Kisah Lengkap Sewu Dino, Lebih Horor dari KKN di Desa Penari!

- Jumat, 20 Mei 2022 | 17:25 WIB
Kisah Lengkap Sewu Dino, Lebih Horor dari KKN di Desa Penari! (Twitter: SimpleMan)
Kisah Lengkap Sewu Dino, Lebih Horor dari KKN di Desa Penari! (Twitter: SimpleMan)

Sri hanya mengangguk dan ia tidak membuang rasa segannya seperti yang di perintahkan. Tibalah saat mbah Krasa, mengajukan beberapa pertanyaan yang sama. Mulai dari lahir, weton, penanggalan yang bahkan Sri sendiri bingung untuk menjawabnya. Puncaknya, saat ia menyentuh tangan Sri dan si mbah tersenyum.

"ndok, gelem kerjo ambek mbah" (nak, kamu mau kerja sama saya) Sri pun mengangguk.

"jalok piro, bayaranmu sak wulane" (kamu minta berapa untuk gajimu dalam sebulan?) tanya mbah Krasa.

Sri bingung menjawabnya, kemudian, dengan gugup, ia mengatakannya. "700 ewu mbah, nek saget" (700 ribu nek, kalau bisa)


Sri sempat melirik wanita itu, terlihat ia tetap anggun dengan senyumannya.

"700 ewu" (700 ribu) katanya. "yo opo, nek tak kek'i sak wulane, 5 yuto" (bagaimana bila setiap bulan aku kasih kamu 5 juta) Sri kaget bukan maen, karena gaji PRT tahun itu rata-rata cuma 500 ribu.

Sri pun setuju, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Bahkan ketika si wanita sudah pergi, si pemilik jasa tidak akan memungut uang sepersen pun dari Sri. Hal ini membuat serentetan kejadian ini menjadi semakin aneh. Pekerjaan macam apa yang di gaji setinggi itu, tanya Sri dibenaknya yang membuat ia mulai ragu.

Namun Sri meyakinkan kapan lagi ia mendapat pekerjaan dengan gaji setinggi itu. Dalam hati kecil Sri, ia ingin melihat terlebih dahulu pekerjaan apa yang diberikan kepadanya. Keesokan harinya, ia pergi ke rumah mbah Krasa. Di sana, ia melihat Erna dan Dini, mereka sama-sama terkejut satu sama lain.

Seperti sebelumnya mereka duduk menunggu giliran dipanggil, kali ini mereka akan diseleksi oleh semua anggota keluarga Karsa yang berjumlah 7 orang. Saat tiba giliran Sri dipanggil, ia diberi pertanyaan.

"ngeten mbak, kulo bade tandet, sampean purun, nyambut ten mriki, soale onok pantangan'e nak sampeyan purun, pantangane ra isok di cabut maneh" (begini mbak, saya mau tanya dulu, anda setuju bekerja disini karena ada larangan keras bila anda sudah menerimanya, larangannya tidak akan bisa dicabut) kata seorang wanita yang lebih muda. Umurnya berkisar sekitar 30'an.

Halaman:

Editor: Hengky Sulaksono

Tags

Artikel Terkait

Terkini