Yamaha

Ngalap Barokah pada Halalbihalal Keraton Kanoman Cirebon Kala Pandemi Covid-19

  Selasa, 18 Mei 2021   Erika Lia
Sultan Kanoman Cirebon, Sultan Raja Muhamad Emiruddin (duduk, ke-2 dari kiri) didampingi sang ibu, Ratu Srimulya (duduk, paling kiri) saat bermaafan dengan keluarga dan kerabat keraton pada halalbihalal Idulfitri 2021 di Pendopo Jinem, Keraton Kanoman Cirebon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBON.COM -- Di tengah pandemi Covid-19, halalbihalal tetap digelar Keraton Kanoman Cirebon, Selasa, 18 Mei 2021. Sebagian orang memandangnya sebagai momentum ngalap barokah (berharap berkah).

Wabah penyakit menular Covid-19 rupanya tak menghalangi Keraton Kanoman Cirebon untuk tetap menggelar halalbihalal antara sultan dan kerabat.

Namun, berbeda dengan masa sebelum pandemi, jumlah orang yang dapat mengikuti halalbihalal dibatasi.

Prosedur lain terkait protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19 pun dilaksanakan, antara lain pemakaian masker hingga penyediaan fasilitas cuci tangan.

Pada halalbihalal ini, Sultan Kanoman, Sultan Raja Muhamad Emiruddin didampingi sang ibu, Ratu Srimulya menerima sembah sungkem anggota keluarga maupun kerabat Keraton Kanoman.

Sholawat dilantunkan dan mengiringi prosesi saling bermaafan yang diadakan di Pendopo Jinem, Keraton Kanoman.

Patih Kesultanan Kanoman, Pangeran Patih Raja Muhamad Qodiran menyebut, halalbihalal di Keraton Kanoman rutin dilaksanakan pada H+5 Idulfitri.

"Biasanya digelar H+5 Lebaran. Melalui halalbihalal ini, Sultan Emiruddin ingin meminta maaf atas segala kesalahan dan kekurangannya kepada warga dan kerabat," jelasnya.

Dia tak menampik terdapat perbedaan suasana pada halalbihalal selama pandemi.

Bila sebelum pandemi halalbihalal dipadati ribuan orang, pada masa pandemi ini, tamu yang datang dibatasi sejumlah 100 orang.

Meski begitu, diakuinya, antusiasme masyarakat terhitung tinggi. Sementara, halalbihalal secara virtual sulit dilakukan sebab dinilai cukup merepotkan.

Namun, dia memastikan, aturan pemerintah terkait prokes ketat diberlakukan.

"Kalaupun yang datang lebih dari 100 orang, mungkin Anima masyarakat tinggi. Tapi, mereka harus tetap jaga jarak, pakai masker, dan cuci tangan," tegasnya.

Sementara itu, bagi Ahmad Karim (38), warga Desa Sukaraja, Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan, halalbihalal menjadi momentum ngalap barokah yang dinantinya sepanjang 1 tahun.

Dapat duduk di samping sultan dan menyalaminya, meski berlaku prokes, menjadi kesempatan terhitung langka baginya.

Untuk mencapai momen itu, Karim sengaja bertolak dari Kuningan sejak pagi hari tadi.

"Dari tadi pagi berangkat ke keraton. Ini salaman saya dengan sultan yang kali ke-3," ungkapnya semringah.

Ia tak menghiraukan saat harus antri dengan kerabat keraton lain sebelum akhirnya dapat bersalaman dengan sultan.

"Saya senang biarpun harus antri, untuk ngalap barokah dari sultan," ujarnya tanpa mengurangi intensitas kegembiraannya.

Baginya, halalbihalal selama pandemi lebih menyenangkan sebab terasa leluasa sehingga menimbulkan suasana santai. 

Dirinya bahkan bisa berlama-lama berada dekat sultan, sekalipun berjarak mengingat prokes harus ditegakkan.

"Kalau dulu sebelum pandemi kan, habis salaman langsung bubar karena rame banget. Sekarang (saat pandemi) sih enggak, malah bisa duduk-duduk santai di dekat sultan, tapi ya tetap harus jaga jarak," tuturnya.

Walaupun terasa santai, suasana halalbihalal kali ini pun tetap dirasanya khidmat.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar