bank bjb
  

Legenda Ki Jumad dan Larangan Menabuh Bedug di Masjid Desa Jatisawit Indramayu

  Sabtu, 17 April 2021   Erika Lia
Legenda Ki Jumad dan Larangan Menabuh Bedug di Masjid Desa Jatisawit Indramayu
Masjid Jami Nurul Muhtadien di Desa Jatisawit, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, yang tak melengkapi diri dengan bedug sebab legenda yang beredar di desa itu.

INDRAMAYU, AYOCIREBON.COM- Masjid dan musala di 2 desa di Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, tak serupa dengan masjid kebanyakan yang mengakrabi bedug. Legenda tentang siluman buaya melingkupi latarnya.

Bedug dan kentongan acapkali ditemukan di masjid dan musala. Biasanya, bedug dan kentongan akan ditabuh sebelum adzan atau panggilan salat dikumandangkan.

Namun, sebuah legenda yang beredar di tengah masyarakat Desa Jatisawit, Kecamatan Jatibarang, meniadakan keberadaan bedug dan kentongan. Kedua benda itu bahkan dilarang.

Di Masjid Jami Nurul Muhtadien, misalnya, tiada bunyi bedug atau kentongan sebelum adzan. Biasanya, muazin akan langsung melantunkan panggilan salat tanpa pendahuluan tetabuhan.

"Ini masjid dibangun sejak 1984. Sejak itu sampai sekarang enggak ada bedug," ungkap PJ. Kuwu (Kepala Desa) Jatisawit, Didin Nurudin.

Dia pun mengisahkan legenda yang dituturkan turun temurun di desa itu, yang menjadi alasan ketiadaan bedug dan kentongan pada masjid.

Adalah Ki Talun Kanta, seorang lebai (pengurus masjid), yang konon suatu hari menemukan siluman buaya bernama Ki Jumad di Sungai Cimanuk. Bersama sang istri, Ki Talun Kanta lantas mengangkat siluman buaya itu sebagai anak.

Keduanya mengetahui buaya tersebut akan berubah menjadi pemuda tampan setiap malam Jumat. Suatu kali, siluman itu mengunjungi sebuah pasar di Desa Jatisawit dan bertemu dengan seorang gadis, anak dari Ki Kuwu Jagantaka.

Sang gadis bernama Suniah jatuh cinta pada Ki Jumad yang dijumpainya. Dia bahkan ingin menjadi istri pemuda tersebut.

Meski Ki Talun Kanta membeberkan kebenaran identitas Ki Jumad, Suniah tak peduli. Gadis itu kadung mencintai sang pemuda tampan sampai akhirnya mereka menikah.

"Setelah nikah, Ki Humas membawa Sumiah ke Kerajaan buaya, tempat asalnya," tutur Didin.

Sayang, Suniah rupanya dilarang naik ke atap sebagai pantangan yang berlaku di kerajaan itu. Alih-alih mengikuti perintah sang suami, Suniah justru melanggar hingga berakibat dirinya harus dikembalikan ke dunia manusia.

Sekalipun telah berbeda dunia, Ki Jumad tetap ingin melindungi sang istri. Dia pun meminta Suniah membunyikan bedug setiap kali sang istri dalam keadaan bahaya atau darurat.

"Ki Jumad janji nanti bantuan dari kerajaan siluman buaya akan datang menolong," cetus Didin.

Kebijakan Ki Jumad mengandung konsekuensi. Mengingat setiap masuk waktu salat bedug akan selalu ditabuh, pasukan siluman buaya pun kerapkali muncul sebab menyangka Suniah meminta tolong.

Untuk mencegah kedatangan serombongan pasukan siluman buaya, masjid dan musala di Desa Jatisawit pun lantas dilarang menabuh bedug. Keberadaannya bahkan kemudian dihilangkan sama sekali.

Didin meyakinkan, legenda itu tak sekedar dongeng. Dia menceritakan, suatu kali warga 2 desa diisukan hendak tawuran.

Warga Desa Jatisawit pun menabuh bedug dengan harapan dijauhkan dari kejadian tak dikehendaki. Menurutnya, saat itu warga Jatisawit tak merasakan apapun.

"Tapi, warga desa tetangga mengaku melihat sekumpulan pasukan berbaju hitam yang siap nyerang. Akhirnya tawuran bisa terhindarkan," paparnya.

Kejadian lain semakin menguatkan legenda Ki Jumad. Saat itu, Sungai Cimanuk meluap dan mengancam Desa Jatisawit dan Desa Jatisawit Lor yang berbatasan langsung dengan Sungai Cimanuk.

Warga pun berinisiatif menabuh bedug dengan harapan air bah tak menerjang pemukiman mereka. Selepas itu, luapan Sungai Cimanuk diketahui tak menghampiri Jatisawit dan Jatisawit Lor.

"Akhirnya, bedug memang dilarang dibunyikan di sini, kecuali ada bahaya," tandas Didin


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar