Yamaha

Transformasi Munggahan dan Ujian di Tengah Pandemi Covid-19

  Kamis, 08 April 2021   Erika Lia
Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon, Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat menabuh bedug di Langgar Agung di komplek Keraton Kasepuhan Cirebon, Kamis (23/4/2020). (Ayocirebon.com/Erika Lia)

WERU, AYOCIREBON.COM -- Tradisi Munggahan lekat dimaknai sebagai sambutan atas datangnya bulan suci Ramadan. Di tengah pandemi Covid-19, penerapan protokol kesehatan (prokes) menjadi kunci yang menjamin keamanan dan keselamatan bersama.

Tradisi Munggahan umum dilaksanakan masyarakat Sunda. Namun begitu, tradisi serupa juga dilakukan masyarakat di Jawa Tengah maupun Sumatera Utara, dengan istilah Punggahan.

Di masyarakat Sunda, Munggahan diyakini berasal dari kata Unggah yang dalam Kamus Basa Sunda berarti kecap pagawean nincak ti handal ka ni leuwih luhur, naek ka tempat nu leuwih luhur (Danadibrata, 2006).

Beberapa referensi juga mengartikan munggah adalah naik dalam bahasa Indonesia. Sementara, dalam bahasa Jawa, Punggahan berasal dari kata Munggah yang pula berarti naik.

"Intinya tradisi Munggahan itu sebagai sambutan atas datangnya bulan suci yang penuh barokah dan ampunan, yang akan menaikkan derajat kita dari manusia penuh dosa menjadi lebih bertakwa," kata pemerhati budaya Cirebon yang juga pengajar budaya dan seni pada Poltekpar Prima Internasional Cirebon, Mustaqim Asteja kepada Ayocirebon.com, Kamis, 9 April 2021.

Menghadapi bulan suci, lanjutnya, umat muslim diharapkan menyiapkan diri lahir batin. Secara lahir, tak hanya menyiapkan keperluan selama ramadan untuk diri dan keluarga, melainkan pula dapat dilakukan dengan berbagi kepada sesama.

Sementara, kesiapan batin dapat diupayakan melalui peningkatan pemahaman atas hukum-hukum ibadah selama bulan puasa, baik wajib dan sunah.

"Nah, untuk mencapai kesiapan lahir dan batin itu ada tradisi Munggahan yang salah satunya berupa permintaan maaf antara orang satu dengan lainnya," tutur Mustaqim.

Tradisi saling bermaafan ini masih berlaku sampai kini, meski terdapat perbedaan dalam cara penyampaiannya. Dahulu, bermaafan dilakukan secara langsung dengan dihiasi pertukaran buah tangan, yang umumnya berupa makanan.  

Kebiasaan itu berbeda kini, ketika teknologi komunikasi lahir dan berkembang. Di sebagian masyarakat, tradisi bermaafan kini berpindah melalui beragam aplikasi perpesanan.

Gaya hidup yang tergantung pada teknologi belakangan menjadi relevan ketika Covid-19 mewabah. Meski begitu, gaya hidup tersebut dinilai tak mengurangi makna bermaafan.

Meski arus teknologi melaju, tradisi bermaafan secara langsung masih berlaku di sebagian masyarakat. Kebiasaan ini kebanyakan dilakukan sesama anggota keluarga dengan menggelar silaturahmi tatap muka.

"Malah, dulu itu ada namanya tradisi Bancakan di musala atau masjid. Orang berkumpul untuk makan bersama, makanannya berupa nasi dan lauk pauk sederhana yang alas sajinya berupa daun pisang," tambahnya.

Saat ini, tradisi Bancakan di musala dan masjid nyaris tak lagi dilakukan. Makan bersama di rumah makan atau restoran menjadi fenomena Munggahan yang berlaku di masa kini.

"Zaman dulu kan enggak ada restoran, kafe, jadi kumpulnya di rumah atau musala dan masjid. Malah dulu saling kirim makanan pakai rantang," cetusnya.

Selain bermaafan, tradisi lain berupa nyekar ke makam orang tua atau leluhur. Khusus di Cirebon, dikenal tradisi Dlugdag atau Drugdag yakni penabuhan bedug di Keraton Kasepuhan oleh Sultan Sepuh dan kerabat keraton.

Dilaksanakan setelah Salat Ashar pada akhir bulan Sya'ban, dlugdag juga dimaknai sebagai sambutan atas datangnya ramadan. Tabuhan bedug juga berfungsi sebagai pengingat kepada masyarakat untuk menyiapkan diri menghadapi bulan suci.

Secara umum, dia meyakini, tradisi Munggahan telah ada sejak Islam membumi di Nusantara. Dia mengingatkan tradisi jelang ramadan bukanlah momentum untuk berlaku berlebihan, melainkan sebagai pengingat atas kekuasaan Allah SWT dan keberkahan yang diberikan-Nya terhadap umat manusia.

Sayangnya, imbuh dia, selama hampir 2 tahun terakhir tradisi Munggahan memang menghadapi ujian sebab pandemi Covid-19. Karenanya, prokes yang ketat tetap harus diterapkan setiap orang untuk keselamatan dan keamanan bersama.

"Tidak perlu mendramatisir pandemi, yang penting prokes diterapkan," tutupnya.

Sementara itu, sejumlah warga mulai menyiapkan diri mendekati ramadan yang diprediksi datang pertengahan pekan depan. Seorang warga Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Nurhayati (65) mengaku, sudah merencanakan jadwal untuk nyekar ke makam orang tuanya.

"Rencana sih mau nyekar ke makam orang tua, kemudian bermaafan dengan anggota keluarga yang dekat saja," ungkapnya.

Dengan alasan penyakit bawaan dan usia yang tak lagi muda, dia terpaksa tak bisa mengunjungi anak maupun kerabatnya yang berada di luar kota. Dia pun memilih akan bersilaturahmi dengan mereka secara virtual.

Beruntung, masih ada anak dan beberapa kerabatnya yang lain yang tinggal di Cirebon. Dengan begitu, dirinya dan suami tak terlalu kesepian menyambut bulan suci nanti.

"Rencananya sih akan saling kunjung kalau yang masih 1 kota. Untuk prokes pasti diterapkan karena kan untuk kesehatan saya dan suami saya juga, saya enggak mau kalau orang lain enggak disiplin prokes," tegasnya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar