Yamaha

Nomor Palsu Bikin Tracing Covid-19 di Jabar Terhambat

  Jumat, 11 Juni 2021   Idham Nur Indrajaya
ilustrasi. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

BANDUNG, AYOCIREBON.COM -- Ketua Divisi Penanganan Kesehatan Satgas Penangan Covid-19 Jabar Marion Siagian mengungkapkan, pemberian nomor palsu dari warga kerap menghambat proses tracing Covid-19 di Jabar.

Hal itu diungkapkan Marion dalam acara Jabar Punya Informasi (Japri) dengan tema “Antisipasi Jabar Menghadapi Lonjakan Covid-19 & Percepatan Vaksinasi”, Jumat, 11 Juni 2021.

“Untuk 3T ini, kami juga mengalami kesulitan di lapangan, terutama yang terkait dengan tracing,” ujar Marion.

Saat mendatangi ruang publik, petugas melakukan pencatatan identitas orang-orang yang ada di sekitar. Prosedur itu merupakan bagian dari pelaksanaan tracing yang saat ini tengah digencarkan kembali ketika kenaikan kasus terjadi pascalibur lebaran 2021. Akan tetapi, dari sekian orang yang didata oleh petugas, banyak pengisi yang malah mencantumkan nomor telepon palsu sehingga tidak bisa dihubungi.

“Jadi kalau kita lihat, misalnya kalau kita masuk ke dalam suatu restoran, kita selalu menuliskan nama, alamat, nomor telepon. Coba dicek, pasti nomor teleponnya itu nggak benar sehingga ketika kami tracing, itu banyak sekali nomor-nomor yang tidak bisa dihubungi,” kata Marion.

AYO BACA: Covid-19 Jabar Meningkat, Satgas: Bayangkan Jika Tidak Ada Larangan Mudik

Pencatatan nomor telepon merupakan hal yang penting dalam tracing karena seandainya di suatu ruang publik tercipta suatu klaster, maka orang-orang yang pernah hadir di tempat itu perlu dikabari dan ditanyai mobilitasnya. Hal itu berkaitan dengan upaya pemerintah dalam memutus rantai penularan Covid-19.

Marion pun berharap, masyarakat bisa lebih kooperatif dalam penanganan Covid, khususnya yang berkaitan dengan upaya pemerintah dalam melakukan tracing di kelompok masyarakat. Selain itu, Marion juga mengimbau agar masyarakat tidak lengah dan tetap memberlakukan 5M dalam keseharian.

“Ini juga harus disampaikan kepada masyarakat supaya ketika tracing itu mau membuka diri kepada petugas di lapangan supaya mata rantai ini bisa diputus,” tegas Marion.

Untuk diketahui, setelah libur panjang Idulfitri 2021, terjadi lagi peningkatan kasus positif Covid-19 seperti yang terjadi dalam libur-libur panjang sebelumnya. Angka Bed Occupancy Rate (BOR) rumah sakit di Jabar sudah melebihi standar WHO, yakni sudah melebihi angka 60%.  Gubernur Jabar Ridwan Kamil pun sudah menyampaikan kepada satgas bahwa saat ini Jabar memasuki status siaga.

“Tadi malam (10 Juni 2021), kita mencatat untuk keseluruhan Jawa Barat, BOR itu sebesar 62,65%. Jadi, kalau dibandingkan dengan minggu lalu, ini pertambahannya cukup tinggi. Sehari nambahnya 2-3%. Ini sudah melewati standar dari WHO. Standar WHO itu 60%. Kalau Pak Gubernur bilang ini sudah siaga,” pungkas Marion.

AYO BACA: Pasien Covid-19 di Jabar Bludak, BOR di Atas Standar WHO

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Jabar Daud Ahmad membenarkan soal adanya kenaikan kasus di Jabar setelah libur panjang Idulfitri. Menurut Daud, untuk saat ini, daerah sebaran utama masih didominasi oleh wilayah Bandung Raya dan Jabodetabek.

“Beberapa minggu terakhir ini memang kecenderungan tren kasus positif naik, perbeberapa hari terakhir di atas angka 1.000 untuk seluruh Jabar, den gan daerah sebaran yang utamanya tetap didominasi di Bandung Raya dan juga Jabodetabek. Kemudian ada beberapa daerah lain di luar wilayah itu, di Karawang, kemudian juga di Cirebon,” ujar Daud.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar