bank bjb
  
Yamaha

Melacak Tradisi Lebaran di Indonesia, Jati Diri yang Harus Dilestarikan

  Kamis, 13 Mei 2021   Netizen
Melacak Tradisi Lebaran di Indonesia, Jati Diri yang Harus Dilestarikan
ilustrasi Lebaran Idul Fitri. (Ayocirebon.com)

AYOCIREBON.COM -- Kebudayaan merupakan fondasi karakter bangsa. Sebagai bangsa yang besar tentunya tidak akan melupakan tradisi, budaya sendirinya. Pasalnya, kehadiran budaya suatu daerah harus menjadi pilar menyangga keberlangsungan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tercinta ini.      

Kendati pemerintah resmi melarang perjalanan mudik Lebaran tahun 2021/1442, mulai dari tanggal 6-17 Mei 2021, demi menekan penularan Covid-19.

Jelang lebaran masyarakat Indonesia, terutama urang Sunda selalu melakukan aktivitas berbagi kepada orang tua, guru ngaji, kerabat, tetangga nganteuran (Garut, Purwakarta, Subang, Bogor, Tasikmalaya), munjung (Majalengka), rantang lebaran, arak-arakan Madroi, pawai makanan (Cibatu Garut).

Ini menjadi ikhtiar bersama untuk menjaga tradisi dan merawat ingatan, bahwa bangsa ini dibangun atas keberagaman budaya dan masyarakat adat.

Kuatnya kesadaran manusia untuk merayakan bulan ramadan sebagai ladang amal kebaikan, berbagi (kolaborasi), menebar sikap kedermawanan antar sesama manusia terlihat jelas dalam aktivitas nganteuran, munjung, rantang lebaran, arak-arakan Madroi, pawai makanan.

Khazanah Berbagi

Pada masa lalu, sekitar tahun 1950-an, ketika tiga hari menjelang Lebaran, masyarakat di Jawa Barat masih kental dengan budaya saling kirim makanan Lebaran dalam rantang. Budaya ini ternyata merekatkan jalinan silaturahim antar keluarga. (Pusat Kajian Lintas Budaya, Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran dengan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 2011:64).

Kebiasaan masyarakat kampung menjelang lebaran yang ditunggu-tungu itu nganteuran, saling mengantarkan makanan alakadarnya kepada tetangga. (Salman Iskandar, 2001:98)

Nganteuran merupakan tradisi mengirim makanan jadi; nasi, rendang, semur daging; oseng bihun, mie; makanan ringan semacam rangginang, wajit dan uli dari anggota keluarga yang muda kepada yang lebih tua, terutama Bapak dan Ibu. Nganteuran juga ditujukan kepada orang yang dihormati dan pantas dikasihi, seperti guru ngaji, fakir miskin. (Kompas, 21/8/2009).

Tradisi munjung yang berasal dari kata kunjung, kerap dilakukan dalam rangka mengantar makanan untuk tetangga dan kerabat.Tujuannya untuk menyambung dan mempererat tali silaturahmi antar keluarga dan antar tetangga.

Uniknya, ater-ater penganan biasanya dilakukan suku Jawa dengan melakukan aktifitas mengantarkan, membawa makanan dari seseorang, suatu keluarga ke orang (keluarga lainnya) pada waktu tertentu. Sebagai tanda syukur telah dapat menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh. Diyakini dapat memperlancar rejeki serta memperpanjang usia dan dijauhkan dari mara bahaya.

Tak hanya di Jawa Barat, masyarakat Sulawesi melakukan aktivitas munjungan antar-antar nasi berisi lauk-pauk ke saudara. Rantang Lebaran merupakan kegiatan mengantar makanan untuk saudara, tetangga dilakukan pada  malam jelang hari raya Idul Fitri. (Mudik dan Tradisi Unik Lebaran 2019:46-47)

Biasanya nganteuran dimulai dari orang yang paling muda ke rumah orang-orang yang lebih tua (dituakan). Ketika makanan diantarkan, orang yang menerimanya biasanya akan memberi balasan berupa makanan, amplop (ngeupeulan) yang berisi uang jajan untuk pengantar (anak-anak).

Sejarahwan Purwakarta, Ahmad Said Widodo, menegaskan budaya nganteuran sudah ada sejak berabad-abad yang lalu, bahkan jauh sebelum masuknya Islam ke Nusantara. Budaya ini telah menjadi kearifan lokal sejak zaman Hindu dan Budha.

Biasanya, anak-anak yang sudah menikah memasak beragam makanan yang lezat dan jarang dikonsumsi. Sebab makanan itu khusus disantap menjelang hari-hari besar umat Hindu, Budha, maupun hari suci umat Islam, terutama menjelang ramadhan, Idul Fitri .

Uniknya, hantaran makanan menggunakan pipiti, besek dan rantang bersusun antara tiga sampai lima susun, tergantung jumlah menu olahan masakannya. Hantaran kepada orang-orang tua (yang sangat dihargai), dihormati dan dicintai, semisal kepada kakek nenek, ayah ibu, ayah ibu mertua, paman bibi, kakak adik, guru-guru, ustaz, ustazah, kepala kampung (dusun), yang lebih diutamakan, sanak saudara, para tetangga, para sahabat juga ikut dibagi. (Koran Sindo, Selasa, 19 Mei 2020)

Dalam buku Ramadhan di Priangan dituliskan pada bulan Ramadan 1934, sehari sebelum lebaran di Cibatu Garut, Ibu kota Kewadanaan yang memiliki stasiun transit kereta api, jalur simpang ke Kota Garut, dalam lintasan jurusan Bandung-Surabaya berpenduduk sekitar 3.000 jiwa. Kota mungil yang sebagian besar penduduknya pegawai Staats Spoorwegen (SS).

Mengingat tahun itu sepi dan merasa bosan dengan kesunyian kota Cibatu. Untuk mengisi kekosongan waktu, Ibu sebagai istri Juragan Sep (Chef) Cibatu berinisiatif untuk mengumpulkan istri para pegawai SS. Mereka diberi kursus jahit-menjahit pakaian, kerajinan tangan, kesehatan ibu dan balita, masak-memasak, terutama membuat kue taart model orang kota.

Timbul ide cemerlang, "Bagaimana kalau kita masak segala rupa hidangan makan, itung-itung mempraktekkan ilmu yang didapat selama kursus. Lalu disajikan sebagai makanan buka puasa warga kota Cibatu, yang notabene karyawan kereta api," usul Ibu kepada para pengikut kursus.

Ternyata usulannya mendapatkan persetujuan kaum Ibu, bahkan beberapa nyonya Belanda, istri para ambtenaar SS antusias mendukung dan membantu dana, bahkan makanan. Untuk memeriahkan acaranya ayah mengajukan usul agar sebagian makanan tadi dipikul dalam usungan, lalu dibawa pawai keliling Kota, sebelum dibongkar di pelataran depan stasiun Cibatu, untuk santapan berbuka puasa.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap kali menyongsong lebaran, Ayah selalu menyediakan seperangkat baju baru untuk Madroi, edan eling. Biasanya pesalin yang dikenakan Madroi, modelnya seperti pengantin sunat dengan peci berhias asesoris pita warna emas yang dibeli di toko sandang Bawean di pasar Baru. Namun untuk kesempatan itu memesan pakaian pengantin Jawa dari Yogya, lengkap dengan selop dan topi kuluknya seperti busana bangsawan Mataram.

Siang hari menjelang malam takbiran kaum Ibu telah menyiapkan selusin usungan makanan terdiri dari tumpeng nasi gurih, nasi kuning, nasi kebuli penuh daging kambing dan minyak samin; tumpeng bumbu begana dengan isi telor kentang dan daging ayam; nasi tumpeng komplit urab tahu, tempe ikan asin dan frigedel. Satu usungan khusus isi bakakak ayam dan pais bibit ikan emas, ditambah usungan berisi kue dan roti sumbangan nyonya Belanda. Usungan buah-buahan seperti pisang, kelapa muda, manggis, jeruk, kesemek. Makanan kecil semacam peuyeum, borondong, opak, tangtang angin, dorokdok, tengteng, moga, kremes, kerupuk, rangginang, geplek, wajit, ladu dari berbagai macam manisan baligo, kulit jeruk Bali, sirsak dan kesemek. Semuanya tersedia dalam usungan.

Nyonya Neng Jun, pedagang kue di stasiun Cibatu menyumbang satu usungan jajanan pasar, terdiri dari putu mayang, lemper, kue mangkok, cuhcur, nagasari, kelepon, bugis, kue lapis, getuk, katimus, gemblong, bika Ambon, carabika, kue koneng, jalabria, onde-onde, hunkwe, ongol-ongol, putri noong, peuyeumbol, cente manis.

Setelah semua persiapan beres dan Madroi dimandikan. Madroi dihias, diberi pupur sedikit, dicukur gundul kepalanya, disiram minyak harum si Nyongnyong yang nyegak baunya, lalu akhirnya dikenakan busana kebesaran bangsawan Mataram dengan segala macam aksesorisnya. Sambil menunggu acara dimulai, Madroi dengan tenang mengisap nikmat sebatang Sigago (cerutu merek Chicago) pemberian ayah.

Bada ashar, prosesi pawai makanan mulai diatur di pelataran luar stasiun Cibatu. Selain berisi usungan makanan, di deretan depan ikut mengawal Mantri Polisi yang menggunakan kuda beserta anak buahnya. Sebuah loji dengan kursi berhias rumbai-rumbai kertas berwarna yang dipikul empat orang kuli, nyaman diduduki oleh pangeran Modroi. Selain diramaikan oleh kendang pencak, tarompet, dogdog, angklung dan rebana. Barisan diiringi warga penduduk yang membawa lampion dengan berbagai macam model serta obor bambu untuk menerangi jalan.

Pawai makanan menjelang malam takbiran itu berlangsung sangat meriah. Rute yang ditempuh, terkadang sampai ke Sasak Beusi, jalan menuju Limbangan, Malangbong. Terkadang barisan sampai juga ke Wanaraja dan balik mudik kembali ke Cibatu.

Sambutan rakyat sepanjang jalan gegap gempita. Selain bunyi-bunyian pengiring yang menekankan telinga, setiap kali barisan melalui kampung penduduk, joli tempat Madroi bertahta dijunjung-junjung melambung, sambil diiringi surak ibra yang membahana, hursee, hursee, hursee!

Tanpa terasa, akhirnya barisan sampai kembali ke pelataran luar stasiun Cibatu. Bila arak-arakan masih di jalan, sedangkan bedug Magrib telah dipalu orang, maka terdengar suara orang berteriak ta'jil, ta'jil. Lalu serentak pengikut pawai menyerbu usungan yang berisi buah-buahan dan jajanan pasar. Sekejap disantap buat pemanis buka puasa. Sedangkan usungan yang berisi nasi tumpeng tetap utuh sampai akhir tujuan.

Di pelataran stasiun kaum Ibu telah lama menunggu, sambil menyiapkan beberapa susun rantang yang bakal diisi hidangan dari usungan. Tumpeng nasi kuning dengan lawuh bakakak ayam dan pais ikan, khusus dikirimkan kepada juragan Wadana dan Camat Kota Cibatu. Nasi kebuli penuh daging kambing, dikirim ke Ajengan di Pesantren Karesek. Tumpeng lainya dikirim kepada juragan schoolopziener (Penilik Sekolah), Mantri Suntik, Lebe, Dukun Sunat.

Susunan rantang komplit dikirim kepada Halte Chef bawahan stasiun Cibatu, seperti Gandamirah, Leuwigoong, Warungbandrek, Pasirjengkol, Wanaraja, Cinunuk, Cimurah, Sukarame dan Garut. Pokoknya sedikit-sedikit semua mirasa kebagian.

Sementara di pelataran stasiun Cibatu, ratusan orang balakecrakan sibuk berbuka puasa. Mereka makan dengan tergesa-gesa, bagai kokoro manggih Mulud, soalnya waktu sudah mepet. Kaum muslimin harus siap-siap shalat tarawih dan takbiran mejelang Lebaran. (Haryoto Kunto, 1996: 93-100)

Jati Diri

Sejatinya, agama (Islam) dan budaya (tradisi) hadir tidak untuk dipertentangkan (dibenturkan), tetapi harus dilestarikan agar kehidupan bangsa, bernegara, bermasyarakat yang  harmoni, damai, toleran terus bisa dipertakankan.

Indonesia yang kaya akan tradisi, nilai-nilai luhur, dan kearifan lokal yang dimiliki dan dihidupi bersama secara turun-temurun oleh suatu kelompok masyarakat tertentu dalam suatu bangsa, kebudayaan dapat dimaknai sebagai identitas kolektif (jati diri) suatu bangsa.

Ingat, kebudayaan memiliki peran dan fungsi yang sentral dan mendasar sebagai landasan utama dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pasalnya, suatu bangsa akan menjadi besar jika nilai-nilai kebudayaan telah mengakar (deep-rooted) dalam sendi kehidupan masyarakat.

Sebuah negara bangsa (nation-state) Indonesia memiliki nilai-nilai luhur yang khas dan membudaya di masyarakat seperti gotong-royong, saling tolong menolong, ramah, santun, toleran, dan perduli terhadap sesama. (Kompas, 24 Desember 2019)

Pembangunan bangsa didasarkan pada nilai-nilai rohani dan kekayaan budaya yang digali dari Sukma bangsanya sendiri.

Pendiri bangsa Indonesia, Ir. Soekarno menghendaki agar bangsa kita memiliki isi dan arah dalam hidup kebangsaan. Tanpa itu, pembangunan hanya menghasilkan sebuah bangsa yang dangkal yang tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan moral.

Jika kekuatan sejati dalam strategi pembangunan bangsa ditentukan oleh isi dan arah dalam hidup --yang tak lain kebudayaan--maka kita harus menjenguk ke dalam diri untuk mencari dan menemukan sumber-sumber kekuatan yang ada dalam diri kita.

Pembangunan otentik yang tidak mengarah kepada lenyapnya identitas diri, harga diri, dan kreativitas hanya dapat dicapai apabila tradisi dan kebudayaan sebagai kekuatan dan sumber daya yang besar. (Yoseph Yapi Taum, 2019:9-10)

Agama tanpa kebudayaan memang dapat berkembang sebagai agama pribadi, tetapi tanpa kebudayaan agama sebagai kolektivitas tidak akan mendapat tempat (Kuntowijoyo, 2001: 196).

Dengan demikian, mudah-mudahan ikhtiar kita yang terus sadar (kesadaran kolektif) melakukan aktivitas berbagi; nganteuran, munjung, rantang lebaran, arak-arakan Madroi, pawai makanan, jelang Lebara ini menjadi tanda kuatnya harmonisasi antara agama (Islam) dengan budaya (tradisi, adat).  

Kiranya, petuah Marcus Garvey tentang pentingnya memahami sejarah, budaya sendiri layang kita dengungkan demi menjaga tradisi, merawat ingatan. Sungguh indahnya lebaran.   “Orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang sejarah masa lalu, asal-usul dan budaya mereka sama seperti pohon tanpa akar.”

(Netizen Ibn Ghifarie, pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung)

Artikel ini sudah dimuat Ayobandung.com dengan judul Menjaga Tradisi, Merawat Ingatan Lebaran.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar