bank bjb
  

Jangan Biarkan Media Sosial jadi Dosa Jariah, Ini Tips Bersosmed sesuai Prespektif Islam

  Sabtu, 15 Mei 2021   Erika Lia
Jangan Biarkan Media Sosial jadi Dosa Jariah, Ini Tips Bersosmed sesuai Prespektif Islam
Tips menggunakan media sosial dengan baik

HARJAMUKTI, AYOCIREBON.COM- Perkembangan teknologi punya andil besar dalam kelahiran media sosial (medsos).

Tak hanya teknologi internet, kemajuan ponsel pintar juga mendukung pesatnya perkembangan medsos.

Medsos sendiri adalah sebuah media daring (online). Keberadaannya tak bisa ditampik.

Secara umum, medsos tak hanya mengubah gaya hidup, melainkan pula pola pikir.

Disarikan dari "Literasi Kecakapan Hidup" berjudul "Mengenal Media Sosial agar Tak Menyesal" yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, medsos punya dampak positif, antara lain memproleh informasi, membantu penggunanya mengembangkan keterampilan tertentu, memperluas pertemanan, hingga mengembangkan perhatian dan empati.

Di sisi lain, aktivitas medsos pula punya dampak negatif, seperti menjadikan pengguna egois, lupa waktu, mengganggu pemahaman bahasa, baik bahasa tubuh maupun nada suara dari lawan bicara, penurunan keterampilan berbahasa dan menulis, sampai rentan praktik kejahatan hingga materi tak pantas lainnya.

Lantas, bagaimana Islam memandang pemanfaatan medsos dalam kehidupan sehari-sehari?

Mudir Aam DT Al Kautsar Cirebon, Ustaz Yana Suryana Abdul Fatah menerangkan, bermedia sosial yang baik adalah ketika pengguna memanfaatkannya dengan tujuan manfa'ah (kemanfaatan).

"Bukan madarrah atau sesuatu yang membahayakan diri dan orang lain," katanya kepada Ayocirebon.com.

Menurutnya, hal yang lumrah ketika seseorang mengunggah kegiatan pribadinya pada medsos. Bahkan, aktivitas ini sudah menjadi tren.

Namun, dia mengingatkan, seseorang harus pula memerhatikan situasi dan kondisi saat mengunggah kegiatan pribadi pada medsos.

"Kalau yang diunggah adalah sesuatu yang berbau hedonis, kemewahan, mungkin itu akan mengundang rasa iri, bahkan menghilangkan rasa syukur orang lain yang tak mendapat kenikmatan itu," paparnya.

Karena itu, lulusan jurusan Pendidikan Bahasa Arab STIBA Ar Rayah, Sukabumi, ini mengingatkan, sebelum mengunggah kegiatan pribadi pada medsos, seseorang perlu memerhatikan hal-hal berikut:

1. Perhatikan niat atau motif di balik unggahan kegiatan pribadi.

Bila ada niat buruk, seorang muslim dianjurkan menahan diri dan selalu menyadari bahwa pahala dan dosa berawal dari niat.

2. Mengunggah kegiatan pribadi yang bersifat sosial, semisal buka puasa atau sahur bersama anak yatim maupun dhuafa.

"Kegiatan semacam itu akan berdampak positif bagi orang lain. Dengan kita mengunggah kegiatan tersebut, bisa jadi menarik perhatian orang lain untuk melakukan hal sama," bebernya.

Hanya, imbuh dia, seseorang harus menyadari tujuan setiap unggahan kegiatan positif.

Bila bertujuan ingin dipuji atau bermaksud pansos (panjat sosial), perbuatan itu tak akan diganjar pahala kebaikan. Sebaliknya, akan mendapat dosa kemaksiatan.

"Harus mengikhlaskan niat karena Allah Ta'ala," tambahnya.

3. Tak dibolehkan mengunggah materi kegiatan pribadi yang bersifat privasi, seperti berlibur, traveling, kuliner, dan lainnya, bila maksud unggahan itu untuk reputasi, kesombongan, bahkan menghinakan orang lain.

Selain dapat merusak hati penggunanya, lanjut dia, tindakan itu pula akan menyakiti perasaan orang lain.

"Yang lebih madarat bagi kita adalah ditulisnya perbuatan dosa dari unggahan tersebut. Selama unggahan itu masih ada, dosanya pun akan terus mengalir (dosa jariyah)," terang ustaz yang aktif berkecimpung di dunia dakwah dan pendidikan agama ini.

Namun, bila niat unggahan yang dibagikan melalui medsos itu positif, seperti tafakkur (memikirkan ciptaan Allah), tadzkir (mengingatkan orang lain akan ciptaan Allah), menasihati untuk senantiasa bersyukur dengan nikmat yang Allah Ta'ala berikan, ikhbar (memberi informasi yang bermanfaat bagi orang lain terkait lokasi dan lainnya), tasyakur binikmah (mensyukuri pencapaian pribadi dengan memberitahu orang lain), hal itu dibolehkan.

"Bahkan bisa jadi dianjurkan karena termasuk amar makruf nahi mungkar (menegakkan yang benar, melarang yang salah). Wallahua'lam bishawab," pungkas pria kelahiran Bandung yang punya pengalaman mengajar di berbagai pesantren salaf terkemuka, seperti Pesantren Al Binaa Bekasi, Pesantren Minhajul Haq, Purwakarta, sampai terjun dakwah lapangan di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, ini.

 


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar