bank bjb
  

Perempuan Haid Baca Alquran, Begini Pandangan Sejumlah Ulama

  Jumat, 28 Mei 2021   Erika Lia
Perempuan Haid Baca Alquran, Begini Pandangan Sejumlah Ulama
Bolehkah perempuan haid membaca Alquran, begini pandangan sejumlah ulama

HARJAMUKTI, AYOCIREBON.COM -- Bolehkah perempuan haid baca Alquran? Hal ini menyikapi larangan salat dan berpuasa bagi yang sedang mendapat halangan ini.

Membaca Alquran menjadi salah satu ibadah yang memiliki perbedaan pendapat dari ulama-ulama mazhab dalam pelaksanaannya bagi muslimah yang sedang haid.

Ada mazhab yang mengharamkan muslimah yang sedang haid membaca Alquran. Namun begitu, ada pula yang membolehkannya.

Dilansir Ayocirebon.com dari arisannasi.org, Ustaz Abu Ghozie As Sundawie yang menukil kitabul adab, Fuad As Syalhub berpendapat, seorang muslimah dibolehkan boleh membaca Alquran sekalipun tengah haid.

Hal itu salah satunya didasarkan perkataan Syaikh Fuad Abdul Aziz Al Syalhub yang menyebut tak ada dalil yang sahih sebagai rujukan yang melarang seorang perempuan membaca Alquran saat sedang haid atau nifas.

Namun, aktivitas itu harus dilakukan tanpa menyentuh dan memegang mushaf Alquran.

"Bolehnya seorang wanita yang sedang haid atau nifas membaca Alquran karena tidak ada dalil yang shahih sebagai rujukan yang melarang hal itu, tetapi tanpa menyentuh mushaf. Lajnah Da'imah berkata, "Adapun wanita yang sedang haid atau nifas bila membaca Alquran tanpa memegang mushaf, maka tidak apa-apa menurut pendapat yang benar dari dua pendapat ulama karena tidak ada dalil yang shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang melarang hal itu." (Fatwa Lajnah Ad Daaimah 4/74 no 3713).

Dasar hukum dari perkara ini adalah firman Allah Ta'ala dalam Surat Al Waqi'ah ayat 79: "Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan".

Dalam kitab hadis dan fiqih yang disusun Imam Malik bin Anas (Al Muwaththa Malik) meriwayatkan:

"Dan ini larangan menyentuh mushaf kecuali dalam keadaan suci, terdapat dengan jelas pada sebuah surat yang ditulis Nabi Shalallahu Alaihi wa Salam untuk Amer bin Hazm yang di dalamnya berbunyi, "Tidak boleh menyentuh Alquran, kecuali dalam keadaan suci"."

Imam Ibnu Abdul Barr rahimahullah berkata:

"Kitab yang masyhur di kalangan ulama dan sangat populer kemasyhurannya sudah sangat cukup hingga tidak memerlukan sanad." (At Tamhid, 17/396).

Hadist ini disahihkan Al Albani dalam Al Irwa', 122. Dia pula menyebutkan bahwasanya Imam Ahmad berhujjah menggunakan hadis ini dan bahwasanya Ishaq bin Rahawaih mensahihkannya juga.

Begitu pandangan sejumlah ulama soal perempuan haid baca Alquran.

Bila pun seorang muslimah yang sedang haid harus membawa Alquran, bolehlah ia menggunakan alas atau tas dan selainnya yang menghalangi ia dengan Alquran langsung.

Hal ini pernah disinggung dalam Majelis Fatwa Lajnah Ad Daaimah di Saudi Arabia:

"Apakah boleh bagi orang yang berhadas (keadaan tidak suci) membawa mushaf Alquran dengan Ilaqah (sarung Alquran) atau di kantung bajunya? Jawaban: Ya, boleh membawa Alquran dengan ilaqah karena itu tak termasuk menyentuh Alquran." (Lihat Fatwa Lajnah Daimah nomor 557, 4/76).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata:

"Orang yang membawa mushaf, ia boleh membawanya dengan dibungkus kain. Dan hukum mengeluarkan mushaf itu dan membawanya sama apakah kain itu untuk laki-laki atau perempuan atau anak-anak, sekalipun kain itu di atasnya atau di bawahnya. Wallahua'lam." (Fatwa An Nisa', halaman 21 cetakan Darul Qalam).

Alternatif lain bagi muslimah yang sedang haid dan harus membaca Alquran dapat memanfaatkan aplikasi pada ponsel.

Aplikasi Alquran pada ponsel tidaklah memiliki hukum mushaf sehingga boleh menyentuhnya.

Namun begitu, hal tersebut tak berlaku bagi muslimah yang sedang junub (keadaan tidak suci karena keluar air mani atau bersetubuh).

Muslimah yang dalam kondisi junub mutlak dilarang membaca Alquran. Bila hendak membawanya, ia harus mandi untuk menyucikan diri dari hadas besar.

Perkara itu disinggung pula dalam majelis Fatwa Lajnah Ad Saimah:

"Orang yang sedang junub tidak boleh membawa Alquran hingga ia mandi, baik membaca dari mushaf ataupun dari hafalannya, dan tak boleh ia membawanya pada mushaf kecuali dalam keadaan suci secara sempurna, baik hadas besar ataupun hadas kecil." (Fatwa 5/328 nomor 8859).

Begitulah sejumlah pandangan ulama dalam perkara perempuan haid baca Alquran.


  Tags Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar