Yamaha

Ketahui Dampak Pernikahan Dini, Ibu dan Anak Bisa Rugi

  Rabu, 09 Juni 2021   Editor
ilustrasi pernikahan dini / perkawinan anak. (Pixabay)

JAKARTA, AYOCIREBON.COM -- Pernikahan dini atau perkawinan anak bisa berdampak buruk terhadap keluarga. Dampak-dampak itu meliputi urusan pendidikan, ekonomi, kesehatan fisik dan mental pada orang tua, anak, hingga keluarga tersebut secara umum.

Mengutip informasi Indonesiabaik.id, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menilai, perkawinan dini pada anak menjadi bentuk pelanggaran hak anak yang memiliki banyak dampak negatif dan sangat berbahaya tidak hanya bagi anak, keluarga, tapi juga negara.

AYO BACA: Pandemi Pemicu Pernikahan Umur Pelajar di Indonesia

Kemen PPPA mengungkapkan, upaya mencegah terjadinya perkawinan anak turut mendukung percepatan penurunan angka stunting, dan peningkatan setinggi mungkin derajat kesehatan anak Indonesia, sesuai dengan amanat Konvensi Hak Anak dan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Hal itu di antaranya yaitu stunting, tingginya angka kematian ibu dan bayi, tingginya angka putus sekolah, tingginya angka pekerja anak yang rentan diberi upah rendah sehingga turut meningkatkan angka kemiskinan, serta dampak lainnya.

AYO BACA: Angka Perkawinan Anak Indonesia yang Memprihatinkan

Untuk itu, semua pihak perlu bersinergi mencegah perkawinan anak demi kepentingan terbaik 80 juta anak Indonesia.

Menurut Satgas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia Eva Devita Harmoniat menuturkan, perkawinan anak memberikan dampak negatif tidak hanya pada kesehatan fisik ibu yang masih remaja tapi juga kesehatan mental seperti baby blues, depresi, ansietas, sulit bonding dengan bayinya, hingga berpikir bunuh diri atau menyakiti bayinya.

AYO BACA: Rasminah dan Hantu Perkawinan Anak di Indramayu

Perkawinan anak akan menghasilkan kehamilan di usia muda yang sangat berisiko menyebabkan tingginya morbiditas dan mortalitas maternal.

Selain itu  dampak jangka panjang kesehatan bayi yang dilahirkan, seperti berat lahir rendah, prematuritas, malnutrisi, stunting, gangguan perkembangan, pencapaian akademis rendah, serta berisiko mengalami kekerasan dan penelantaran.

AYO BACA: MUI Dorong Pematangan Usia Anak Sebelum Perkawinan


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar