Yamaha

Fungsi Penerbangan Komersil Bandara Kertajati yang Tak Pernah Terwujud

  Kamis, 01 April 2021   Erika Lia
Penambahan fungsi Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka sebagai bengkel pesawat atau MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul) dipandang belum tentu berhasil. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

MAJALENGKA, AYOCIREBON.COM -- Penambahan fungsi Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka sebagai bengkel pesawat atau MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul) dipandang belum tentu berhasil. Sederetan tantangan dihadapi bandara yang proses pembangunannya menelan biaya sampai Rp2,6 triliun ini.

Pengamat penerbangan, Alvin Lie saat dihubungi Ayocirebon.com menilai, Bandara Kertajati tak pernah mencapai fungsi awalnya yang melayani penerbangan komersil. Dia bahkan meramalkannya akan sulit terwujud.

AYO BACA: Gubernur Ridwan Kamil: Bandara Kertajati Jadi Bengkel Pesawat Saja
AYO BACA: Menanti Senjakala di Tepi Tol Cisumdawu 

"Fungsi awal dari Bandara Kertajati memang tak pernah tercapai dan rasa-rasanya akan sangat sulit terwujud karena pemilihan lokasi bandara tak memenuhi syarat," kemukanya, Kamis 1 April 2021.

Pun begitu dengan fungsi bandara untuk pemberangkatan haji dan umroh. Dalam setahun, pemberangkatan haji hanya satu kali dan selebihnya hanya untuk umroh.

Untuk pemberangkatan jamaah umroh juga, menurutnya perlu mempertimbangkan jumlah jamaah dari Jawa Barat dalam 1 tahun. Itu pun harus diamati, warga Jabar bagian mana yang jumlah jamaahnya paling banyak.

AYO BACA: Dulu Mensos, Sekarang Bupati dan Anaknya di Bandung Barat Korupsi Bansos Covid-19
AYO BACA: Penurunan Tanah di Pantura Jawa dan Ancamannya

"Kalau yang di Cirebon-Majalengka (sekitarnya) itu mungkin dekat, tapi warga di bagian barat Jabar justru tidak praktis kalau harus datang ke Bandara Kertajati," tuturnya.

Di wilayah Kertajati sendiri belum ada fasilitas-fasilitas pendukung, seperti asrama haji, rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lain, maupun  multimodanya belum terbangun.

Semestinya, lanjut Alvin, Bandara Kertajati dibangun dekat dengan industri atau pasar industri ini, semisal industri manufaktur atau pusat perdagangan. Alih-alih mendekati pasarnya, bandara ini justru dibangun jauh dari populasi maupun industri, termasuk pula pariwisata.

"Nggak jelas, jadi memang agak sulit. Dialihfungsikan sebagai bengkel pesawat belum tentu juga berhasil," ujarnya.

AYO BACA: Indonesia Dapat Kuota Haji 64 Ribu, Benarkah?
AYO BACA: Kementerian Agama akan Gelar Sidang Isbat Penentuan Awal Puasa Pada 12 April 2021


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar