menegaskan vaksin Sinovac yang sedang digunakan di Indonesia bisa diandalkan untuk menangkal virus corona B117. Alasannya, Sinovac mengandung virus utuh.

"Virus utuh artinya reaksinya utuh. Sedangkan varian B117 berasal dari mutasi protein S (salah satu bagian virus Covid-19), jadi vaksin Sinovac bisa mengatasi mutasi-mutasi virus Covid-19," kata Prof Yuwono, Rabu (10/3).

Menurutnya vaksin Sinovac bereaksi ke seluruh tubuh, sehingga reaksi B117 akan langsung diatasi vaksin buatan China itu ketika masuk ke dalam tubuh seseorang. Reaksinya sama seperti jika Covid-19 masuk ke dalam tubuh.

Para ahli juga meyakini varian B117 tidak mempengaruhi efektivitas vaksin Sinovac, kata dia. Kandungan utuh virus di dalam vaksin tidak lepas dari penggunaan teknologi yang dilakukan China, berbeda dengan vaksin Pfizer yang hanya mengandung RNA virus sehingga masih dipertanyakan efektivitasnya.

Oleh karena itu ia meminta masyarakat ikut berpartisipasi dalam program vaksinasi Covid-19 yang saat ini telah mencakupi hampir tiga juta orang di Indonesia. Selain untuk mencegah B117 juga agar kasus baru Covid-19 bisa terus ditekan.

Selain itu Prof Yuwono mengimbau masyarakat tidak panik menghadapi B117 yang telah terdeteksi masuk ke Indonesia. Sebab varian itu tidak lebih berbahaya dari Covid-19.

"Tidak perlu heboh dengan B117, karena kita semua seharusnya sudah dewasa menghadapi informasi-informasi terkait virus, yang penting protokol kesehatannya dilaksanakan dan ditingkatkan lagi," ujar Prof Yuwono yang juga Dirut RS Pusri Palembang.

Sebelumnya diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta masyarakat tak perlu khawatir dengan temuan dua kasus positif Covid-19 yang terkonfirmasi sebagai varian baru hasil mutasi virus corona dari Inggris, B117. Presiden menyampaikan, sampai saat ini belum ada penelitian ilmiah yang menunjukkan varian baru ini lebih mematikan ketimbang varian yang selama ini menular di Indonesia.

"Saya mengimbau untuk tidak perlu khawatir karena ditemukannya dua kasus positif Covid-19 dengan mutasi virus corona dari Inggris atau B117. Dua orang yang terpapar varian baru tersebut saat ini sudah negatif dan belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa varian baru ini lebih mematikan," ujar Presiden Jokowi dalam keterangan pers, Kamis (4/3), malam.

Pemerintah, ujar dia, terus melakukan upaya pencegahan agar varian baru ini tidak menyebar. Jokowi pun mengajak masyarakat tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan sebagai wujud mitigasi agar tidak tertular.

Berdasarkan data terkini setidaknya sudah ditemukan empat lagi kasus positif varian B117. Kemenkes pertama mengonfirmasi penularan kasus varian baru Covid-19 asal Inggris, yaitu B117, di Indonesia bertambah. Sedikitnya kasus B117 naik menjadi empat hingga Senin (8/3) sore.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan, awalnya pihaknya mencatat ada dua kasus positif B117 di Indonesia hingga per 1 Maret 2021. "Kemudian, saat ini jumlah kasus B117 yang sudah ditemukan bertambah empat kasus. Ini didapatkan dari hasil pemeriksaan whole genome sequenzing (WGS) yang dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) bersama dengan 15 laboratorium lainnya di Indonesia yang juga melakukan pemeriksaan WGS," ujarnya saat memberikan pernyataan resmi virtual Kemenkes bertema "Penjelasan Kemenkes Terkait Mutasi Covid-19", Senin (8/3) sore.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar