Yamaha

2 Pengumpat Dijadikan Duta Protokol Kesehatan Covid-19

  Minggu, 09 Mei 2021   Praditya Fauzi Rahman
ilustrasi protokol kesehatan dengan mengenakan masker. (Ayobandung.com)

SURABAYA, AYOCIREBON.COM -- Dua orang pengumpat protokol kesehatan dijadikan duta protokol kesehatan (prokes). Hal mendapat kritik lantaran bertolak belakang dengan perbuatan yang mereka lakukan.

Orang pertama yang dijadikan duta prokes adalah Nawir. Dalam video viralnya yang diketahui berada di Bekasi, Jawa Barat, dirinya mengusir jamaah masjid lantaran menggunakan masker. Usai meminta maaf atas perbuatannya itu, dia dijadikan duta prokes.

Hal serupa terjadi di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Putu Arimbawa, warga yang melakukan pengumpatan terhadap pengunjung Supermal Pakuwon Surabaya yang bermasker dinisbatkan peran sebagai duta prokes. Namun dia juga disanksi kerja sosial dan membayar sejumlah denda.

Fenomena tersebut dikritik Pakar Administrasi Publik Unair, Falih Suaedi. Menurut dia, duta seharusnya diperankan sosok orang yang bisa menyentuh hati masyarakat. Terdapat kriteria dari seseorang tersebut sehingga layak dijadikan duta.

Menurut Falih, kreteria seseorang dijadikan duta antara lain:

  1. Figur duta harus mempunyai pertumbuhan pribadi yang konsisten
  2. Calon duta memiliki kepedulian tinggi terhadap bidang yang dia emban
  3. Memberikan nilai tambah bidang yang dikampanyekan
  4. Menerapkan value bidang itu secara konsisten dalam kehidupan.

"Kalau para pelanggar justru dijadikan duta, saya melihatnya itu hal yang sia-sia, efeknya nol," kata Falih, Minggu, 9 Mei 2012, mengutip Ayosurabaya.com.

Falih menuturkan, sosok seorang duta seyogyanya memberikan panutan. Namun, publik sudah mengetahui bahwa sosok itu tak mengimplementasikan value bidang yang diemban dengan baik dan konsisten.

Menurutnya, hal tersebut selaras dengan teori bandura, yang menyatakan seorang panutan harus memenuhi 2 kriteria, yaitu duta harus mampu mendorong orang lain untuk melakukan sesuatu seperti yang dia lakukan atau harus bisa menginspirasi dan memotivasi orang lain. Yang kedua adalah harus memberikan contoh dan dukungan.

"Jadi, tidak bisa kita mengangkat duta dengan alasan sosok itu terkenal atau sedang viral," ujarnya.

Falih menganggap, sudah saatnya sosok seorang duta diambil dari kalangan yang tidak melangit, tapi justru membumi. Baik dari sifat, sikap, dan beragam hal mengenai duta yang dimaksud.

Perihal sosok membumi, Falih menyatakan tak mengapa untuk mengambil sosok duta dari kalangan bawah. Menurut dia, sosok dengan kriteria tersebut akan lebih mudah menggerakkan dam mendekati massa secara natural.

"Jadi, yang terpenting dari sosok duta adalah benar-benar melakukannya secara konsisten dalam kehidupan nyata. Ketika melihat bahwa ada orang lain dari kalangan bawah (yang melakukan sesuatu), maka hati kita akan tersentuh, ikut tergerak melakukan (hal yang sama)," ungkapnya," tutup Dekan FISIP Unair itu.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar