Yamaha

Rasminah dan Hantu Perkawinan Anak di Indramayu

  Rabu, 24 Maret 2021   Erika Lia
Rasminah (tengah), salah satu penyintas perkawinan anak di Kabupaten Indramayu. (Ayocirebon.com/Istimewa)

INDRAMAYU, AYOCIREBON.COM -- Rasminah (34), warga Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, masih ingat alasannya menikah di usia belia.

Pada usia 13 tahun, Rasminah baru saja lulus sekolah dasar. Keterbatasan ekonomi membuatnya tak bisa melanjutkan sekolah ke tingkat SMP, sekalipun ia menginginkannya.

Alih-alih sekolah, orang tuanya punya rencana lain untuk Rasminah. Seorang pria asal Semarang, Jawa Tengah, dijodohkan dengannya.

"Saya nurut karena kasihan sama bapak ibu," tutur Rasminah.

Sang ayah dikisahkannya lumpuh, sehingga hanya sang ibu yang dapat menopang ekonomi keluarga. Sang ibu melakoni pekerjaan seadanya dengan menjadi buruh tani serabutan.

Mempertimbangkan kondisi keluarga, Rasminah pun mengesampingkan cita-citanya saat itu sebagai guru. Pun ia mengabaikan rasa cinta yang tak dimilikinya atas calon suami.

Rasminah tak menampik, masa remaja yang sedianya dapat ia isi dengan belajar dan bermain bersama teman-teman, tak dapat ia rasakan sejak menikah. Pada usia itu, ia harus dibebani tanggung jawab rumah tangga, mulai mengurus suami, rumah, hingga anak.

Bersama suaminya, Rasminah dikaruniai seorang anak. Sayang, usia pernikahan keduanya tak berlangsung lama ketika di tahun ke-2 suaminya pergi tanpa kembali.

Usia Rasminah saat itu baru 15 tahun. Tanpa suami, orang tuanya kembali menjodohkan ia dengan pria 1 desa dan pernikahan itu kembali dikaruniai seorang anak.

Namun, tak ubahnya pula dengan pernikahan pertama, sang suami ke-2 kembali pergi. Di usia pernikahan ke-2, Rasminah lagi-lagi tak beroleh penjelasan atas kondisi pernikahan mereka.

Ditinggal suami, Rasminah pun mencoba bertahan demi anak-anaknya dengan bekerja di Jakarta. Namun, ketika baru sekitar 3 bulan bekerja, orang tua memintanya pulang.

AYO BACA : Banyak yang Nikah Dini, MUI Dorong Pendewasaan Usia Perkawinan

"Saya dijodohkan lagi," ujarnya.

Kali ini, calon suaminya berusia jauh di atas Rasminah. Orang tuanya memilih pria tersebut sebab mengamati kemampuan ekonominya yang mapan, sehingga dipandang mampu menanggung Rasminah dan anak-anaknya.

Pernikahan ke-3 Rasminah membuahkan seorang anak. Namun, pada pernikahannya ini, Rasminah tak hanya mengurus suami dan anak-anaknya belaka.

Dia diserahi tanggung jawab mengurusi pula mertuanya. Bahkan, tak hanya mengurus rumah, dia harus mengurus sawah hingga memberi pakan ternak milik sang suami.

Sayangnya, rutinitas Rasminah membuat ia harus kehilangan 1 kakinya suatu waktu. Kejadian itu dialaminya ketika ular berbisa menggigit kakinya.

"Waktu itu saya sedang memberi makan ternak," ungkapnya.

Rasminah harus merelakan 1 kakinya tak bisa lagi digunakan. Ia pun harus bertumpu pada tingkat sampai kini.

Berbeda dengan 2 pernikahan sebelumnya, pernikahan ke-3 Rasminah berlangsung hingga 7 tahun. Namun, akhir pernikahannya kali ini terjadi saat sang suami meninggal dunia.

Sepeninggal sang suami, Rasminah kembali menikah dengan seorang pria asal Kecamatan Indramayu, Runata. Pria itu sampai kini masih menjadi suaminya.

"Alhamdulillah (menikah dengan Runata) sudah 8 tahun," katanya.

Bersama Runata, Rasminah mengaku baru mengalami perasaan bahagia. Keduanya dikaruniai 2 anak.

AYO BACA : Angka Pernikahan Dini di Indonesia Memprihatinkan

Rasminah tak dapat menutupi masa-masa yang dialaminya sebelum bersama Runata layaknya kegelapan. Terasa pahit getir ketika ia harus menjalani rumah tangga di usia belia, terlebih bahtera itu harus dia arungi bersama laki-laki tak dikenal.

Berkaca pada pengalamannya, ia pun tak menghendaki anak-anak perempuan lain di Kabupaten Indramayu harus mengalaminya. Bersama penyintas pernikahan dini lain, Endang Wasrinah dan Maryanti, Rasminah dan KPI Kabupaten Indramayu telah berupaya menghentikan pernikahan anak.

Didampingi sejumlah organisasi, mereka mengajukan permohonan judicial review ke Mahkamah Konstitusi untuk memperjuangkan perubahan UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Hasilnya, MK mengabulkan permohonan tersebut. Melalui Sidang Paripurna DPR pada 16 September 2019, disetujuilah Perubahan Terbatas UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, antara lain menaikkan batas umur minimal perkawinan perempuan dari 16 tahun menjadi 19 tahun, sama dengan laki-laki.

"Stop perkawinan anak, jangan ada lagi. Cukup saya saja, jangan sampai ada anak-anak lain yang batinnya hancur (karena pernikahan anak) seperti saya," tegas Rasminah.

Di Kabupaten Indramayu, angka pernikahan anak melonjak pada 2020 dari 2019. Kondisi itu dapat diamati dari peningkatan jumlah dispensasi nikah.

Merujuk pada laman SI-KABAYAN Pengadilan Tinggi Agama Bandung, jumlah perkara dispensasi nikah yang diterima Pengadilan Agama Kabupaten Indramayu pada 2019 tercatat 302 perkara. Sementara, yang diputuskan 251 perkara.

Dispensasi nikah pada 2020 meningkat 2 kali lipat sejumlah 761 perkara. Sementara yang diputuskan 753 perkara.

Humas Pengadilan Agama Kabupaten Indramayu, Engkung Kurniati dalam sebuah kesempatan menjelaskan, peningkatan dispensasi nikah pada 2020 dipicu perubahan Undang Undang Nomor 1 tahun 1974 pada 2019.

"Dalam UU itu sekarang batas usia menikah perempuan minimal 19 tahun dari sebelumnya 16 tahun. Untuk laki-laki tetap 19 tahun," terangnya.

Sayangnya, masyarakat Kabupaten Indramayu belum siap dengan perubahan itu sebab kebiasaan berlaku mereka menikah pada usia 17 tahun.

"Makanya, banyak yang mengajukan dispensasi nikah kepada kami supaya bisa segera menikah sesuai UU," katanya.

AYO BACA : Tegakkan Hak Pejalan Kaki, PKL di Kabupaten Indramayu Ditertibkan


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar