bank bjb
  
Yamaha

6 Nelayan Indramayu Rusak Kelangsungan Biota Laut, Terancam Hukuman Mati

  Senin, 24 Mei 2021   Erika Lia
6 Nelayan Indramayu Rusak Kelangsungan Biota Laut, Terancam Hukuman Mati
-Direktur Polairud Polda Jabar, Kombes Pol Widihandoko (depan, ke-2 dari kiri) bersama jajarannya menunjukkan barang bukti bahan peledak yang digunakan 6 nelayan asal Kabupaten Indramayu untuk menangkap ikan
KEJAKSAN, AYOCIREBON.COM- Diduga menangkap ikan menggunakan bahan peledak, 6 nelayan asal Kabupaten Indramayu diamankan petugas Polairud Polda Jawa Barat di perairan laut Cantigi, Kabupaten Indramayu.
 
Direktur Polairud Polda Jabar, Kombes Pol Widihandoko mengungkapkan, ke-6 tersangka diamankan ketika petugas berpatroli menggunakan kapal di perairan laut Cantigi, Rabu, 19 Mei 2021 malam.
 
"Mereka menemukan 6 orang yang disangka menggunakan bahan peledak untuk menangkap ikan," katanya, Senin, 24 Mei 2021.
 
Petugas menemukan bahan peledak dan peralatan pendukung lain di sekitar para tersangka kala itu. Alhasil, mereka pun diamankan berikut barang buktinya.
 
Ke-6 tersangka sendiri masing-masing berinisial MZ (22), W (35), W (32), FK (26), K (40), dan KA (19).
 
Selain bahan peledak, petugas juga mengamankan 2 unit kapal 3 GT, bahan-bahan peledak yang disimpan dalam 2 toples, 3 kantong plastik, 4 botol bekas Yakult, genset, jerigen, alat kelistrikan, dan lainnya.
 
Dia menjelaskan, modus operandi tersangka diawali dengan menyiapkan bahan peledak dan alat pendukung lain, sebelum kemudian menuju bagan.
 
"Mereka menggunakan kapal untuk menuju bagan di sekitar perairan laut Cantigi untuk merakit bahan peledak," terangnya.
 
Bahan peledak selanjutnya dibuang ke laut agar ikan mati dan mereka dapat lebih mudah menangkapnya.
 
Namun begitu, dia mengingatkan, perbuatan para tersangka menyebabkan kerusakan sumber daya biota laut dan kerusakan lingkungan laut, khususnya ekosistem terumbu karang.
 
"Kegiatan ini tentunya merupakan pidana perairan yang serius karena dengan perbuatannya bisa merusak biota laut, termasuk benih atau bibit ikan yang masih kecil, yang belum waktunya ditangkap bisa mati semua," tegasnya.
 
Para tersangka disangkakan melanggar Pasal 1 ayat (1) UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 Tentang Bahan Peledak dan Senjata Api dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara setinggi-tingginya 20 tahun.
 
Selain itu, Pasal 84 ayat (1) UU RI Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perubahan atas UU RI Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan dengan ancaman hukuman 6 tahun kurungan penjara dan denda Rp1,2 miliar.
 
"Saya imbau seluruh masyarakat, khususnya para nelayan di pantai selatan dan pantai utara Jawa Barat, yang saat ini menggunakan bahan peledak untuk menangkap ikan dan belum ketahuan serta belum tertangkap, berhentilah dari kegiatan distribusi fisik atau mencari ikan menggunakan bahan peledak atau bahan kimia lain," pintanya.
 
Dia mengingatkan pentingnya menjaga ekosistem laut demi kelangsungan nelayan itu sendiri maupun anak cucu kelak.
 
Sementara itu, Pa Ops Sinden 2 Jibom Den Gegana Polda Jabar, Aipda Erik Heriadi menyebut, bahan peledak yang digunakan para tersangka mengandung belerang dan potassium alumunium.
 
"Bahan peledak yang tersimpan dalam botol bekas Yakult itu kalau meledak, pas dipegang tangan, bisa menghancurkan tangan kita sendiri," tuturnya.
 
Para tersangka diketahui hanya mengisi 1/4 dari kapasitas botol bekas Yakult dengan bahan peledak. Efek destruktif yang dihasilkan sedikit bahan peledak itu pun memprihatinkan pihaknya

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar