bank bjb
  

Sianida dari Jesica Wongso hingga Wanita Majalengka, Ini Alasan Racun Tersebut Mematikan

  Senin, 03 Mei 2021   Editor
Sianida dari Jesica Wongso hingga Wanita Majalengka, Ini Alasan Racun Tersebut Mematikan
Ilustrasi racun sianida. (cdc.gov)

KEJAKSAN, AYOCIREBON.COM -- Dugaan kasus pembunuhan berencana menggunakan racun sianida tak hanya dilakukan oleh NA (25), wanita asal Majalengka di Bantul, Yogyakarta, belum lama ini. Dulu pun, wanita bernama Jessica Wongso terseret kasus serupa. 

Bedanya, Jessica Wongso menggunakan racun sianida dicampur dengan kopi. Sementara NA diduga mencampurkannya pada sate hingga memakan korban salah sasaran seorang bocah berumur 10 tahun.

Lalu bagaimana cara kerja racun sianida dalam tubuh hingga membuat sang pemakan bisa mati?

Menyadur dari Halodoc, sianida merujuk pada bahan kimia yang memiliki ikatan dengan karbon monoksida dan nitrogen molekuler atau CN. Ada bentuk sianida yang mematikan seperti Natrium Sianida (NaCN), Potasium Sianida (KCN), Hidrogen Sianida (HCN), dan Cyanogen Klorida (CNCl).

Dahulu, Hidrogen Sianida banyak dimanfaatkan sebagai bahan senjata. Beberapa senyawa yang mengandung sianida digunakan sebagai bahan pembuat pestisida, fumigan, plastik, pelapis logam, hingga penambangan. Beberapa proses industri, seperti produksi besi, baja, industri kimia, dan pengolahan air limbah juga menghasilkan senyawa ini.

Bagaimana Sianida Berinteraksi pada Tubuh? Sebenarnya, bagaimana seseorang dikatakan keracunan sianida? Bagaimana sianida berinteraksi di dalam tubuh?

Setelah tubuh terpapar atau sianida masuk ke dalam tubuh, senyawa ini dengan cepat memasuki aliran darah. Tubuh memang menangani racun ini dalam jumlah kecil dengan mengubahnya menjadi tiosianat yang kemudian dikeluarkan melalui urine. Senyawa ini bisa bergabung dengan bahan kimia lain membentuk vitamin B12 yang membantu menjaga kesehatan sel saraf dan sel darah merah.

AYO BACA: Wanita Majalengka Bunuh Bocah Pakai Sate Racun Sianida

Namun, dalam jumlah besar, sianida mencegah sel menggunakan oksigen dan menyebabkan kematian sel. Organ-organ yang rentan terhadap serangan sianida adalah jantung, sistem pernapasan, dan sistem saraf pusat.

Segera setelah terpapar, tubuh akan lemah, mual, sakit kepala, hingga kesulitan bernapas. Pada kondisi akut, gejala yang muncul adalah hilang kesadaran hingga mengalami gagal jantung. Sementara pada tingkatan kronis, gejala yang terjadi seperti napas pendek, denyut nadi lemah tetapi cepat, bibir dan wajah menjadi biru yang disertai dengan ekstremitas, koma, hingga kematian.

Tingkatan keparahan paparan sianida pada tubuh bergantung pada seberapa banyak racun ini masuk ke dalam tubuh. Faktanya, dibutuhkan sianida sebanyak 1,5 miligram per kilogram tubuh manusia untuk menciptakan keracunan sianida.

Tidak hanya dalam bentuk makanan atau bubuk, gas sianida juga sama berbahayanya. Bahkan, gas ini disinyalir paling berbahaya dibandingkan dengan jenis gas beracun lainnya. Dampaknya mungkin tidak terlalu signifikan pada ruang terbuka karena bisa segera menguap. Namun, jika dialirkan dalam ruang tertutup, gas ini bisa mengakibatkan kematian.

Bagaimana Menangkalnya?

Pada kasus keracunan sianida yang parah, dokter memberikan penangkal sianida seperti hydroxocobalamin atau cyanokit yang terdiri dari 3 jenis obat, yaitu amil nitrit, natrium nitrit, dan natrium tiosulfat. Pemberian amil nitrit adalah dengan cara dihirup selama maksimal 30 detik, sementara natrium nitrit diberikan secara intravena selama 5 menit, dan natrium tiosulfat intravena diberikan selama 30 menit.

Kit penangkal ini mendetoksifikasi sianida dengan mengikatnya untuk menghasilkan vitamin B12 yang tidak beracun. Obat ini menetralkan sianida pada tingkat yang cukup lambat untuk memungkinkan enzim yang disebut rhodanese yang mendetoksifikasi sianida pada organ hati.

Jadi, jangan sembarangan menggunakan senyawa ini karena bisa menimbulkan keracunan sianida yang fatal. Jika ingin mengetahui lebih lanjut tentang racun ini dan bahayanya bagi tubuh, download dan pasang aplikasi Halodoc, pilih layanan Tanya Dokter untuk langsung bertanya pada dokter ahli. Kamu juga bisa memakai aplikasi Halodoc untuk cek lab rutin di mana saja setiap saat tanpa harus pergi ke lab.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar