bank bjb
  

Air Hilang dan Gempa Minor Dikhawatirkan Muncul Saat Gunung Ciremai Dieksplorasi untuk PLTP

  Selasa, 15 Juni 2021   Erika Lia
Air Hilang dan Gempa Minor Dikhawatirkan Muncul Saat Gunung Ciremai Dieksplorasi untuk PLTP
Gunung Ciremai. (Wikipedia)

KUNINGAN, AYOCIREBON.COM -- Kehabisan cadangan air tanah menjadi hal yang paling dikhawatirkan sebagian warga terkait pemanfaatan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ciremai menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).

Tak hanya itu, kekhawatiran lain berupa kerusakan hutan konservasi hingga potensi gempa minor.

Ancaman-ancaman itu membayangi warga bila mempertimbangkan teknik pengeboran panas bumi dilakukan dengan hydrolic fracturing (fracking), seperti yang selama ini dipakai. Fracking merupakan salah satu metode untuk penyedot gas alam.

"Teknik pengeboran fracking selalu menghabiskan cadangan air dan merusak hutan konservasi. Itu juga menimbulkan gempa minor yang membuat rumah dan lahan pertanian rakyat rusak," ungkap Girang Pangaping Adat Karuhun Sunda Wiwitan, Okki Satrio Djati kepada Ayocirebon.com, Senin, 14 Juni 2021.

Pada kurun waktu sekitar 2 tahun pada 2013-2015, Okki pernah ditugaskan bergabung dengan Jaringan Rakyat Desa Gerakan Massa Pejuang untuk Rakyat (Gempur) dan 'mengusir' Chevron dari Gunung Ciremai.

Gempur terdiri dari simpul-simpul sekitar 32 desa di lereng Gunung Ciremai, baik di Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, mahasiswa Cirebon, Kuningan, dan Jakarta, hingga jaringan kuncen dari situs-situs di Gunung Ciremai.

Menurut Okki, gempa minor berdampak hingga sejauh radius 4 km dari titik pengeboran. 

AYO BACA : Pemerintah Mesti Tuntas Sosialisasikan Dampak PLTP Gunung Ciremai

Di Kabupaten Kuningan, titik pengeboran sendiri meliputi Desa Pajambon di Kecamatan Kramatmulya, Desa Ciniru di Kecamatan Ciniru, dan Desa Sangkanhurip, Kecamatan Cigandamekar, serta sejumlah titik lain.

Okki menyebutkan, di banyak negara, teknik fracking kerap menghabiskan cadangan air tanah. Dia antara lain menunjuk Pangalengan di Kabupaten Bandung, Kamojang dan Darajat di Kabupaten Garut, maupun Danau Kelimutu di Nusa Tenggara Timur.

"Kami harap Kementerian ESDM bisa menjelaskan turunnya permukaan air di Pangalengan hingga lebih dari 5 m dan penurunan permukaan Danau Kelimutu di NTT," tuturnya.

Pihaknya berharap kementerian dapat pula menjelaskan tanggung jawab pemerintah daerah maupun Kementerian ESDM sendiri bila terjadi kecelakaan akibat kelalaian manusia.

Kejadian itu salah satunya ditunjukkan pada insiden kebocoran gas pada PLTP Sorik Marapi di Mandailing Natal, Sumatera Utara, pada 25 Januari 2021 hingga menyebabkan 5 orang tewas.

Kerusakan lahan, lanjutnya, pula terjadi di Mataloko, Pulau Flores, NTT, akibat pengeboran bocor dan menimbulkan semburan-semburan air panas.

Okki mengingatkan, pandemi hingga kini belum usai. Dia menyarankan pemerintah daerah memprioritaskan upaya penguatan ekonomi pada sektor UMKM.

AYO BACA : Eksplorasi Panas Bumi di Gunung Ciremai Khawatir Bikin Oknum Makin Leluasa Masuk Lahan Konservasi

"Ibu Bumi ini sedang luka karena pandemi Covid-19. Semestinya Pemda memprioritaskan upaya ekonomi pada sektor UMKM dan merawat keseimbangan bumi," tandasnya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Kuningan, Dian Rachmat Yanuar belum merespon pertanyaan yang diajukan Ayocirebon.com.

Terpisah, Kuwu Sangkanhurip, Jujun mengaku, belum mengetahui ihwal titik pengeboran panas bumi (geotermal) di wilayah yang dipimpinnya.

"Cuma dapat informasi ada pemberdayaan di Gunung Ciremai, bukan desanya. Lainnya saya tidak tahu, juga prospeknya saya tidak tahu," ujarnya saat dikonfirmasi Ayocirebon.com.

Sejak menjabat sebagai kepala desa setempat pada 2017, dia pun menyatakan belum pernah menerima tim eksplorasi yang terkait prospek panas bumi di Sangkanhurip.

Hanya, imbuhnya, selama ini Desa Sangkanhurip memiliki sumber air panas. Itulah sebabnya di desa ini bertumbuhan objek-objek wisata air panas.

Bila pun memang pemanfaatan panas bumi di WKP Gunung Ciremai kelak diketahui pihaknya, pemerintah desa dijanjikannya akan merundingkan dengan warga.

"Terutama dampaknya seperti apa, kami serahkan keputusannya kepada warga," cetusnya.

Di Desa Sangkanhurip, sebutnya, terdapat sekitar 1.500 KK atau 4.500 jiwa. Dia berharap, dampak pemanfaatan Gunung Ciremai tak berdampak buruk bagi warga.

AYO BACA : Walhi Ingatkan Dampak Pembangunan PLTP Gunung Ciremai


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar