Yamaha

Keutamaan dan Pahala Shalat Tarawih Berjamaah di Masjid maupun Sendiri

  Kamis, 22 April 2021   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Keutamaan Sholat tarawih 11 rakaat maupaun 23 rakaat

AYOCIREBON.COM---- Seluruh umat muslim sudah mengetahui bahwa bulan Ramadan adalah bulan penuh kebaikan, bulan suci, dan penuh rahmat. Di bulan suci ini, tidak ada habisnya umat muslim bisa meninggikan bulan Ramadan dibanding bulan yang lainnya. 

Selain itu, Keistimewan bulan Ramadan adalah diwajibkan bagi umat muslim untuk menjalankan puasa sebulan penuh, dan akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, seperti tercanrum dalam hadist Rasulullah bersabda yang artinya: Orang yang berpuasa ramadhan karena iman dan penuh keikhlasan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (H.R Bukhari).

Di samping berpuasa ada satu ibadah Qiyamullail yang dimuliakan Allah SWT bagi umat muslim yaitu salat tarawih. Salat Tarawih atau salat qiyamullail (qiyamul ramadhan) menjadi salah satu ibadah sunah yang dikukuhkan atau utama di bulan Ramadan. 

Ada dalil salat tarawih yang dikerjakan dengan delapan rakaaat adalah hadis Nabi Muhammad SAW diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Aisyah R.A. Dari Aisyah, istri Nabi SAW (diriwayatkan bahwa) ia berkata, "Pernah Rasulullah melakukan salat pada waktu antara setelah selesai Isya yang dikenal orang dengan ‘Atamah hingga Subuh sebanyak sebelas rakaat di mana beliau salam pada tiap-tiap dua rakaat, dan beliau salat witir satu rakaat .

Sementara, beberapa tabiin meriwayatkan pengerjaan salat tarawih dengan jumlah 20 rakaat pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Yazid bin Rauman menyebutkan, "Umat Islam di masa Umar beribadah di malam bulan Ramadan dengan 23 rakaat" (al-Muwatha’ Malik, 1/115).

Sedangkan Yahya bin Said al-Qathan menyatakan, "Umar memerintahkan seseorang menjadi imam salat Tarawih dengan umat Islam sebanyak 20 rakaat" (Riwayat Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf, 2/163).

Ustaz Adi Hidayat menyampaikan, sedianya salat Tarawih merupakan bentuk pengabdian, ketundukan, dan kepatuhan hamba ke pada Sang Pencipta, Allah SWT. Ibadah ini hanya disediakan Allah pada bulan Ramadan. Bahkan ada rahasia keajaiban salat tarawih pada tiap-tiap malamnya.

Dihadiskan dengan sangat jelas, Allah SWT menyimpan pahala dan kenikmatan besar lainnya bagi yang menjalankan salat tarawih. 

Ustaz Adi Hidayat yang juga Direktur Quantum Akhyar Institute itu menyampaikan, melihat keterangan hadis dari Sayyidah Aisyah radhiyallau 'anha yang tercantum dalam kitab sahih Imam al-Bukhari tentang sifat salat malam nabi Muhammad SAW.

Diceritakan ustaz Adi, neberapa orang sahabat datang dan bertanya kepada Sayyidah Aisyah tentang sifat salat malam Nabi Muhammad SAW. Selain menyebutkan tentang bilangan salat malam Nabi Muhammad SAW, yang paling menarik adalah Sayyidah Aisyah juga memberikan gambaran sifat salatnya. Sayyidah Aisyah mengatakan, ‘tapi jangan tanyakan tentang bagusnya bacaan dan salat beliau itu dan panjangnya’. Pernyataan ini dimaksudkan salat Nabi Muhammad SAW begitu bagus, enak, dan panjang bacannya.

AYO BACA : Tata Cara Sholat Tarawih 2 Rakaat Salam dan 4 Rakaat Salam sesuai Sunah rasul

Penasaran dari situ, beberapa sahabat memutuskan untuk bisa tahu tentang keadaan sifat salat Nabi. Karena itu, dalam beberapa waktu mereka pernah salat di belakang Nabi SAW. Adapun Komentar Hudzaifah sahabat Nabi ketika salat di belakang Nabi Muhammad SAW, ‘Demi Allah, tidak ada salat yang paling nikmat kecuali salat dibelakang Nabi. Jika membaca ayat doa beliau berdoa, jika membaca ayat tentang ampunan, beliau memohon ampunan untuk umatnya, jika ayat-ayat tentang surga berhenti sejenak memohon supaya diberikan kenikmatan surga. Demikian lah tak terasa rakaat pertama itu 100 ayat dibacakan.'

"Masyaallah jadi dari 11 rakaat, kalau rakaat pertamanya 100 ayat. Karena itu Sayyidah Aisyah mengatakan jangan tanya panjangnya," kata ustaz Adi melalui chanel YouTube pribadinya, Adi Hidayat Official yang dilihat Ayobandung.com, Rabu (29/4/2020). 

Ustaz Adi pun kembali menceritakan pengalaman sahabat rasul yang lainnya. Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, satu sahabat nabi yang lain juga penasaran, dan suatu waktu ikut salat di belakang Nabi SAW. Beliau berkomentar ‘Nikmatnya salat di belakang Nabi SAW. Dan aku kira 100 ayat akan ruku, ternyata diteruskan sampai selesai Al-baqarah 286 ayat. Aku kira akan ruku ternyata disambungkan Ali-Imran sampai 200 ayat, aku kira akan ruku ternyata menyambung ke An-Nisa 176 ayat’. 

"Ternyata satu rakaat itu, dalam periode beliau (sahabat nabi) jadi makmum di belakang Nabi itu 5 zuz 4 halaman baru ruku. Anda terbayang? Jadi pengalaman sahabat Nabi salat di belakang Nabi satu rakaat bisa 5 zuz 4 halaman, masyallah, terbayang ya? Ini kualitasnya."

"Anda bisa gak bayangkan dengan panjang bacaan ayatnya kira-kira kalau sekarang ada imam kemudian makmumnya di belakang bisa bertahan gak kalau imamnya membaca rakaat pertama 100 ayat?  Rakaat kedua 100 ayat, sampai misalnya salatnya sampai 11 rakaat? Mohon maaf, kira-kira kalau imamnya salah lihat ke belakang berapa yang tersisa? Jangan-jangan yang tersisa malaikat yang tak nampak, begitu assalamualaikum, jamaah sudah bubar semua," katanya Ustaz Adi berseloroh.

Ustaz Adi menyampaikan, pada zaman Nabi Muhammad SAW, istilah tarawih memang belum dikenal. Istilah itu baru muncul pada era sahabat, khususnya Khalifah Umar bin Khattab. Pasalnya  sepeninggal Nabi Muhammad SAW, Islam semakin meluas, beberapa sahabat melihat bahwa kualitas-kualitas umat setelahnya tidak seperti umat-umat sebelumnya, di mana bisa bertahan lama dalam salat, yang bisa bernikmat-nikmat dalam menunaikan salat malam. 

akhirnya Khalifah Umar bin Khattab menginisiasi bagaimana caranya tetap bertahan bacaannya tetap 100 ayat atau 5 zuz tapi tidak hilang dalam suasana salat ini, tapi orang juga tidak mampu harus bertahan lama-lama berdiri. Maka Umar bin Khattab menginisiasi massa berdirinya dikurangi, tak terlampau panjang, tapi kemudian ayatnya pun tak berkurang. 

Alhasil, Khalifah Umar bin Khattab yang terkenal jenius melihat kembali hadis nabi Muhammad SAW, di hadis muslimin kata nabi ‘salat malam itu tunaikan 2 rakaat, setelah itu 2 rakaat, setelah itu 2 rakaat, tak ada batasnya yang penting kalau khawatir fajar akan segera tiba segera tutup dengan witir satu rakaat’. Hadis ini menunjukkan tam ada ada batas bilangan dalam tarawih.

Umar bin Khattab pun melihat Ramadan sebagai bulan al-qur'an. Apalagi dicontohkan Nabi Muhammad SAW dengan memperbanyak membaca al-qur'an. Terlebih amalan yang cepat menghadirkan pahala adalah membaca al-qu’ran. Bahkan setiap hurufnya diganjar 10 pahala. Sesuai hadis sahih 'siapa yang bisa membaca satu huruf saja dari kitab Allah, Al-qur'an, dia padanannya dapat 10 pahala.

"Bayangkan satu hurufnya 10 pahala. karena itu saat Ramadan Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada kita banyak baca Al-qur'an, banyak baca Al-qur'an supaya pahala melimpah. Karena itu lah dalam salat malamnya beliau memperbanyak bacaan ayatnya sehingga memberikan contoh kepada kita akan banyak limpahan rahmat didapatkan dari Allah SWT," kata Ustaz Adi.

AYO BACA : Bacaan Niat Sholat tarawih 11 Rakaat dan Lengkap Niat Sholat Witir

Melihat hadis tersebut, Khalifah Umar bin Khattab tidak ingin kehilangan keutamaan ini.  karena itu, di era pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, beliau menetapkan bilangan ini tapi berdirinya terasa ringan dari sebelumnya. Maka sebagai alternatif yang awalnya satu rakaat 100 ayat dibagi ke dalam dua rakaat yakni menjadi 50 ayat-50 ayat per rakaat. Jumlah rakaat pun dikali dua maka 10 pun dikalikan dua maka jadilah 20 rakaat salat malam.

Sementara untuk penutup dengan witir, cara terbaiknya satu rakaat witir dipecah jadi syafa dan witir. Pasalnya bila satu rakaat dibagi dua masih genap. Alhasil sebagai jalan terbaiknya dijadikan tiga. Sehingga jumlahnya 23 rakaat. Rakaat inilah yang populer juga dikerjakan dengan jumlah bilangan 23 rakaat. Ustaz Adi pun menjelaskan, dasarnya rakaat ini sahih berdasarkan dari hadis Nabi SAW, yang diinsiasi atau diwujudkan oleh Umar bin Khattab. 

"Jika Anda ingin yang standar silakan 11 rakaat, cuman Nabi bacanya panjang, itu kalau kita ingin ikuti. Tapi kalau sulit pun kemudian kata Umar bagaimana caranya pahalanya tetap banyak, tapi bertahannya tak terlalu lama. Maka jadikan jumlah bilangan rakaatnya jadi panjang supaya ayatnya bisa di pecah-pecah. Ini yang mejadikan bilangan  23 rakaat. Asalnya kesitu," ucapnya.

Ustaz Adi menjabarkan, sedianya poinnya, umat bisa tetap menjaga bacaan banyaknya yang bisa dihadirkan dari Al-qur’an itu supaya rahmat tetap didatangkan. Namun Rasulullah menyadari, kualitas ketaatan umatnya berubah dari masa ke masa. Bahkan Nabi Muhammad SAW mengakui, umat yang paling bagus dari konteks ketaatan adalah unat yang semasa dengannya. Kemudian selanjutnya, kemudian selanjutnya. 

"Jadi kalau umat dulu bertahan 100 ayat di belakang Nabi, umat setelahnya bertahan 50 ayat, umat setelahnya bertahan 40 ayat, mungkin sampai kita ini umat yang bertahan di belakang imam 5 ayat/4 ayat, itu standar."

"Jadi tak mengapa kalau pun ada orang 11 rakaat, satu ayatnya dibaca 4 ayat, 5 ayat, boleh. Tapi kalau kita bisa tambahkan dari setiap hari meningkat akan mebih baik. Jangan sampai sudah 11 rakat, yang dipilih ayat yang luar biasa sangat pendek, jangan, tidak elok rasanya," kata Ustaz Adi.

Ustaz Adi mengatakan, poin dalam penunaian salat dengan 11 atau pun 23 rakaat ini pun sama-sama kuat, terdapat contoh kuat, diikat dengan dalil-dalil yang tersambung ke Nabi Muhammad SAW. Karenanya, tidak perlu dijadikan bahan perdebatan. Pasalnya dengan umat islam yang saling menghormati akan ada kekuatan dan dasyatnya kerukunan keislaman di Indonesia. 

Selain itu, Ustaz Adi juga mengatakan, rahasia lain dari salat malam di Ramadan ini berdasarkan sifatnya. Salah satunya sifat salat malam itu diambil yakni sesuatu yang dikerjakan dengan santai yang setiap gerakan dan bacaannya mempengaruhi kepada ruh atau jiwa atau disebut dengan tarwihah. Sementara bila dikerjakan dua kali, tiga kali, 11 kali, atau 23 kali dikerjakan maka bentuk sifatnya  menjadi jamak dari tarwiyah menjadi tarawih. 

"Sebetulnya salat tarawih itu yang disebut salat malam tadi, tarawih itu sifatnya. Jadi kalau ingin menunaikan salat ini sehingga mendapatkan manfaat yang disebutkan oleh Nabi SAW berpeluang diampuni dosa kita, nyaman ruh kita, maka kerjakan dengan tarawih, kerjakan dengan tenang jangan buru-buru," katanya.

Ustaz Adi juga menegaskan, selama menjalan salat ini umat muslim jangan hanya menunaikan qiyam (salat malam) tetapi tidak dapat apapun dalam qiyamnya kecuali lelah saja berdiri. Hal Itu pula  yang dikhawatirkan oleh nabi Muhammad SAW. Karena itu, para ulama mempopulerkan nama tarawih dibandingkan qiyam sebab salat malam itu adalah qiyam ettapi tidak semua orang yang menjalankan qiyam bisa memiliki sifat tarawih.

"Karenanya, bila ada imam baca bacaan yang bagus sehingga terkesan kepada jiwa makmumnya, dibacakan dengan santai duduk dulu, doa dulu sehingga terasa kenikmatannya, dan ketika kenikmatan itu dirasakan, itu lah yang mendatangkan ampunan Allah SWT, itu lah tarawih."

"Nabi seakan ingin mengatakan pada kita ‘kalau Anda bagun di malam Ramadan ini jangan sia-siakan karena belum tentu semua malam itu bisa Ramadan kerjakan dengan tarawih, itu maksudnya," ujar Ustaz Adi.

AYO BACA : Jadwal Puasa Lengkap Seindonesia PDF


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar