Yamaha

Sederet Tantangan 'Bengkel Pesawat' Bandara Kertajati Majalengka

  Jumat, 02 April 2021   Erika Lia
Penambahan fungsi Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka sebagai bengkel pesawat atau MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul) dipandang belum tentu berhasil. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

MAJALENGKA, AYOCIREBON.COM -- Penambahan fungsi Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka sebagai bengkel pesawat atau MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul) dipandang belum tentu berhasil. Sederetan tantangan dihadapi bandara yang proses pembangunannya menelan biaya sampai Rp2,6 triliun ini.

Pengamat penerbangan, Alvin Lie, tak menampik bengkel pesawat atau MRO Center menjadi alternatif pemanfaatan sebuah lapangan terbang dengan utilisasi rendah, seperti halnya Bandara Kertajati.

Lalu apa tantangan Bandara Kertajati dijadikan bengkel pesawati atau MRO Center?

Menurut pria yang juga anggota Ombudsman RI ini mengingatkan, tantangan untuk mewujudkannya tak sedikit. Terlebih, penambahan fungsi sebagai bengkel pesawat ini melibatkan GMF AeroAsia.

Dia mengungkapkan, GMF AeroAsia sudah berinvestasi besar-besaran di Bandara Soekarno-Hatta. Perusahaan ini telah membuat hanggar terbesar di Asia untuk perawatan pesawat.

"Untuk mereka pindah (dari Soekarno-Hatta ke Kertajati), tentu perlu pertimbangan bisnis, biaya-biaya dan investasi yang diperlukan lagi, kemudian yang di Soekarno Hatta itu nanti akan digunakan apa," katanya kepada Ayocirebon.com, Kamis 1 April 2021.

AYO BACA: Fungsi Penerbangan Komersil Bandara Kertajati yang Tak Pernah Terwujud
AYO BACA: Gubernur Ridwan Kamil: Bandara Kertajati Jadi Bengkel Pesawat Saja

Bila hanggar di Bandara Soekarno-Hatta digunakan perusahaan MRO lainnya, Alvin melihat kemungkinan terjadi persaingan atau muncul rival bagi GMF AeroAsia.

Di sisi lain, perwujudan MRO memerlukan fasilitas pendukung. Dia mengingatkan, para pekerja bengkel pesawat, seperti halnya teknisi maupun tenaga administrasi merupakan orang-orang berketerampilan tinggi/spesialis.

"Mereka juga menginginkan kehidupan yang layak, tak hanya gaji," ujarnya. 

Kehidupan layak meliputi pula kebutuhan bagi istri dan anak-anak mereka. Alvin menggambarkan, dalam kehidupannya, mereka setidaknya memerlukan sekolah, rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan dengan minimal berstandar nasional, perbankan, tempat belanja, hingga tempat hiburan.

Dalam hal itu, sepengamatan Alvin sejauh ini, Kertajati belum didukung fasilitas-fasilitas dimaksud. Tanpa fasilitas pendukung bagi tenaga ahli bengkel pesawat maupun keluarganya, akan menjadi tidak mudah mendatangkan mereka ke Kertajati.

Tantangan lain berupa kehadiran bea cukai dan imigrasi yang umumnya diperlukan MRO Center. Sebagai kawasan berikat, MRO Center membutuhkan kemudahan impor barang-barang atau suku cadang yang bebas biaya masuk.

"Sehingga ada prosedur-prosedur kepabeanan," cetusnya.

AYO BACA: Sampai Ada Korban Jiwa, Diduga Insiden Kilang Minyak Didalangi Kelalaian
AYO BACA: Kilang Balongan Terbakar Lagi, Begini Peringatan Walhi Sebelumnya

Belum lagi bila ada pilot-pilot asing yang membawa pesawat untuk diperbaiki atau untuk perawatan. Seluruhnya membutuhkan dukungan-dukungan tersebut.

Dengan kata lain, penambahan fungsi sebagai bengkel pesawat, tak hanya memanfaatkan lapangan terbang atau bandaranya. Fasilitas pendukung perlu pula disiapkan sebagai nilai tambah kepada daerah di kawasan sekitar Kertajati, bila dapat diwujudkan.

"Bukan tantangan yang mudah saya kira," cetusnya.

Secara keseluruhan, kondisi Kertajati dinilainya sangat parah. Tiada obat yang instan dapat menyembuhkannya.

Fungsi Awal Bandara tak Pernah Tercapai

Alvin menilai Bandara Kertajati tak pernah mencapai fungsi awalnya yang melayani penerbangan komersil. Dia bahkan meramalkannya akan sulit terwujud.

"Fungsi awal dari Bandara Kertajati memang tak pernah tercapai dan rasa-rasanya akan sangat sulit terwujud karena pemilihan lokasi bandara tak memenuhi syarat," kemukanya.

Pun begitu dengan fungsi bandara untuk pemberangkatan haji dan umroh. Dalam setahun, pemberangkatan haji hanya satu kali dan selebihnya hanya untuk umroh.

Untuk pemberangkatan jamaah umroh juga, menurutnya perlu mempertimbangkan jumlah jamaah dari Jawa Barat dalam 1 tahun. Itu pun harus diamati, warga Jabar bagian mana yang jumlah jamaahnya paling banyak.

"Kalau yang di Cirebon-Majalengka (sekitarnya) itu mungkin dekat, tapi warga di bagian barat Jabar justru tidak praktis kalau harus datang ke Bandara Kertajati," tuturnya.

AYO BACA: Pengumuman Lolos Prakerja Gelombang 16, Segera Lakukan Langkah Ini
AYO BACA: Jadi Tersangka Korupsi Bansos Covid-19, Bupati Bandung Barat dan Anak Sakit

Di wilayah Kertajati sendiri belum ada fasilitas-fasilitas pendukung, seperti asrama haji, rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lain, maupun  multimodanya belum terbangun.

Semestinya, lanjut Alvin, Bandara Kertajati dibangun dekat dengan industri atau pasar industri ini, semisal industri manufaktur atau pusat perdagangan. Alih-alih mendekati pasarnya, bandara ini justru dibangun jauh dari populasi maupun industri, termasuk pula pariwisata.

"Nggak jelas, jadi memang agak sulit. Dialihfungsikan sebagai bengkel pesawat belum tentu juga berhasil," ujarnya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar