bank bjb
  

Sholat Witir, Kumpulan Hadist Sholat Witir, Fungsi Sholat Witir dan Jumlah Rakaat

  Rabu, 28 April 2021   A. Dadan Muhanda
Sholat Witir, Kumpulan Hadist Sholat Witir, Fungsi Sholat Witir dan Jumlah Rakaat
Sholat Witir, Kumpulan Hadist Sholat Witir, Fungsi Sholat Witir dan Jumlah Rakaat Sholat Witir [dokumen ayobandung]

AYOCIREBON.COM—Sholat witir bukan hanya sekedar sholat pentup yang dikerjakan setiap malam.  Namun, ada makna dan keutamaan dari Sholat witir. Bagaimana Cara Sholat Witir, Apa Fungsi Sholat Witir, Berapa Rakaat Sholat Witir simak penjelasannya

Dilansir dari  almanhaj.or.id dijelaskan bahwa Allah SWT menutupi kekurangan sholat fardhu dengan sholat-sholat sunnah dan memerintahkan untuk menjaga dan melaksnakannya secara berkesinambungan.

Di antara sholat sunnah yang diperintahkan untuk dilakukan secara kontinyu, yaitu sholat Witir.

Dijelaskan Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam dalam sabdanya:

 إِنَّ اللَّهَ زَادَكُمْ صَلَاةً فَحَافِظُوا عَلَيْهَا وَهِيَ الْوَتْرُ أخرجه أحمد

Sesungguhnya Allah telah menambah untuk kalian satu sholat, maka jagalah sholat tersebut. Sholat itu ialah Witir. .

Karenanya, kita perlu mengetahui hukum-hukum seputar sholat Witir ini, agar dapat mengamalkannya sesuai ajaran dan tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam .

Pengertian dan Fungsi Sholat Witir

Sholat Witir adalah sholat yang dikerjakan diantara setelah sholat Isyâ` hingga terbit fajar Subuh sebagai penutup sholat malam.

 Hadist dan Hukum Sholat Witir

Sholat Witir merupakan sholat sunnah muakkadah menurut mayoritas ulama. Hal ini didasarkan pada beberapa dalil, di antaranya sebagai berikut.

1. Hadits Ibnu Umar yang berbunyi:

 عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؛ قَالَ اجْعَلُوْا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْراً. متفق عليه

Dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam , beliau berkata: “Jadikanlah akhir sholat kalian di malam hari dengan Witir”.

Dalam hadits ini menunjukkan adanya perintah menjadikan sholat witir sebagai penutup sholat malam. Ibnu Daqîqi al-‘Iid menyatakan, orang yang mewajibkan sholat witir berdalil dengan bentuk perintah (dalam hadits ini).

Seandainya berpendapat kewajiban witir dalam akhir sholat malam, maka itu lebih tepat”.

 2. Hadits Abu Ayyûb al-Anshâri yang berbunyi:

 قَالَ رَسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ

Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam bersabda: “Sholat Witir wajib bagi setiap muslim. Barang siapa yang ingin berwitir dengan lima rakaat, maka kerjakanlah; yang ingin berwitir tiga rakaat, maka kerjkanlah; dan yang ingin berwitir satu rakaat, maka kerjakanlah!” .

3. Hadits Abu Bushrah al-Ghifaari yang berbunyi:

 قال رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :” إِنَّ اللَّهَ زَادَكُمْ صَلَاةً فَحَافِظُوا عَلَيْهَا ، وَهِيَ الْوَتْرُ ؛ فَصَلُّوْهَا فِيْمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلىَ صَلاَةِ الْفَجْرِ”. أخرجه أحمد.

Sesungguhnya Allah telah menambah untuk kalian satu sholat, maka jagalah sholat tersebut. Sholat itu adalah Witir. Maka sholatlah di antara sholat Isya` sampai sholat fajar.

Namun ada juga dalil lain yang memalingkannya dari perintah-perintah dalam dua hadits di atas, yaitu sebagaimana hadits Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

 الْوِتْرُ لَيْسَ بِحَتْمٍ كَهَيْئَةِ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ وَلَكِنْ سُنَّةٌ سَنَّهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Sholat Witir tidak wajib seperti bentuk sholat wajib, namun ia adalah sunnah yang disunnahkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam . .

Demikian juga keumuman hadits Thalhah bin Ubaidillâh yang berbunyi:

 جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ ثَائِرَ الرَّأْسِ يُسْمَعُ دَوِيُّ صَوْتِهِ وَلَا يُفْقَهُ مَا يَقُولُ حَتَّى دَنَا فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ فَقَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ

Seorang dari penduduk Najd mendatangi Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam dalam keadan rambut kusut, terdengar gema suaranya yang tidak jelas dan tidak dimengerti apa yang dikatakannya hingga dekat.

Ternyata ia bertanya tentang Islam, maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam menjawab: “Sholat lima waktu sehari dan semalam,” lalu ia bertanya lagi: “Apakah ada yang lainnya atasku?” Beliau n menjawab,”Tidak, kecuali bila engkau mngerjakan sholat sunnah”. Kemudian di akhir dialog itu beliau Shallallahu alaihi wa salllam berkata:

 أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ

Beruntunglah ia bila benar. .

Demikian juga Nabi Shallallahu alaihi wa salllam selalu mengerjakannya dalam keadaan mukim dan bepergian, dan menganjurkan manusia mengerjakannya.

 Syaikh al-Albâni, setelah menyampaikan hadits Abu Bushrah di atas, beliau rahimahullah berkata:

AYO BACA : Tata cara Sholat Tahajud 11 Rakaat berserta Niat

“Zhâhir perintah dalam sabda beliau Shallallahu alaihi wa salllam : (فَصَلُّوْهَا) menunjukkan kewajiban sholat witir. Dengan dasar ini, madzhab Hanafi berpendapat menyelisihi mayoritas ulama. Seandainya tidak ada dalam dalil-dalil qath’i, pembatasan sholat-sholat wajib dalam sehari semalam hanya lima sholat; tentulah pendapat madzhab Hanafi lebih dekat kepada kebenaran.

Oleh karena itu, harus dikatakan, bahwa perintah disini tidak menunjukkan wajib, bahkan untuk menegaskan kesunnahannya. Berapa banyak perintah-perintah (syari’at) yang mulia dipalingkan dari kewajiban dengan dalil-dalil yang lebih rendah dari dalil-dalil qath’i ini.

Sehingga mayoritas ulama sepakat (sholat witir) hukumnya sunnah dan tidak wajib, dan inilah yang benar. Kami nyatakan hal ini dengan mengingatkan dan menasihati untuk memperhatikan sholat witir dan tidak meremehkannya”.

Syaikhul-Islâm Ibnu Taimiyyah menyatakan di dalam Majmu’ Fatâwâ (23/88): “Witir adalah sunnah muakkadah berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, dan yang terus-menerus meninggalkannya, maka ia tertolak persaksiannya”. Wallahu a’lam.

 

Waktu Sholat Witir

Para ulama sepakat, bahwa awal waktu sholat Witir adalah setelah sholat Isyâ` hingga terbit fajar Subuh. Baca Juga  Kewajiban Mendekat Ke Sutrah Imâm Muhammad bin Nashr al-Marwazi (wafat tahun 294 H) mengatakan:

“Yang telah disepakati para ulama, bahwasanya waktu sholat Witir ialah antara (setelah) Sholat Isyâ` sampai terbitnya fajar Subuh. Mereka berselisih pada waktu setelah itu hingga sholat Subuh.

Hal ini didasarkan pada banyak hadits, di antaranya sebagai berikut.

  1. Hadits ‘Aisyah Rsdhiyallahu anhuma , beliau berkata:

 كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَهِيَ الَّتِي يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ أخرجه مسلم.

 Dahulu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam sholat antara setelah selesai sholat Isya`, yaitu yang disebut oleh orang-orang dengan – al-‘atamah – sampai fajar sebelas rakaat dengan salam setiap dua raka’at dan berwitir satu raka’at. .

  1. Hadits Abu Bushrah al-Ghifâri terdahulu yang berbunyi:

 فَصَلُّوْهَا فِيْمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلىَ صَلاَةِ الْفَجْرِ”. أخرجه أحمد.

Maka sholatlah di antara sholat Isyâ` sampai sholat fajar. .

Adapun akhir waktu sholat Witir jelas ditegaskan juga oleh hadits yang lainnya, yaitu sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam :

 صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ ؛ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى .

Sholat malam dua raka’at dua raka’at; apabila salah seorang di antara kalian khawatir Subuh, maka ia sholat satu raka’at sebagai witir bagi sholat yang telah dilaksanakannya. .

 

Waktu Yang Diutamakan

Pelaksanaan sholat Witir, yang utama dilakukan di akhir sholat malamnya, dengan dasar sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam :

 اجْعَلُوْا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْراً. متفق عليه

Dari Nabi Shallallahu alaihi wa salllam , beliau berkata: “Jadikanlah akhir sholat kalian di malam hari dengan Witir. .

Sedangkan waktunya tergantung kepada keadaan pelakunya. Yang utama, bagi seseorang yang khawatir tidak bisa bangun pada akhir malam, maka ia mengerjakannya sebelum tidur. Adapun seseorang yang yakin dapat bangun pada akhir malam, maka yang utama dilakukan di akhir malam.

 Dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam dalam sabdanya:

مَنْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُوْمَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ ؛ فَلْيُوْتِرْ أَوَّلَهُ ، وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُوْمَ آخِرَهُ؛ فَلْيُوْتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ ؛ فَإِنَّ صَلاَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُوْدَةٌ ، وَذَلِكَ أَفْضَلُ. أخرجه مسلم.

Barang siapa yang khawatir tidak bangun di akhir malam, maka witrirlah di awalnya. Dan yang yakin akan bangun di akhir malam, maka witirlah di akhir malam; karena sholat di akhir malam disaksikan dan itu lebih utama. .

JUMLAH RAKAATNYA

Jumlah raka’at dalam sholat Witir boleh dilakukan dengan satu raka’at, tiga raka’at, lima raka’at, tujuh raka’at, sembilan raka’at dan sebelas raka’at;

dengan dasar sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam :

 الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ

Sholat Witir wajib bagi setiap muslim. Barang siapa yang ingin berwitir dengan lima raka’at, maka kerjakanlah. Yang ingin berwitir tiga raka’at, maka kerjkanlah; dan yang ingin berwitir satu raka’at, maka kerjakanlah! .

Tata Cara Sholat Witir

Bagaimana Cara Sholat Witir? berikut Rincian jumlah Rakaat dan tata caranya .

  1. Sholat Witir satu raka’at. Hal ini didasarkan pada hadits Abu Ayyûb di atas yang berbunyi:

 وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ

AYO BACA : Tata Cara Sholat Tarawih sesuai Sunnah Rasul, 2 raaat Salam atau 4 Rakaat Salam

Dan yang ingin berwitir satu raka’at, maka kerjakanlah! .

2. Sholat Witir tiga raka’at. Sholat Witir tiga raka’at boleh dilakukan dengan dua cara.

a. Sholat tiga raka’at, dilaksanakan dengan dua raka’at salam, kemudian ditambah satu rakaat salam. Ini didasarkan hadits Ibnu ‘Umar, beliau radhiyallahu anhu berkata:

 كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْصِلُ بَيْنَ الْوَتْرِ وَالشَّفْعِ بِتَسْلِيمَةٍ وَيُسْمِعُنَاهَا

Dahulu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam memisah antara yang ganjil dan genap dengan salam, dan beliau perdengarkan kepada kami. . Juga didasrkan pada perbuatan Ibnu ‘Umar.sendiri.

 أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يُسَلِّمُ بَيْنَ الرَّكْعَةِ وَالرَّكْعَتَيْنِ فِي الْوِتْرِ حَتَّى يَأْمُرَ بِبَعْضِ حَاجَتِهِ

Dahulu, ‘Abdullah bin ‘Umar mengucapkan salam antara satu raka’at dan dua raka’at dalam witir, hingga memerintahkan orang mangambilkan kebutuhannya. .

 

b. Sholat tiga raka’at secara bersambung dan tidak duduk tahiyyat, kecuali di akhir raka’at saja. Hal ini didasarkan pada hadits Abu Hurairah yang berbunyi:

 قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :” لاَ تُوْتِرُوْا بِثَلاَثٍ تُشَبِّهُوْا بِصَلاَةِ الْمَغْرِبِ ، وَلَكِنْ أَوْتِرُوْا بِخَمْسٍ ، أَوْ بِسَبْعٍِ ، أَوْ بِتِسْعٍ ، أَوْ بِإِحْدَى عَشَرَةَ”. أخرجه الحاكم.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam bersabda: “Janganlah berwitir dengan tiga rakaat menyerupai sholat Maghrib, namun berwitirlah dengan lima raka’at, tujuh, sembilan atau sebelas raka’at”.

. Demikian ini juga diamalkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam , sebagaimana dikisahkan oleh Ubai bin Ka’ab, ia berkata:

 كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَقْرَأُ مِنَ الْوِتْرِ بِـ {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى} ، وَفِيْ الرَّكَعَةِ الثَّانِيَةِ بِـ{قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ} ، وَفِيْ الثَّالِثَةِ بِـ {قُلْ هُوَ اللهُ أَحَد}، وَلاَ يُسَلِّمُ إِلَّا فِيْ آخِرِهِنَّ”. أخرجه النسائي.

Dahulu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam membaca dari sholat witirnya surat al-A’lâ dan pada raka’at kedua membaca surat al-Kâfirûn, dan rakaat ketiga membaca Qul Huwallahu Ahad. Beliau tidak salam, kecuali di akhirnya. .

3. Sholat Witir lima raka’at. Sholat Witir lima raka’at dapat dilakukan dengan dua cara.

a. Sholat dua raka’at, dua raka’at dan kemudian satu raka’at.

b. Sholat lima raka’at bersambung dan tidak duduk tasyahud kecuali di akhirnya.

Hal ini dijelaskan dalam hadits ‘Aisyah yang berbunyi:

 كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَة ؛ يُوْتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ ، لاَ يَجْلِسُ إِلاَّ فِيْ آخِرِهَا. أخرجه مسلم.

 Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam pernah sholat malam tiga belas raka’at; berwitir darinya lima raka’at. Beliau tidak duduk kecuali di akhirnya.

4. Sholat Witir tujuh raka’at. Sholat Witir tujuh raka’at dapat dilakukan dengan dua cara.

 a. Sholat enam raka’at, dilakukan setiap dua raka’at salam kemudian satu raka’at.

b. Sholat tujuh raka’at bersambung, dan tidak duduk kecuali pada raka’at keenam, lalu bertasyahud, kemudian bangkit tanpa salam, dan langsung ke raka’at ketujuh baru kemudian salam.

Hal ini dijelaskan dalam hadits ‘Aisyah yang berbunyi:

 كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوْتَرَ بِتِسْعِ رَكَعَاتٍ ؛ لَمْ يَقْعُدْ إِلاَّ فِيْ الثَّامِنَةِ ، فَيَحْمَدُ اللهَ ، وَيَذْكُرُهُ ، وَيَدْعُوْ ، ثُمَّ يَنْهَضُ وَلَا يُسَلِّم ، ثُمَّ يُصَلِّي التَّاسٍِعَةَ ، فَيَجْلِسُ ، فَيَذْكُرُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، وَيَدْعُوْ ، ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمَةً يُسْمِعُنَا ، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ ، فَلَمَّا كَبُرَ وَضَعُفَ ؛ أَوْتَرَ بِسَبْعِ رَكَعَاتٍ ، لَا يَقْعُدُ إِلاَّ فِيْ السَّادِسَةِ ثُمَّ يَنْهَضُ وِلاَ يُسَلِّمُ ، فَيُصَلِّي السَّابِعَةَ ، ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمَةً ، ثَُّ يُصَلِّيْ رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ. أخرجه مسلم والنسائي.

Apabila Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam berwitir sembilan raka’at, beliau tidak duduk kecuali di raka’at kedelapan, lalu memuji Allah, mengingat dan berdoa, kemudian bangkit tanpa salam; kemudian sholat raka’at kesembilan, lalu duduk dan berdzikir kepada Allah dan berdoa; kemudian salam satu kali. Beliau memperdengarkan salamnya kepada kami. Kemudian sholat dua raka’at dalam keadaan duduk. Ketika sudah menua dan lemah, beliau berwitir dengan tujuh raka’at, tidak duduk kecuali pada raka’at keenam kemudian bangkit tanpa salam, lalu sholat raka’at ketujuh kemudian salam; kemudian sholat dua rakaat dalam keadaan duduk.

Bacaan Ketika Sholat Witir

Dalam melaksanakan sholat Witir, seseorang disyariatkan untuk membaca pada:

– Raka’at pertama membaca syurat al-A’lâ.

– Raka’at kedua membaca surat al-Kâfirûn.

 – Raka’at ketiga membaca surat al-Ikhlas.

Dalil tentang hal ini dijelaskan dalam hadits Ubai bin Ka’ab yang berbunyi:

 كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَقْرَأُ مِنَ الْوِتْرِ بِـ {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى} ، وَفِيْ الرَّكَعَةِ الثَّانِيَةِ بِـ{قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ} ، وَفِيْ الثَّالِثَةِ بِـ {قُلْ هُوَ اللهُ أَحَد}، وَلاَ يُسَلِّمُ إِلَّا فِيْ آخِرِهِنَّ”. أخرجه النسائي.

 Dahulu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam membaca dari sholat witirnya surat al-A’la, dan pada raka’at kedua membaca surat al-Kaafirun, dan rakaat ketiga membaca Qul Huwallahu Ahad.

Beliau tidak salam kecuali di akhirnya. .

AYO BACA: Tata Cara Sholat Idul Fitri di Masa Pandemi Covid-19

AYO BACA : Amalan Nuzulul Quran 17 Ramadhan


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar