Kisah Lengkap Sewu Dino, Lebih Horor dari KKN di Desa Penari!

- Jumat, 20 Mei 2022 | 17:25 WIB
Kisah Lengkap Sewu Dino, Lebih Horor dari KKN di Desa Penari! (Twitter: SimpleMan)
Kisah Lengkap Sewu Dino, Lebih Horor dari KKN di Desa Penari! (Twitter: SimpleMan)

Mbah Tamin hanya bisa membelai rambut Dela, berusaha menenangkannya. Pemandangan itu seperti melihat seorang ayah dan anak yang saling mengasihi. Namun, Sri masih belum mengerti kenapa seakan Dela yang ini berbeda dengan Dela yang Sri dan Erna temui tadi. Apa yang terjadi sebenarnya?

"sing sabar yo nduk, mari iki puncak lorohmu" (sabar ya nak, sebentar lagi adalah puncak rasa sakitmu) ucap mbah Tamin, ia masih mengelus rambut Dela.

Lalu, Dela melirik Sri dan yang lain yang hanya diam mematung, tatapannya seakan mengucapkan "terimakasih sudah mau merawat saya"

Lalu Mbah Tamin mengikat tangan dan tali Dela, tergambar wajah sedih disana. Ia masuk ke dapur, mengambil sebuah kain putih besar. Saat mbah Tamin kembali ke kamar Dela, Dela menangis semakin keras ia berulang kali mengatakan.

"ojok ki, ojok balekno aku nang kono" (jangan ki, jangan kembalikan saya kesana)

Namun mbah Tamin tetap meletakkan kain putih itu menutupi sekujur tubuh Dela yang meronta-ronta. Terakhir, mbah Tamin membakar kemenyan sebelum memegang kepala Dela dan terdengar suara raungan yang mengguncangkan seisi rumah itu.

Sri dan Erna sampai beringsut mundur, sosok di dalam kain itu terus meraung layaknya iblis yang Sri saksikan tadi. Kali ini Dini tampak terguncang bingung ada apa sebenarnya disini. Terdengar suara marah dari dalam kain. ia adalah wujud tadi yang Sri saksikan, "Menungso bejat" (manusia brengsek)

Si Mbah Tamin terus menekan kepalanya, membuat suara itu semakin menjerit marah. Setelah kurang lebih 5 menit mbah Tamin melakukan itu perlahan, sosok itu mulai tertidur dan mbah Tamin membuka kain itu ia melihat Dela memejamkan matanya.

"Sri, Erna, melok aku" (kalian ikut saya) kata mbah Tamin memanggil mereka. Sementara Dini, tetap di kamar hanya dia yang belum mengerti apa yang terjadi disini. Mbah Tamin duduk di teras rumah, kegelapan hutan benar-benar mencekam kala itu. Sri dan Erna berdiri, menunggu, sebelum mbah Tamin menunjuk sesuatu di antara pepohonan.

"awakmu isok ndelok ikuh" (kalian bisa melihatnya)

Halaman:

Editor: Hengky Sulaksono

Tags

Artikel Terkait

Terkini