Yamaha

Pekerja Seks Perempuan di Tengah Ramadan, Syahwat Pria, dan Keluarga

  Jumat, 30 April 2021   Erika Lia
Ramadan menjadi waktu bagi para PSP di Cirebon lebih rapat 'menyembunyikan diri'. Penghormatan atas bulan suci kerap dijadikan tameng untuk menekan laju bisnis esek-esek. (Ayocirebon.com)

KEDAWUNG, AYOCIREBON.COM -- Aktivitas pekerja seks perempuan (PSP) tak terbatas Ramadan. Sebagian mereka bukanlah untuk menjawab syahwat, melainkan agar anak-anak mereka beroleh nikmat.

Ramadan menjadi waktu bagi para PSP di Cirebon lebih rapat 'menyembunyikan diri'. Penghormatan atas bulan suci kerap dijadikan tameng untuk menekan laju bisnis esek-esek.

Faktanya, sekalipun di bawah radar pengawasan, aktivitas seks di kalangan PSP terus berlangsung. Permintaan atas jasa para PSP itu sendiri di sisi lain nyatanya tak terhalang embel-embel bulan suci.

"(Ramadan) tetap operasi (kegiatan seksual tetap aktif), cuma waktunya aja saya ganti," ungkap Julia, nama samaran, yang pernah menjadi PSP selama sekitar 15 tahun di Cirebon kepada Ayocirebon.com.

Menghindari razia yang kerap digelar otoritas keamanan, Julia menggeser waktu aktivitasnya pada subuh maupun pagi hari. Hotel menjadi lokasi Julia menjalankan aktivitasnya bersama pria pemesan.

"Diisuknang (dipagikan -- digeser menjadi pagi) karena biasanya kalau malam pas bulan puasa suka ada razia," bebernya.

Julia termasuk salah satu PSP yang tak beralih profesi selama Ramadan. Ia tetap menjalani profesinya dengan kisaran 7-15 pria yang menggunakan jasanya per hari.

"Alhamdulillah, saya enggak pernah paceklik selama bulan puasa," ujarnya.

Di luar waktu Ramadan, pengguna jasa Julia biasanya mencapai 20 pria/hari. Dia meyakinkan, pilihannya berkaitan dengan kehidupan 2 anaknya.

Juli terpaksa menjadi PSP setelah sang suami berselingkuh dan menikah lagi. Perceraian membuat ia kelimpungan mencari cara menghidupi anak-anaknya.

"Anak-anak saya waktu itu masih kecil-kecil, yang satu masih dituntun, yang satu masih nyusu (menyusu). Saya bingung mau ngasih makan apa," tutur Julia yang menikah kali pertama setamat SMP pada usia 17 tahun ini.

Pasca bercerai, ia pun mengenal dunia malam, dunia yang menampakkan sisi lain manusia yang tak terlihat di tempat terang. Minuman beralkohol dan rokok kemudian menjadi perpaduan sempurna yang menemaninya.

Selama berkarir, Julia telah malang melintang di berbagai tempat, mulai tempat hiburan karaoke hingga warung remang-remang. Peraduannya juga beragam, mulai hotel berbintang sampai kamar sepetak yang hanya berisikan kasur lepek bahkan bekas kardus sebagai alas.

"Kalau alasnya kardus, gayanya (gaya bercinta) tertentu aja. Kalau mau gaya macam-macam badan pada sakit," ungkapnya seraya tergelak.

Para pria pengguna jasanya pun datang dari berbagai kebangsaan dan profesi. Mulai dari pria domestik berstatus kapten kapal, pegawai pemerintah, sampai pemuda. Mulai pria asing asal Arab, bule, hingga Cina.

Julia memasang tarif minimal Rp300.000. Harga tertinggi yang pernah diterimanya mencapai Rp7 juta.

Ia bahkan pernah diajak keluar kota sebagai teman pria yang menggunakan jasanya. Seluruh akomodasi hingga urusan belanja diterima Julia di luar harga yang dia tetapkan.

Julia termasuk PSP dengan banyak peminat. Bisa dibilang ia adalah primadona.

Status itu setidaknya ia peroleh setelah memasang susuk di 2 bagian tubuh yang relevan dengan profesinya.

Susuk-susuk itu dipasang setelah suatu hari ia merasa pendapatannya merosot. Padahal, kebutuhan keluarganya ketika itu tengah tinggi.

"Anak-anak harus sekolah, rumah saya harus diperbaiki. Saya stres, uang saya segini-segini aja, sementara kebutuhan nambah terus," bebernya.

Untuk ini, ia harus mencerabut tabungannya total sekitar Rp8 juta. Pemasangan susuk sendiri dilakukan di tahun berbeda.

Menurutnya, tak sedikit PSP yang memasang susuk karena dianggap dapat menambah pesona sehingga meningkatkan pendapatan.

Namun, imbuhnya, tak semua susuk berhasil mendatangkan keajaiban bagi si pemasangnya.

"Ada aja yang enggak berhasil karena khasiat susuknya luntur. Biasanya karena dia (PSP pemasang susuk) senang sama laki-lakinya (pengguna jasa)," terangnya.

Julia meyakinkan, khasiat susuk hanya berhasil bagi mereka yang memang hendak mencari uang. 

"Kalau saya karena pengen cari uang buat anak-anak, buat benerin rumah. Setiap uang yang saya dapet juga sebagian untuk tabungan, sebagian untuk keluarga, sebagian saya sedekahkan," cetusnya.

Julia mengaku, anak-anaknya mengetahui pekerjaan yang ia lakoni. Bukan komplain yang ia terima, melainkan ungkapan terima kasih.

Ia pun bersyukur atas penerimaan anak-anaknya. Mereka justru kini lebih banyak berperan merawatnya.

Penawaran Datang, Puasa Batal

Lain Julia, lain Citra, juga nama samaran. Saat Ramadan, pendapatan Citra justru turun drastis, bahkan nyaris paceklik.

Dalam situasi normal, Citra yang baru terjun ke dunia ini selama 3 tahun terakhir bisa mengantongi Rp500.000/hari dari para pria yang menggunakan jasanya.

Pendapatannya mulai turun kala Covid-19 mewabah. Kondisi itu diperparah saat Ramadan, dengan adanya imbauan untuk menghentikan aktivitas hiburan malam sebagai bentuk penghormatan atas bulan suci.

"Pas (pandemi) Corona, pendapatan turun jadi Rp100.000-Rp200.000 per hari. Ramadan lebih parah lagi, kadang malah enggak dapat (uang) sama sekali," paparnya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Citra beralih profesi menjual kopi kecil-kecilan. Namun, itu pun tetap tak cukup baik.

Padahal, kebutuhan saat Ramadan hingga Lebaran biasanya meningkat. Meski begitu, Citra berupaya konsisten untuk tak menjalani profesinya selama bulan puasa.

Ia pun berpuasa dan menjalani salat tarawih. Hanya, lain hal dengan sejumlah PSP yang beroperasi di warung kopinya, yang rerata masih melakukan aktivitas seksualnya.

"Mereka tetap puasa, tapi kalau ada konsumen (pria pemesan jasa PSP), ya batal puasanya," cetusnya.

Pilihan

Meski belum termasuk PSP yang pensiun dari profesinya, Citra mengaku niat untuk berhenti kerapkali meletup dalam hatinya.

Sejauh ini, kecukupan kebutuhan hidup masih menjadi prioritas sebab penghasilan dari penjualan kopinya belum memuaskan.

Cerita awal mula Citra menyelami profesi ini nyaris tak jauh berbeda dengan Julia. Batinnya tertekan setelah dimadu sang suami.

"Suami jarang pulang selama 2 tahun, ternyata nikah lagi. Saya stres, anak saya 4 orang, makanya jadi kayak gini (memilih menjadi PSP)," ungkapnya.

Merasa tak lagi dihargai, ia pun sempat hendak mengajukan cerai. Namun, sang suami menolak dan justru menceraikan istrinya yang lain. 

Hanya, Citra kadung menekuni dunia barunya, sebelum kini mencoba beralih keluar dan kembali layaknya ia dulu. Terlebih, suaminya saat ini telah kembali.

Pilihan meninggalkan profesi PSP telah diambil lebih dulu oleh Julia, setidaknya dalam 2 tahun terakhir.

Sebuah kecelakaan lalu lintas hingga masalah paru-parunya akibat berlebihan mengonsumsi minuman beralkohol dan merokok, membuat ia pernah terkapar tak berdaya di rumah sakit.

"Itu hidayah Allah SWT," katanya yakin.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar