Yamaha

Memaknai Ramadan, Bulan Puasa Sarana Intropeksi Diri

  Jumat, 16 April 2021   Netizen
Ramadan adalah bulan istimewa bagi umat Islam karena banyak hikmah dan pelajaran berharga di dalamnya. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

AYOCIREBON.COM -- Tak terasa bulan Ramadan telah tiba. Bulan istimewa bagi umat Islam karena banyak hikmah dan pelajaran berharga di dalamnya. Bulan yang mestinya bisa dijadikan sebagai bahan merenungi diri dari segala kesibukan dunia yang seolah tak ada kata hentinya. Bulan yang juga menjadi sarana introspeksi agar pada bulan-bulan berikutnya kita dapat meningkatkan amal kebajikan sebagai bekal kelak bila kita telah berpulang pada-Nya.

Disadari atau tidak, puasa Ramadan menjadi cara bagi kita untuk meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan. Dalam buku Hidup Penuh Makna, Achmad Chodijm menulis; tujuan puasa adalah menjadi manusia bertakwa: manusia yang mampu menjaga dirinya di jalan yang benar dalam kehidupan ini. Jalan yang benar adalah jalan yang mengikuti hukum-hukum Tuhan, baik yang disebut hukum alam maupun hukum moral atau hukum baik dan buruk.

Sementara itu, Dr. Jamal Elzaky dalam Buku Pintar Mukjizat Kesehatan Ibadah menjelaskan bahwa puasa merupakan perantara atau jalan yang akan mengantarkan kaum muslim menuju derajat takwa. Jika nafsu dapat dikendalikan sehingga kita dapat menahan diri dari sesuatu yang halal karena mengharap rida Allah dan takut akan siksa-Nya yang pedih, niscaya nafsu akan terbiasa dan terlatih untuk menahan diri dari segala yang haram. Kewajiban puasa meniscayakan kita menahan diri dari segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah.

AYO BACA : Kondisi Gabah dan Beras di Indonesia di Tengah Polemik Impor

Tak hanya itu. Puasa, sebagaimana diurai oleh Dr. Jamal Elzaky (2015) akan melahirkan rasa cinta, kasih sayang, dan kelembutan kepada orang miskin. Ketika seseorang berpuasa dan mengalami kelaparan selama waktu tertentu, ia akan ingat kelaparan yang setiap saat dirasakan oleh orang miskin. Dengan begitu, ia akan bersimpati, menyayangi, mengasihi, dan berbuat baik kepada mereka. Jika kebaikannya itu dilakukan dengan ikhlas dan hanya mengharap rida Allah, niscaya Allah akan memberinya balasan kebaikan yang berlipat ganda, baik di dunia maupun di akhirat.

Semangat Menyambut Ramadan

Selama ini, setiap datang bulan Ramadan, umat Islam akan tampak begitu bersemangat menyambutnya. Lihat saja, mushala dan masjid akan tampak begitu ramai oleh para jamaah yang ingin menunaikan shalat Tarawih. Dari yang semula jarang dan enggan menyambangi tempat ibadah, tiba-tiba menjadi begitu bersemangat mendatanginya. Hal ini tentu pertanda baik dan mestinya menjadi pembiasaan. Artinya, jangan hanya pada bulan suci saja mereka mendatangi masjid dan mushala, tapi pada bulan-bulan lain juga seyogianya tak kalah semangat untuk beribadah shalat berjamaah, terlebih bagi kaum laki-laki.

AYO BACA : Penurunan Tanah di Pantura Jawa dan Ancamannya

Selain shalat Tarawih, amalan ibadah lain yang termasuk sunnah hukumnya dan biasa dilakukan pada bulan Ramadan adalah tadarus; membaca kitab suci Al-Qur’an bersama-sama di masjid atau mushala. Menurut saya, hal ini juga bagus bila dikerjakan tak hanya di bulan suci, tapi juga pada bulan-bulan berikutnya sepanjang tahun. Lebih bagus lagi bila tak hanya sekadar membaca, tapi juga berusaha memahami arti dan pesan yang terkandung di dalamnya.

Namun ada hal yang perlu digarisbawahi di sini, bahwa ketika bertadarus, tak perlu kita menggunakan pengeras suara dengan volume tinggi, karena hal ini dapat mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar yang bisa jadi sedang beristirahat usai bekerja seharian. Bolehlah kita memakai pengeras suara sebagai penyemangat, tapi hendaknya dengan volume kecil yang hanya terdengar di area masjid atau mushala saja. Artinya; tanpa terdengar hingga ke rumah-rumah warga.

Sedekah juga menjadi amalan yang biasanya digalakkan ketika Ramadan tiba. Lihat saja di sebagian tempat ibadah di daerah perkotaan, biasanya menjelang waktu berbuka tiba, pihak panitia masjid akan memberikan makanan dan minuman gratis bagi masyarakat umum. Hal ini menjadi pertanda bahwa banyak orang yang merasa terketuk hatinya untuk menjadi donatur, menyisihkan sebagian hartanya untuk dibelikan makanan dan minuman, lantas diserahkan kepada pihak pengelola masjid agar dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkannya. Menurut saya, membagi-bagikan makanan dan minuman termasuk bentuk sedekah yang sangat baik bila dilakukan tak hanya di bulan suci, tapi juga pada bulan-bulan selainnya.

Mudah-mudahan di bulan suci Ramadan ini, kita selaku umat Islam senantiasa diberi kesehatan, kesabaran, kekuatan, dan keikhlasan sehingga bisa menunaikan ibadah puasa dengan lancar. Amin. Wallahu a’lam bish-shawaab.

(Netizen: Sam Edy Yuswanto/Penulis lepas, bermukim di Kebumen)                               

Artikel ini sudah dimuat Ayobandung.com dengan judul Merenungi Hikmah Puasa Ramadan.

AYO BACA : Terima Kasih Linggarjati....


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar