Yamaha

Gubahan Musik Sampah Plastik, Berangkat dari Teror di Dalam Tanah

  Senin, 19 April 2021   Erika Lia
Ozi saat memainkan alat musik sampah plastik di Tabalong bersama Komunitas Seni Sinau Tabalong, Kota Cirebon, yang bertujuan menggugah publik untuk mengurangi plastik. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

HARJAMUKTI, AYOCIREBON.COM -- Plastik telah menjadi bagian dari keseharian manusia. Tak hanya mendatangkan manfaat dari nilai fungsinya, belakangan isu ihwal sampah plastik di sisi lain telah pula menjadi teror.

Berangkat dari kegundahan atas sampah plastik, Komunitas Seni Sinau Tabalong di Cirebon mencoba mengedukasi publik melalui inovasi alat musik dari sampah plastik. Sebagai awal, botol plastik disulap menjadi alat musik berskala pentatonik dan diatonik.

Adalah Sairozi atau akrab disapa Ozi, pria yang menggagas alat musik dari sampah plastik. Beberapa botol disusun sedemikian rupa sebelum berubah nama menjadi 'alat musik sampah' dan menggubah musik yang melintas di kepalanya.

"Musik sampah plastik lahir dari keprihatinan saya terhadap kebiasaan membuang sampah sembarangan, ada yang ke sungai, pinggir jalan, dan lainnya, tapi bukan pada tempatnya," ungkap Ozi kepada Ayocirebon.com seusai menggelar pertunjukan musik bertajuk Nyenyore di Tabalong, dengan penampilan spesial Musik Sampah Plastik, Minggu, 18 April 2021 petang.

AYO BACA : Masjid Jagabayan Cirebon Tempat Wali Musyawarahkan Penyebaran Islam

Keprihatinan itu salah satunya pula lahir dari pengalamannya saat menyaksikan penguburan jenazah dengan plastik di antara tanah yang digali. Dia menyadari, begitu lekat manusia dengan plastik, tak hanya saat hidup bahkan ketika sudah tak lagi bernyawa.

"Kita seperti diteror plastik, dari lahir sampai meninggal," cetusnya.

Gagasan atas sampah plastik pun mengemuka di pikirannya. Dengan keahliannya bermain musik, dia pun mencurahkan isi hati dan kepalanya melalui penciptaan alat musik dari botol plastik bekas.

"Saya coba-coba mainkan nada dan suaranya harmonis, akhirnya bisa diterima," ujar Ozi yang juga salah satu personil Rumput Laut Band ini.

Dari hasil coba-cobanya itu, dia menemukan botol plastik bekas bisa menjadi alat musik berskala pentatonik dan diatonik. Fleksibilitas pada hasil inovasinya itu semakin mencuatkan semangatnya.

AYO BACA : Legenda Ki Jumad dan Larangan Menabuh Bedug di Masjid Desa Jatisawit Indramayu

Dia pun membawa idenya ke komunitas tempatnya bergabung, Komunitas Sinau Art Tabalong. Beberapa musisi dari komunitas itu pun bersedia turut ambil bagian sebagai pengiring.

Memanfaatkan waktu ngabuburit, mereka pun membuat pertunjukan kecil di Tabalong (Taman Belajar Cikalong), sebuah ruang publik di tepi Sungai Cikalong di Kelurahan Larangan, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Masyarakat diundang untuk menikmati waktu sore sambil menunggu waktu berbuka puasa.

Alat musik sampah plastik hasil inovasi Ozi mengiringi terbenamnya matahari, diiringi alat musik lain seperti seruling. Dari alat musik sampah plastiknya, Ozi menciptakan 2 instrumen musik bertema teror plastik dan alam.

"Kami ingin menggugah masyarakat mengurangi penggunaan plastik atau memanfaatkan sampah plastik menjadi sesuatu yang lebih berguna dalam keseharian," kemukanya.

Mereka, imbuhnya, terutama ingin mengedukasi anak-anak tentang sampah plastik. Di sisi lain, mereka pula hendak menginsipirasi anak-anak untuk mencintai alam maupun musik.

Menurut Ozi, tak hanya sampah plastik, sampah berbahan lain, seperti logam maupun kertas, dapat diubah sebagai alat musik. Kelak, dia menargetkan untuk mewujudkannya.

Sejauh ini, mereka sendiri berencana tur keliling beberapa daerah untuk menggelar pertunjukan musik sampah plastik. Misinya, semua orang tergugah dan terinpirasi.

"Supaya lebih banyak orang menyadari penggunaan plastik dan dampak yang ditimbulkannya pada lingkungan," tandasnya.

AYO BACA : Warga Cirebon Raya Protek Tak Ditoleransi Mudik Lokal


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar