bank bjb
  
Yamaha

Bom Gereja Makassar Bangkitkan Rasa Trauma Pewarta

  Minggu, 28 Maret 2021   Editor
Bom Gereja Makassar Bangkitkan Rasa Trauma Pewarta
ilustrasi penangkapan teroris. (Antara/Adeng Bustomi)

SURABAYA, AYOCIREBON.COM -- Insiden ledakan bom kembali terjadi di Indonesia. Minggu (28/3/2021) pagi, suasana mencekam menyelimuti wilayah Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan.

Insiden ledakan yang diduga dilakukan oleh teroris menuai beragam kecaman dari sejumlah elemem masyarakat. Termasuk para pewarta dari Kota Surabaya.

Sejumlah wartawan yang sempat mengalami kejadian serupa, yakni meliput bom di 3 gereja pada Minggu (13/5/2018) dan Polrestabes Surabaya pada Senin (14/3/2021) mengecam kejadian itu. Mereka pun menuangkan pelbagai kisah tentang pengalamannya meliput kejadian pasca bom tersebut.

Salah satunya adalah Dadang Kurnia. Kepada Ayosurabaya.com, reporter media Republika itu mengaku takut akan terjadinya bom susulan. Mengingat, ledakan bom berlangsung selama 3 kali dalam sehari di lokasi yang berbeda. Pasca kejadian itu, ia merasa paranoid satu sama lain. Terutama dengan orang asing yang berada disekitarnya.

"Apalagi waktu itu beruntun, yang paling gak enak saling curiga satu sama lain. Misalnya, ada orang bawa tas ransel besar, tu takut. Apalagi diidentikan dengan pakaian-pakaian tertentu, jadi parno," kata pria yang akrab disapa Odong itu, Minggu (28/3/2021).

Dadang menjelaskan, tragedi yang berlangsung beberapa hari menjelang puasa Ramadhan kala itu memporak-porandakan sejumlah hal dan jadwal liputan yang sudah ada. Mau tak mau, suka tak suka, seluruh jurnalis, termasuk Dadang, harus berjibaku dengan risiko besar dalan meliput tragedi mencekam tersebut.

"Apalagi kejadiannya waktu itu kan beberapa hari menjelang puasa, apalagi pas lagi ramai-ramainya Ramadhan. Jadi, kayak bulan puasa yang harusnya disambut meriah oleh umat Islam jadi sepi, karena banyak yang takut, termasuk para wartawan di Surabaya," ujar pria berusia 30 tahun itu.

AYO BACA : Wagub Jabar Optimistis Warga 'Nakal' Paksakan Mudik Bakal Terjaring

Usai kejadian itu, pergerakan Dadang dalam meliput sejumlah kegiatan di sejumlah lokasi terbatasi. Misalnya, beberapa hari pasca kejadian dan ia hendak masuk ke dalam mal, penjagaan super ketat dilakukan pengelola. Hal itu cukup menghambatnya dalam melakukan aktivitas jurnalis.

"Aktivitas jelas terganggu, apalagi setiap tempat yang dikunjungi meningkatkan SOP (Standar Operasional Prosedur) pengamanan. Misalnya, bawa tas itu di cek sampe ke dalam-dalamnya. Padahal, kan ada barang-barang privasi yang seharusnya tidak boleh cek. Tapi ya mau bagaimana lagi, pasrah aja," aku pria warga Jambangan Gang 6 Surabaya itu.

Ia berharap, masyarakat lebih tenang dalam melakukan aktivitas sehari-hari bilamana mengalami hal serupa. Pun dengan kejadian saat ini yang mengingatkannya dengan insiden buruk kala itu. Selain menimbulkan korban, ia mengaku lelah lantaran harus melakukan peliputan nonstop tanpa memperhatikan rutinitasnya.

"Semoga jangan sampai ada lagi lah," kata pria asal Ciamis, Jawa Barat itu.

Senada, jurnalis Radar Surabaya, Muhammad Makhrus mengecam kejadian serupa. Menurutnya, seluruh aktivitasnya terganggu lantaran harus meliput sejumlah kejadian pasca bom. Mulai dari pengamanan terduga teroris oleh Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror di beberapa lokasi, evakuasi korban, hingga terbatasnya akses ke sejumlah tempat publik.

"Capek, kurang tidur, telat makan juga, pagi sampai malem nonstop. Hari kedua sempat ke rumah salah satu pelaku, dilakukan penggeledahan oleh Densus 88, dulu pak presiden langsung datang ke TKP, capek banget pokoknya," ujar pria berusia 26 tahun asal Tuban itu.

Meski tak merasa paranoid seperti yang dialami Dadang, namun ia cukup miris melihat ambulance berseliweran setiap jammnya. Makhrus berempati dengan para keluarga korban. Ia juga ingin hal serupa tak terulang di kota pahlawan. Pun dengan sejumlah daerah lainnya.

AYO BACA : Pengebom Gereja Katedral Makassar 2 Orang

"Waktu itu warga panik, sangat mencekam dan jalan-jalan ditutup. Setiap ada ambulance selalu kaget," tutur pria yang tinggal di Waru, Sidoarjo, itu.

Selaras dengan kedua pewarta itu, jurnalis Ayosurabaya.com juga merasakan insiden mencekam itu. Saat itu, ia ditugaskan redaktur untuk meliput bom yang terjadi di Gereja Santa Maria Tak Bercela dan GKI Diponegoro.

Ketika berada di GKI Diponegoro, ia bersama pewarta lain dari Antara dan Metro TV sempat melihat terduga pelaku yang membawa kedua putrinya tergeletak.

"Waktu itu belum ada police line, hanya ada Kapolsek dan Kanit Tegalsari Surabaya yang menyeterilkan lokasi. Tapi, masih terlihat jelas kondisi pelaku tergeletak di parkiran sepeda motor, yang letaknya hanya beberapa meter dari pintu gereja," ujar Praditya Fauzi, jurnalis Ayosurabaya.com.

Aroma amis darah segar begitu menyengat, pun dengan tubuh yang sudah terkoyak bekas ledakan bom dengan skala kecil saat itu. Warga berhamburan ke sana ke mari, sejumlah smartphone menyorot ke lokasi, dan isak tangis mengiringi kejadian pasca Istighosah Kubro di Mapolda Jatim saat itu.

"Awalnya, saya sedang liputan Istighosah Kubro di Mapolda Jatim pada Minggu paginya. Acara belum selesai, tapi aparat keamanan berlarian berhamburan, saat saya tanya 'tidak ada apa-apa'  Tapi, suara Walkie Talkie terdengar jelas ada ledakan bom. Saat itu info di grup-grup wartawan ramai tentang ledakan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela, beberapa menit kemudian di GKI Diponegoro, beberapa menit kemudian lagi di Gereja Pantekosta Arjuno," tutur mantan salah satu pewarta media lokal di Surabaya itu.

Pria yang akrab disapa Adit itu mengaku paranoid. Pasca kejadian, ketika memandang oang dengan tas ransel dan wanita bercadar, selalu menghindar. Pun dengan mengunjungi lokasi yang ramai, seperti Mall dan tempat ibadah.

Kesehatan Adit sempat terganggu dan sempat mengidap tipes lantaran 5 hari nonstop meliput aktivitas pasca bom tersebut.

"Jam istirahat, makan, dan liputan jadi berantakan, gak pulang sampai 5 hari, tidur disekitar TKP. Pas pulang, orang-orang rumah langsung meluk saya sambil nangis," tuturnya.

Oleh karena itu, insiden ledakan bom di Makassar pada Minggu (28/3/2021) pagi ini mengingatkan kenangan buruk kepada para jurnalis di Kota Surabaya. Bahkan, mereka turut mengecam kejadian serupa yang tidak manusiawi dan tidak mencerminkan segala ajaran keagamaan yang ada.

AYO BACA : Al Chaidar Duga Bom di Gereja Makassar Dilakukan JAD


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar