bank bjb
  

Berulang Sebabkan Tragedi, Standar Kerja Pertamina Mesti Diperbaiki

  Rabu, 31 Maret 2021   Erika Lia
Berulang Sebabkan Tragedi, Standar Kerja Pertamina Mesti Diperbaiki
Kebakaran kilang minyak Pertamina Balongan. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

INDRAMAYU, AYOCIREBON.COM -- Manajer Kampanye Energi dan Perkotaan WALHI Eksekutif Nasional, Dwi Sawung menilai, standar kerja PT Pertamina mesti perbaiki. 

Selain karena ledakan kilang minyak di Balongan, Indramayu, insiden yang membawa kerugian besar semacam ini terjadi bukan hanya sekali. Seperti tumpahan minyak di Balikpapan yang peristiwanya hari ini tepat genap berusia tiga tahun.

Peristiwa yang berulang membuat pihaknya mempertanyakan sistem pencegahan kecelakaan maupun budaya kerja atau HSE (health, savety, environment) atau K3 (kesehatan, keselamatan, keamanan lingkungan) di Pertamina.

"Perbaiki standar kerja di Pertamina," ucap dia, dihubungi Ayocirebon.com, Rabu (31/3/2021).

AYO BACA: Bau Gas Awali Ledakan Kilang, Warga Balongan Harusnya Sempat Dievakuasi
AYO BACA: WALHI Ingatkan Ancaman Kesehatan Warga Balongan

Pertamina Bisa Diancam Pidana 

Dia pun menyayangkan jatuhnya korban dalam peristiwa ledakan kilang minyak Pertamina di Balongan.

Seharusnya, ujar dia, cukup waktu untuk mengevakuasi warga sebelum ledakan tepat ketika bau gas menguar.

"Terciumnya bau gas/uap sebelum ledakan menunjukan terjadinya kebocoran dalam sistem kilang minyak balongan. Seharusnya cukup waktu untuk mengevakuasi warga sebelum terjadi ledakan dan kebakaran," paparnya.

Dwi menambahkan, ancaman pidana membayangi Pertamina. Semestinya, laporan warga atas bau menyengat yang menguar sebelum ledakan, segera ditindaklanjuti.

"Harusnya ada pidana juga karena warga sempat protes ada bau, tapi tidak diacuhkan. Jeda waktu itu semestinya dipakai untuk evakuasi sehingga tidak ada korban," tuturnya.

AYO BACA: Kilang Ditaksir Rugi Ratusan Miliar, Pertamina Janji Perbaiki Rumah Rusak Warga 
AYO BACA: Rumah Rusak, Pengungsi Ledakan Kilang Minyak Pertamina Balongan Harap Perbaikan 

Ancaman Kesehatan Warga

Menurut dia, sebab peristiwa itu, kesehatan warga terdampak ledakan dan kebakaran kilang minyak Pertamina terancam. 

Menurut Dwi, senyawa-senyawa hidrokarbon atau aromatik yang terbentuk dapat menyebabkan kematian ataupun kanker dalam jangka panjang.

"Semuanya (warga) rawan. Tapi, paling rentan bayi, orang tua, dan yang memiliki penyakit bawaan pernapasan," ungkapnya.

Korban terdampak ledakan karenanya disarankan melakukan pemeriksaan kesehatan, terutama organ pernapasan. Dalam hal ini, pihaknya menunjuk Pertamina sebagai yang paling bertanggungjawab atas kejadian ini untuk memfasilitasi pemeriksaan kesehatan lengkap.

Pemeriksaan kesehatan tak hanya dilakukan saat ini pasca ledakan, melainkan rutin setiap tahun. Dia menekankan pentingnya pemantauan kondisi kesehatan warga terdampak secara jangka panjang.

"Akibat jangka panjang dari peristiwa ini perlu dipantau," tegasnya.

AYO BACA: Pertamina Berulang Sebabkan Bencana Industri, KLHK Didesak Ajukan Pidana
AYO BACA: Kilang Meledak, Pertamina Didesak Mitigasikan Dampak Ekonomi dan Lingkungan 

Sementara itu, setidaknya 838 jiwa warga masih bertahan di pengungsian pasca ledakan dan kebakaran kilang minyak Pertamina RU VI Balongan, Kabupaten Indramayu, Rabu (31/3/2021).

Warga yang terdampak insiden itu dilokalisasi terpusat di GOR Bumi Patra, Desa Karangmalang, Kecamatan Indramayu.

Meski upaya pemadaman api mengalami kemajuan, otoritas setempat belum mengizinkan warga kembali ke rumah dengan alasan keselamatan.

"Warga belum dibolehkan pulang sebelum lingkungan tempat tinggal mereka dinyatakan aman," kata Plt. Sekretaris BPBD Kabupaten Indramayu, Caya Toha.

Pihaknya mendata sampai hari ini jumlah pengungsi 241 KK yang terdiri dari 838 jiwa. Mereka berasal dari 4 desa di sekitar kilang minyak yang meledak, masing-masing Balongan, Majakerta, Sukaurip, dan Tegalurung.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar