Tradisi Grebeg Syawal Cirebon yang Bertahan di Tengah Pandemi

- Kamis, 4 Juni 2020 | 11:39 WIB
Kompleks Pemakaman Gunung Jati, Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Minggu (31/05/2012). (Melly Yustin Aulia)
Kompleks Pemakaman Gunung Jati, Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Minggu (31/05/2012). (Melly Yustin Aulia)

Setiap Idulfitri, masyarakat berziarah ke makam para leluhur yang telah mendahului ke alam abadi. Begitu pun dengan keluarga keraton di seluruh Cirebon mengunjungi kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati. Orang sekitar menyebut tradisi tahunan ini dengan “Grebeg Syawal”. Tradisi ini digelar setelah beberapa hari seusai lebaran Idulfitri.

Pada 8 Syawal tiap tahunnya, Kesultanan Keraton Kanoman menggelar ritual Grebek Syawal. Ribuan Masyarakat Cirebon dan sekitarnya turut mengikuti tradisi ini untuk mendoakan para pemimpin Cirebon terdahulu dan bersilatuhrahmi dengan keluarga Keraton.

Kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati memiliki sembilan pintu dan berbukit. Pintu Teratai merupakan pintu untuk menuju puncak bukit tempat pesarean Syekh Syarif Hidayatullah atau yang terkenal dengan Sunan Gunung Jati. Disitulah keluarga keraton berdoa serta berdzikir. Hanya keluarga keraton dan juru kunci Pemakaman Sunan Gunung Jati saja yang boleh memasuki puncak bukit Gunung Sembung atau Gedung Jinem. Sementara itu, masyarakat umum biasa berdoa di pintu pasujudan.

“Kami melakukan tujuh kali doa bersama, tahlil, dan dzikir di tujuh areal pemakaman mulai dari makam Sunan Gunung Jati hingga makam cicit Sunan Gunung Jati yang menjadi raja Kanoman generasi kedua. Semuanya dilakukan menghadap kiblat, dan diakhiri dengan tutup doa menghadap Pintu Pasujudan sekaligus menutupan kembali pintu tersebut atas izin Sultan,” jelas Ratu Raja Arimbi Nurtina, Juru Bicara Keraton Kanoman seperti yang dikutip dari islamindonesia.id.

Kesembilan pintu gerbang memiliki nama masing-masing, seperti Pintu Gapura, Pintu Krapyak, Pasujudan, Pintu Ratnakomala, Pintu Jinem, Pintu Rararog, Pintu Kaca, Pintu Bacem, dan terakhir Pintu Teratai. Dalam Gedong Jinem, makam Sunan Gunung Jati berdampingan dengan para keluarganya. Terdapat ibunda Sunan Gunung Jati, Ratu Mas Rarasantang. Ada juga Pendiri Cirebon, Pangeran Cakrabuana. Selain itu ada istri Sunan Gunung Jati, Puteri Ong Tien Nio dan lain – lain.

Setelah menghaturkan doa, Keluarga Kesultanan Kanoman melakukan makan bersama. Lalu prosesi Grebek Syawal diakhiri oleh sawer, yakni prosesi pelemparan uang koin kepada peziarah. Uniknya, saat prosesi tersebut para peziarah berebutan untuk mendapatkan secercah uang koin.

Sosok Sunan Gunung Jati

Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati memiliki pengaruh besar terhadap penyebaran Islam di tanah Jawa, khususnya di wilayah Cirebon. Karena itulah, Cirebon terkenal dengan sebutan ‘Kota Wali’.

Pengaruh Sunan Gunung Jati masih terasa sampai saat ini, salah satunya kutipan beliau “Ingsun titip tajug lan fakir miskin” artinya “Saya menitipkan masjid dan fakir miskin” tertulis dimana-mana di seluruh Cirebon.

Halaman:

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

Tags

Terkini

Cara Beli Fan Token $Persib Persib di Socios

Selasa, 27 September 2022 | 14:25 WIB