Yamaha

Sentil PLTU Indramayu dan Cirebon, Walhi Jabar: Pengaruhi Kerusakan Iklim

  Kamis, 22 April 2021   Idham Nur Indrajaya
Menurut Walhi, pertumbuhan PLTU sebabkan perubahan iklim. (Ayobandung.com/Idham Nur Indrajaya)

BANDUNG, AYOCIREBON.COM -- Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jabar menggelar aksi damai memperingati Hari Bumi 2021, di persimpangan Jalan Cikapayang, Kota Bandung, Kamis, 22 April 2021. 

Aksi tersebut digelar dengan membawa dua agenda pernyataan aspirasi, di antara lain penolakan Omnibus Law, dan kritik terhadap pertumbuhan industri yang dinilai oleh organisasi tersebut telah memberi dampak negatif terhadap lingkungan.

"Aksi ini satu skema dengan Walhi di 28 provinsi, salah satunya aksi dalam menolak Omnibus Law karena aturan ini akan menambahkan rentetan kerusakan iklim," ujar Manajer Pendidikan dan Kaderisasi Walhi Jabar, Haerudinas saat ditemui di persimpangan Cikapayang. 

AYO BACA: Pemkab Kuningan Buka Pasar Murah, Ini Daftar 36 Desa yang Bakal Dikunjungi 
AYO BACA: Ruang Gerak Jozeph Paul Zhang Dipersempit, Keluarga Diperiksa 

Terkait dengan Omnibus Law, Walhi mengkhawatirkan nantinya pertumbuhan industri yang memberikan dampak negatif terhadap lingkungan menjadi sulit dikendalikan karena adanya perizinan yang disentralisasikan ke pusat.

Selain persoalan Omnibus Law, Haerudinas beserta teman-teman Walhi menyoroti soal bertumbuhnya industri PLTU yang memiliki andil dalam perubahan iklim. Menurut penilaian Haerudinas dkk, kondisi lingkungan Jawa Barat saat ini sudah cukup parah karena adanya industri-industri tersebut. 

"Yang kedua, melawan penjahat lingkungan dan pulihkan Jawa Barat karena di Jabar banyak kawasan-kawasan ekonomi khusus seperti PLTU di Indramayu, Cirebon, yang terus bertambah dan merupakan rentetan industrik ekstraktif yang sangat parah dalam mempengaruhi kerusakan iklim," sambung Haerudinas.

AYO BACA: Boleh Dipakai Ulang, Begini Panduan IDI Merawat Masker N95
AYO BACA: Mutasi Covid-19 Sudah Tersebar di Seluruh Provinsi Indonesia 

Perubahan iklim itu pun pada akhirnya menjadi pemicu fenomena alam yang dapat menjadi bencana, di antara lain fenomena angin puting beliung, siklon, dan bencana-bencana lainnya yang berkaitan dengan iklim. 

"Seperti angin puting beliung di wilayah Cimenyan, Kabupaten Bandung, itu kan bukan bencana yang sudah ada awalnya, tapi timbul akibat ulah tangan manusia. Akhirnya, terjadi pergolakan udara sehingga terjadi perubahan iklim," ujar Haerudinas. 

Bahaya yang timbul dari asap limbah pabrik PLTU pun bukan ditinjau oleh Walhi dapat menyebabkan bahaya bagi manusia karena efek samping yang ditimbulkannya. Jika warga dalam radius tertentu di sekitar PLTU terlalu sering menghirup asap pabrik, penyakit yang dapat timbul bahkan bisa menyebabkan kematian. 

"Dari hasil riset kita di Indramayu dan Cirebon, hasil pembakaran yang berterbangan dalam ukuran kecil itu dapat membahayakan manusia dalam radius 5 hingga 10 kilometer," ujar Haerudinas. 

Mengingat situasi itu, Walhi Jabar pun terus berupaya untuk mengimbau kepada masyarakat luas untuk lebih menaruh perhatian terhadap dampak negatif dari pertumbuhan PLTU yang ada di wilayah Jabar. Ditambah lagi, dampak dari PLTU yang ada di wilayah Indramayu dan Cirebon dapat meluas ke banyak wilayah, termasuk Lota Bandung. 

AYO BACA: Alasan Emil Jorjoran Revitalisasi Alun-alun se-Jabar 
AYO BACA: Walau Gugat Cerai Sule, Nenek Nathalie Holscher Singgung Peluang Damai 


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar