Yamaha

Lebaran Tanpa Mudik, Bentuk Pengorbanan Selama Masih Pandemi

  Jumat, 07 Mei 2021   Erika Lia
Petugas gabungan memeriksa kendaraan yang hendak melintasi Kota Cirebon di kawasan Krucuk. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

KEJAKSAN, AYOCIREBON.COM -- Pemerintah mengakui tak mungkin menahan laju pemudik dengan sempurna. Namun, pengorbanan dibutuhkan demi kepentingan lebih besar.

Tim dari Kantor Staf Presiden (KSP) memantau penyekatan pemudik di Kota Cirebon, Jumat, 7 Mei 2021.

Langkah itu dilakukan untuk memastikan protokol dan prosedur larangan mudik terlaksana baik.

Dalam kesempatan itu, Tenaga Ahli Utama Kedeputian Bidang Informasi dan Komunikasi Politik Kantor Staf Presiden, Joko tak menampik, pemerintah tak mungkin menahan 100% masyarakat untuk tak mudik.

"Penyekatan hanya upaya mengurangi pemudik," cetusnya.

AYO BACA: Tok! Masyarakat Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan Boleh Mudik Lokal 

Tanpa larangan, selama sepekan mobilitas masyarakat di Indonesia diprediksi lebih dari 20 juta orang. Angka itu 4 kali lebih mencemaskan dibanding situasi di India. 

"India hanya 5 juta orang melakukan upacara keagamaan. Hari ini, layanan kesehatan mereka kolaps," bebernya memberikan gambaran.

Joko memaparkan, situasi mudik dalam 3 tahun terakhir memang berbeda. Pada 2019, mudik menjadi euforia masyarakat.

Pada 2020, kekhawatiran pada Covid-19 berhasil menahan keinginan masyarakat untuk tak mudik. Sementara, pada 2021, masyarakat cenderung ngeyel sebab merasa aman di tengah vaksinasi.

"Padahal, pandemi Covid-19 belum selesai. Tapi, tingkat emosional masyarakat untuk mudik tinggi," tuturnya.

AYO BACA: Puluhan Kendaraan di Kota Cirebon Diputarbalikkan

Dia mengingatkan, mempertimbangkan pandemi, pemerintah berkewajiban melindungi rakyatnya. Karena itu, dikeluarkanlah kebijakan untuk mengurangi laju pemudik.

Kendati demikian, imbuhnya, larangan tersebut harus pula diiringi kesediaan masyarakat sendiri untuk tak melakukan perjalanan. Lebaran di rumah dinilai sebagai pilihan yang aman sampai pandemi benar-benar usai.

"Upaya pemerintah untuk menahan laju mudik harus juga dibarengi pengorbanan masyarakat untuk merelakan dirinya tidak mudik lebaran tahun ini," pintanya.

Pihaknya mengimbau masyarakat tak nekat mudik. Di sisi lain, dia pun meminta petugas di lapangan mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis saat menghalau pemudik.

"Pemudik kalau tidak putar balik, akan kena penyekatan lagi di pos depan, terus menerus. Kalau masih nekat mudik, kami khawatir akan kesulitan sendiri nantinya," tandas Joko.

Wali Kota Cirebon, Nashrudin Azis meyakinkan, penyekatan larangan mudik akan dilaksanakan optimal. Azis memastikan, penyekatan pemudik dilakukan berlapis, mulai Jakarta hingga ke Jawa. 

"Kalau pemudik tidak legowo, bisa saja ada yang lolos. Jangan sampai lolos di titik A, lalu tertahan di titik B dan seterusnya, itu merugikan pemudik sendiri," pesannya.

AYO BACA: Polda Jabar Putar Balik 5.022 Kendaraan di Hari Pertama Larangan Mudik 2021

Azis meminta masyarakat bersabar. Menurutnya, larangan mudik merupakan bentuk perhatian tinggi terhadap masyarakat.

"Kami tidak ingin masyarakat kesusahan akibat tak mau bersabar dan tetap mudik selama pandemi Covid-19 belum berakhir," pungkasnya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar