bank bjb
  

Lansia Warga Indramayu Ini Alami Gangguan Saraf Usai Vaksinasi Covid-19

  Jumat, 18 Juni 2021   Erika Lia
Lansia Warga Indramayu Ini Alami Gangguan Saraf Usai Vaksinasi Covid-19
Munadi (kiri) bersama Elih Sumyati (kanan), warga Desa Kongsijaya, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, saat menceritakan pengalamannya seusai vaksinasi. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

INDRAMAYU, AYOCIREBON.COM -- Seorang pria lansia di Desa Kongsijaya, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, Munadi (60), mengalami gangguan fungsi tubuh dan gangguan perilaku seusai disuntik vaksin Covid-19.

Munadi sempat mengalami mati rasa pada tubuh bagian kanan beberapa hari setelah vaksinasi tahap 2 dijalaninya

"Tangan sama kaki kanan kayak mati rasa," ungkap istri Munadi, Elih Sumyati (44), Jumat, 18 Juni 2021.

Tak hanya seolah mati rasa pada fisiknya, yang lebih mengejutkan Elih, sang suami sempat lupa ingatan.

"Suami saya nge-blank gitu, lupa ingatanlah," ujarnya.

Elih pun menceritakan kronologi kejadian yang menimpa Munadi, yang bermula dari vaksinasi yang dijalaninya beberapa bulan lalu.

Dia menjadi salah satu lansia yang terdaftar untuk disuntik vaksin di desanya. Meyakini diri tak ada riwayat penyakit berat, Munadi pun menjalani vaksinasi.

Vaksinasi tahap 1 berjalan baik. Tak ada efek samping yang dirasakan Munadi. Lain halnya dengan vaksinasi tahap 2 yang setelahnya menyebabkan dia mengalami gejala pegal.

"Suami saya terus minum obat pegal," cetus Elih diamini Munadi.

Selang 3 hari berikutnya, rasa pegal kembali dia rasakan. Obat penghilang pegal pun diminumnya lagi.

Keesokan harinya, imbuh Elih, mereka sekeluarga sempat pergi melayat ke Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu.

"Waktu berangkat suami saya enggak kenapa-kenapa," tutur Elih.

Namun, ketika pulang, Elih mendapati kondisi sang suami tetiba memprihatinkan.

Perubahan terjadi pada gaya berjalan Munadi yang harus menyeret kaki kaki kanannya setiap dia melangkah.

Elih pun lantas meminta bantuan tim Dokter Masuk Rumah (Dokmaru) Puskesmas Widasari agar sang suami diperiksa.

Kala itu, pihak dokter meyakinkan kondisi Munadi bukan efek samping vaksin, melainkan sebatas gangguan saraf yang dimungkinkan sebab kekurangan tidur dan kelelahan.

Elih mengakui, Munadi punya kebiasaan bergadang. Namun, sedianya dia tetap tak begitu memahami efek lupa ingatan yang dialami sang suami bersamaan dengan gangguan fisik tubuhnya.

Elih membeberkan, tak jarang Munadi keluar rumah tanpa mengenakan pakaian. Menurutnya, itu hal yang belum pernah terjadi.

Mempertimbangkan anak-anak mereka telah hidup terpisah dan mereka hanya tinggal berdua, Elih pun mencoba mengobati sang suami.

Munadi sempat menjalani terapi totok saraf di Kabupaten Majalengka selama 2 minggu sekali. Upaya lain membawa Munadi ke pemandian air panas di Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon.

"Ya itu, katanya buat menyembuhkan urat-urat saraf gang sudah mati rasa," jelas Elih.

Seusai Idulfitri pada Mei 2021, setelah tubuh bagian kanannya mati rasa, tubuh bagian kiri Munadi tetiba mengalami hal serupa.

Upaya pengobatan pun terus dilakukan Munadi yang diketahui relawan Orari ini, dengan Elih setia mendampinginya.

Perlahan, ingatan Munadi pulih setelah sekitar 1,5 bulan mencoba terapi sana sini. Saat ini, keduanya tengah fokus untuk menyembuhkan mati rasa pada tubuh bagian kiri Munadi.

Terapi yang dijalani Munadi kini bersepeda keliling kampung setiap hari, baik saat siang maupun sore hari.

"Dipegang enggak kerasa, tapi kalau digerakkan sih masih bisa," tutur Munadi.

Di tengah usahanya untuk pulih, terselip kegelisahan di hati Munadi. Dia tak menghendaki apa yang dialaminya justru membuat masyarakat menjadi enggan disuntik vaksin.

"Takut orang-orang sini (di desanya) enggak mau disuntik vaksin," pungkasnya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar