Yamaha

Zaskia Adya Mecca Menyoal Toa Masjid, Begini Seharusnya Adab Bangunkan Sahur

  Minggu, 25 April 2021   Editor
Zaskia Adya Mecca beberapa waktu lalu memperoalkan tentang penggunaan toa dalam membangunkan sahur. (Foto tangkapan layar Youtube/Thebramantyo)

BANDUNG, AYOCIREBON.COM -- Belum lama ini, artis Zaskia Adya Mecca menyoalkan cara membangunkan sahur di lingkungan tempatnya tinggal karena dilakukan dengan cara berteriak sambil menggunakan toa masjid.

Menurut seorang ustadz sekaligus Dosen Pendidikan Bahasa Arab UPI Bandung, Rinaldi Supriadi, dalam adab membangunkan sahur dengan toa masjid haruslah berdasar prinsip qaulan layyinan atau perkataan yang lembut dan sopan. Kesadaran harus menjadi kunci masyarakat ketika melakukan praktek itu.

Rinaldi menuturkan bahwa cara yang dipakai dalam video tersebut memang terlalu keras, dan ada sedikit kekeliruan.

AYO BACA : Uu Minta ASN di Jabar Jadi Contoh Turuti Larangan Mudik

"Harus menjaga warga yang beragama lain, ini merupakan perbuatan yang sedikit keliru dalam aspek suara," katanya kepada Ayobandung.com, Sabtu, 24 April 2021.

Dalam hukum Islam sendiri, urusan membangunkan sahur menggunakan toa mesti ditarik ke urusan fiqih untuk mengetahui hukum asal segala sesuatu sehingga suatu perbuatan diperbolehkan.

"Membangunkan masyarakat menggunakan toa masjid belum ada hukumnya apa-apa maka dengan didasari kaidah tersebut sebetulnya sah-sah saja masyarakat melakukan itu. Kecuali MUI membuat fatwa bahwa membangunkan sahur menggunakan toa masjid tidak boleh atau haram," jelasnya.

AYO BACA : Mengatur Pola Tidur Sehat Saat Puasa Ramadhan

Kendati begitu, Rinaldi memandang, penggunaan toa mesjid untuk membangunkan sahur dapat juga dilihat dari perspektif psikologi dan sosiologi. Dalam perspektif psikologi ia mengutip  surat Al-Isra ayat 70 tentang penciptaan manusia yang memiliki perbedaan baik dari wajah, sifat, bahkan fisik. Berdasarkan hal itu, respons masyarakat terhadap penggunaan toa untuk membangunkan sahur, tambah Rinaldi, sudah pasti berbeda-beda.

"Ada yang merasa terganggu dengan hal tersebut dan dia mengutarakan itu di depan masyarakat atau media sosial, ada yang merasa terganggu namun tak berani mengutarakannya karena takut ada hal yang tidak diinginkan, ada yang mempunyai sifat acuh tak acuh karena itu hak masyarakat atau karang taruna setempat, ada juga mungkin yang menganggap bahwa ini sudah menjadi hal yang lumrah atau biasa," tambahnya.

Sedangkan dalam perspektif sosiologi ia mengutip surat Al-Hujurat ayat 13.

"Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia berbeda-beda agar adanya interaksi antar sesama manusia untuk saling mengenal dan mempelajari. Sebelum kita mengambil sikap sesuatu kita harus tahu terlebih dahulu keadaan masyarakat sekitar," tutupnya.

Sementara itu, Kementerian Agama (Kemenag) dalam pelaksana Subdirektorat Kemasjidan, Fakhry Affan menyampaikan bahwa masyarakat diminta menggunakan cara yang santun dalam membangunkan orang untuk sahur. Hal tersebut sesuai dengan aturan pembangunan sahur dengan toa masjid yang telah diatur sejak tahun 1978. (Maswanajih)

AYO BACA : Polisi Awasi Lab dan Rumah Sakit Jual Surat Bebas Covid-19


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar