bank bjb
  

Serba Serbi 3 Keraton di Cirebon, Cocok jadi Destinasi Liburan Akhir Pekan

  Jumat, 04 Juni 2021   Erika Lia
Serba Serbi 3 Keraton di Cirebon, Cocok jadi Destinasi Liburan Akhir Pekan
Keraton Kasepuhan Cirebon, salah satu dari 3 keraton yang dapat dinikmati saat melancong ke Cirebon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBON.COM -- Cirebon menjadi satu-satunya daerah di Jawa Barat yang memiliki keraton dengan eksistensi kehidupannya hingga kini.

Dahulu, keraton merupakan pusat pemerintahan. Namun kini, seiring zaman, keraton lebih berperan sebagai penjaga seni budaya lokal dan nasional.

Untuk menjalankan fungsi itu, rentetan tradisi masih dilakoni keluarga keraton yang hidup di dalamnya, sebagai upaya menjaga identitas bangsa.

Di sisi lain, keraton kini terbuka bagi siapapun yang hendak berkunjung, baik peneliti hingga pelancong.

Cirebon sendiri diketahui memiliki 3 keraton, masing-masing Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan.

Ke-3 keraton merupakan destinasi wisata yang banyak dikunjungi pelancong maupun peneliti, baik dari dalam negeri hingga luar negeri.

Nah, wisata keraton Cirebon bisa jadi pilihan tujuan untuk menghabiskan akhir pekan. Kuy cekidot!

1. Keraton Kasepuhan
Keraton Kasepuhan yang terletak di Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon semula dikenal dengan nama Keraton Pakungwati.

Keraton Pakungwati dibangun Pangeran Cakrabuana, putra Raja Pajajaran pada 1452 dan menjadi cikal bakal Keraton Kasepuhan.

Dahulu, Sunan Gunung Jati berkedudukan di sini sampai ia mangkat pada abad ke-16.

Saat ini, tampuk tertinggi di Keraton Kasepuhan dipegang Sultan Sepuh XV Pangeran Raja Adipati (PRA) Luqman Zulkaedin.

Selain keraton itu sendiri, di area ini ada pula museum yang menyimpan benda-benda pusaka.

"Museum ini menyimpan benda pusaka lama dari kamar pusaka yang tidak pernah diperlihatkan sebelumnya. Saat ini semua benda itu terpajang rapi di dalam museum," kata Sultan Luqman kepada Ayocirebon.com, Jumat, 4 Juni 2021.

Melalui benda-benda yang terpajang, baik peninggalan Nusantara hingga bangsa Belanda, Jepang, Portugis, maupun Cina, pelancong diajak mengenal sejarah bangsa.

Benda-benda itu merupakan peninggalan sejak zaman Padjajaran akhir, Sunan Gunung Jati, Panembahan, hingga era Kesultanan yang dimulai dari Sultan Sepuh I hingga Sultan Sepuh XIV.

Museum-Pusaka-Keraton-Kasepuhan
Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon yang menyimpan benda-benda bersejarah. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

Tiket masuk wisata Keraton Kasepuhan dibanderol Rp10.000/orang, sedangkan tiket masuk wisata museum Rp15.000/orang. 

"Ada tiket wisata terusan Rp20.000/orang di mana pengunjung bisa berwisata ke keraton maupun museum sekaligus," ujar Sultan Luqman.

Pelancong yang ingin mengenali setiap objek yang didatanginya dapat ditemani pemandu yang disiapkan pihak keraton.

Pemandu akan menemani pelancong berkeliling. Sultan Luqman menyebut, tak ada tarif khusus untuk jasa pemandu.

2. Keraton Kanoman 
Dilansir Ayocirebon.com dari buku Potensi Wisata Budaya Kota Cirebon oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon, Keraton Kanoman Cirebon muncul sebagai konsekuensi dari pembagian Kesultanan Cirebon. Ke-2 kesultanan masing-masing dipimpin kakak beradik.

Kesultanan Kanoman dipimpin Pangeran Mohamad Badridin atau Pangeran Kartawijaya bergelar Sunan Anom I pada 1678. Sementara, Kesultanan Kasepuhan dipimpin Pangeran Martawijaya bergelar Sultan Sepuh I.

Salah satu objek menarik di area Keraton Kanoman disebut Witana yang diyakini sebagai bangunan tempat tinggal pertama yang didirikan ketika Cirebon masih berupa Dukuh Caruban, sekitar abad ke-15.

Keraton Kanoman sendiri terletak di Kelurahan/Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Harga tiket masuk Keraton Kanoman Rp15.000/orang.

keraton-kanoman-cirebon
Lonceng Gajah Mungkur yang jadi salah satu peninggalan Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stamford Raffles di Keraton Kanoman. (Ayocirebon.com)

Di sini, pelancong dapat menikmati arsitektur Bangsal Jinem di halaman depan keraton. 

Ada pula Pancaratna berupa bangunan kayu tanpa dinding di sebelah barat pintu masuk. 

Bangunan tanpa dinding lainnya yakni Pancaniti di sebelah timur pintu masuk. Di masa silam, Pancaniti berfungsi sebagai tempat jaga prajurit kerajaan.

Selain itu, terdapat artefak simbol kesuburan berupa lumpang dan alu watu. Keduanya diyakini pernah digunakan Pangeran Walangsungsang dan Ratu Rarasantang untuk menumbuk rebon menjadi terasi yang kini menjadi salah satu bumbu khas Cirebon.

Bangunan lain yang arsitekturnya pula dapat dinikmati antara lain Siti Inggil dengan Manguntur dan Bangsal Sekaten, Paseban, Langgar Keraton, Gedung Gajah Mungkur atau disebut juga Lawang Jam, Gedung Pusaka tempat menyimpan benda pusaka milik keraton, Singa Brata, Gedung Jinem sebagai tempat pertemuan keluarga keraton, Blandongan, Ruang Prabayaksa, Mande Mastaka, Gedung Keputren, Gedung Dalem sebagai tempat tinggal sultan, Bangsal Ukiran, Gedung Pulantara, dan lainnya.

3. Keraton Kacirebonan
Tak jauh dari Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman, terdapat Keraton Kacirebonan yang berlokasi di Kelurahan Pulasaren, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon.

Disarikan dari sumber yang sama, Keraton Kacirebonan diketahui didirikan pada 1808 oleh Pangeran Anom. Pendirian Keraton Kacirebonan dilatari penggantian Sultan Anom IV Sultan Anom Muhamad Khaerudin yang wafat pada 1802.

Keberadaan Keraton Kacirebonan tak lepas dari campur tangan Pemerintah Belanda. Ketika itu, Sultan Anom IV memiliki anak laki-laki kembar.

Gubernur Daendels ketika itu diketahui memutuskan ke-2 anak laki-laki tersebut beroleh gelar sultan. Salah satu anak tersebut, Pangeran Raja Kanoman, ditetapkan sebagai Sultan Kacirebonan.

Hanya, Daendels memutuskan keturunan Sultan Kacirebonan tak dapat melanjutkan gelar kesultanannya dan hanya bergelar pangeran. Keraton Kacirebonan pun tak punya wilayah kekuasaan.

Keraton-Kacirebonan
Keraton Kacirebonan. (Disparbud Jabar)

Daendels hanya menggelari anak kembar yang seorang lagi, Pangeran Abusaleh Imamuddin sebagai sultan dan mendapuknya sebagai Sultan Anom V. Berbeda dengan Sultan Kacirebonan, keturunan Pangeran Abusaleh justru diputuskan dapat menggunakan gelar sultan.

Ketika Inggris menguasai Pulau Jawa, keputusan Dandels tak diubah. Saat ini Keraton Kacirebonan dipimpin Pangeran Raja Abdul Gani Natadiningrat.

Tak ubahnya 2 keraton Cirebon lain, Keraton Kacirebonan pun memiliki arsitektur memikat.

Selain bangunan induk, di area keraton ada pula Paseban, Langgar, Gedung Ijo, Prabayaksa, Pringgowati, alun-alun yang dulu dimanfaatkan sebagai arena latihan perang-perangan para santri yang berasal dari masyarakat Kacirebonan sendiri. 

Saat ini, alun-alun kerap pula dimanfaatkan sebagai area pertunjukan seni. Di Keraton Kacirebonan pun terdapat bangunan Pancaratna dan Pancaniti yang sama-sama berfungsi sebagai tempat menanti bagi tamu keraton.

Ada pula ruang Pinangeran sebagai tempat tinggal kerabat sultan, Dapur Gede sebagai tempat memasak khusus pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Istana Kepatihan, dan bangunan lain.

Untuk menikmati arsitektur dan suasana Keraton Kacirebonan, pelancong harus membayar tiket masuk Rp10.000/orang bagi pelajar, Rp15.000/orang bagi umum, dan Rp20.000/orang bagi pelancong asing.

Beberapa kiat yang bisa dilakukan pelancong saat berwisata ke keraton-keraton Cirebon salah satunya memperhatikan waktu kedatangan.

Pagi hingga menjelang siang menjadi waktu yang dianjurkan untuk melancong ke keraton sebab udara terasa lebih sejuk.

Mempertimbangkan pula suhu udara Cirebon yang berkisar di atas 30°C hingga 34°C, pelancong disarankan membekali diri dengan air mineral yang cukup.

Selain itu, sebaiknya kenakan topi atau penutup kepala yang dapat meminimalisir paparan sinar matahari.

Namun begitu, sedianya area ke-3 keraton banyak ditumbuhi pepohonan rindang.

Tak hanya menyediakan oksigen dan udara segar, dengan sudut yang tepat pepohonan dapat menjadi angle pendukung yang serasi dengan bangunan keraton pada foto Anda!

Itulah 3 keraton di Cirebon yang bisa dijadikan rekomendasi liburan akhir pekan!


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar