bank bjb
  

Cara Menjaga Keberagaman SARA Menurut Azmi Abubakar

  Sabtu, 19 Juni 2021   Erika Lia
Cara Menjaga Keberagaman SARA Menurut Azmi Abubakar
Pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Azmi Abubakar saat berdiskusi dengan warga Tionghoa Cirebon di Klenteng Pemancar Keselamatan (Boen San Tong), Winaon, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon.

PEKALIPAN, AYOCIREBON.COM- Pendidikan dipandang sebagai modal utama untuk menjaga keberagaman di tanah air. Pun di Cirebon.

Pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Azmi Abubakar menelusuri jejak-jejak masyarakat Tionghoa di Cirebon untuk merekam kontribusi mereka sejak masa silam.

Azmi menyebut, masyarakat Tionghoa layaknya penjahit keberagaman. "Di tengah tekanan terhadap masyarakat Tionghoa, mereka punya peran sebagai penjahit keberagaman," tuturnya ditemui Ayocirebon.com di Klenteng Pemancar Keselamatan (Boen San Tong) di kawasan Winaon, Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, Jumat, 18 Juni 2021.

Aktivis pada Kerusuhan Mei 1998 ini mengingatkan, masyarakat Tionghoa bahkan turut pula mewarnai perjuangan Indonesia pada masa kolonialisme.

Azmi mengaku menemukan sejumlah tokoh Tionghoa penting yang pernah hidup di Cirebon, salah satunya Mayor Tan Tjin Kie. 

Berdasarkan catatan Ayocirebon.com, Mayor Tan Tjin Kie pernah hidup pada masa kolonialisme Belanda, sekitar akhir 1800.

Dia diketahui merupakan Kapitan Cina Cirebon atau kepala golongan penduduk Cina pada masa Pemerintahan Belanda.

 "Mayor Tan Tjin Kie lahir di Cirebon, dicintai semua orang. Masa itu, kalau ada apa-apa semua orang lapor ke Mayor, termasuk warga Arab di Cirebon," beber Azmi.

Selain merekam sejarah Mayor Tan Tjin Kie, Azmi pula menelusuri jejak Putri Ong Tien, istri Sunan Gunung Jati yang dimakamkan di komplek makam Sunan Gunung Jati, Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon.

Rencananya, hasil penelusuran jejak-jejak masyarakat Tionghoa selama di Cirebon, akan menjadi catatan penting yang dibawa Azmi untuk memperkaya khazanah pada Museum Pustaka Peranakan Tionghoa yang didirikannya.

Azmi menyebut, sejatinya banyak kontribusi masyarakat Tionghoa yang belum dikenal luas masyarakat, termasuk di Cirebon.

Baginya, hal itu harus disampaikan kepada khalayak luas agar Cirebon lebih guyub dan menjadi teladan keberagaman di tanah air.

Tanpa pengetahuan, upaya memahami, alih-alih mewujudkan kehidupan bersama di tengah keberagaman pun terancam.

"Pendidikan itu bisa jadi upaya merawat keberagaman," tutur pria kelahiran Aceh ini.

Materi mengenai keberagaman, lanjutnya, dapat dijadikan muatan lokal di sekolah agar generasi muda tak terpapar informasi yang salah.

Salah satu tokoh masyarakat Tionghoa Cirebon, Indrawati atau akrab disapa Giok menyebut, masyarakat Tionghoa sejatinya membutuhkan perlindungan hukum dari pemerintah.

"Untuk setiap partisipasi masyarakat Tionghoa, yang kami butuhkan cukup perlindungan hukum dari pemerintah. Tanpa itu, susah," ungkapnya.

Lulusan Sastra Indonesia Universitas Indonesia (UI) Angkatan 1963 ini mengatakan, masyarakat Tionghoa pun masih berjuang untuk sama-sama satu pandangan terhadap perwujudan keberagaman itu sendiri.

Tantangan lain yang berkaitan dengan upaya mewujudkan keberagaman pula datang dari generasi muda Tionghoa.

"Saya harap Azmi dan museum yang didirikannya akan mampu membangkitkan kepedulian generasi muda Tionghoa terhadap keberagaman," harapnya.

Indrawati yang dikenal pula sebagai generasi ke-4 pada usaha batik peranakan di Cirebon ini menilai, keberagaman di kota tempatnya lahir sudah cukup bagus.

"Cukup bagus, tapi masih kalah dibanding Semarang, Surabaya, Tuban. (Upaya merawat keberagaman di Cirebon) masih perlu ditingkatkan," tutupnya.


   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar